<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402</id><updated>2012-01-21T11:38:18.949+07:00</updated><category term='Seputar hukum'/><category term='serba serbi'/><category term='CURHAT'/><category term='KLIEN'/><category term='award'/><category term='DIARY'/><category term='LAUNCHING'/><title type='text'>THIS IS MY JOB</title><subtitle type='html'>CURHAT SEORANG PEMBERI JASA HUKUM</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>65</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3206679834383498265</id><published>2012-01-13T10:02:00.001+07:00</published><updated>2012-01-20T13:48:00.644+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>NGGAK BOLEH ADA CORETAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kemarin baru saja saya menemukan klien antik (lagi).&amp;nbsp; Klien ini sebenarnya adalah klien ibu Shasa (mantan Notaris yang sudah pensiun dan menjalin kerjasama dengan saya). Sebut saja namanya ibu Lusi. Jadi, ceritanya ibu Lusi datang ke kantor ibu Shasa buat teken akte wasiat. Sebagai Notaris yang diminta menjadi notaris pembuat aktanya, tentu saja saya ikut hadir karena harus saya yang membacakan aktanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Nah, sebelum akta dibacakan, ibu Lusi minta diadakan perubahan sedikit. Semula di akta disebutkan bahwa 15 persen dari seluruh hartanya mau diberikan kepada Susan, kakaknya, diganti menjadi 20 persen. Lalu, bagian untuk adiknya Saly sebesar 10 persen dikurangi menjadi 5 persen. Perubahan seperti itu biasanya tinggal direnvoi alias dicoret lalu diketik perubahannya di kolom kosong kertas pada akte tersebut. Dan dibawah coretan tersebut, klien akan memberi parafnya. Jadi, notaris nggak mungkin menggantinya dengan kalimat lain tanpa persetujuan klien. Paraf itu adalah bukti klien setuju dengan perubahan tersebut.&amp;nbsp; Tetapi, ibu Lusi nggak mau mengerti dan dia tetap protes. Dia bilang begini :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Saya nggak mau dicoret-coret. Diprint ulang saja." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu Shasa pun menjelaskan bahwa akta ini diprint oleh saya selaku Notaris pembuat akta dan kalau mau diprint di kantor ibu Shasa, hasil cetaknya rada berbeda karena printernya saja berbeda. Tetapi, ibu Lusi tidak mau mengerti. Dia malah minta tanda tangannya ditunda saja sampai akta tersebut diperbaiki. Yeee...kalau ditunda, berarti saya mesti datang lagi ke kantor ibu Shasa. Mana bisa begitu? Memang waktu saya cuma untuk ibu Lusi?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya, ibu Shasa meminta stafnya memperbaiki akta tersebut pakai printernya dia. Untungnya perbaikannya tidak banyak. Dan, untungnya lagi...saya sempat mengirim draft akta tersebut via imel ke imel ibu Shasa. Jadi, draftnya tinggal didownload dan disimpan di word. Lalu diperbaiki.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibu Lusi pun diminta menunggu sebentar karena harus print lagi dari awal. Tapi, dasar lagi apes....entah mengapa printer ibu Shasa tidak mau jalan. Aneh sekali. Staf ibu Shasa sampai panik. Padahal, kemarin dia masih bisa ngeprint. Saya juga ikut bingung. Mana si ibu Lusi ngomong terus, minta ditunda saja teken aktanya. Jelas, saya tolak. Saya tidak mungkin bolak-balik ke kantor ibu Shasa. Letaknya kan lumayan jauh dari kantor saya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya sudah bertekad akan mengajak ibu Lusi ke kantor saya saja kalau printernya ibu Shasa tidak mau berfungsi juga. Biar saya print ulang di kantor saya dan bacain aktanya di kantor saya juga. Tetapi, staf ibu Shasa tidak kehabisan akal. Dia coba pakai printer laser milik ibu Shasa. Padahal printer ini biasanya hanya bisa untuk ngeprint satu lembar kertas. Tidak bisa kertas yang dilipat. Sedangkan, akta harus diprint di kertas A3 yang dilipat dua (dobel). Hasilnya : Butuh kehati-hatian level dewa. Karena setiap kali print halaman berikutnya, kertas itu harus dipegangi dengan lembut biar nggak kejepit. Tahu sendiri kalau kertasnya dilipat itu kan berarti ada dua lembar kertas. Jadi, kadang kertas yang satu sudah masuk ke printer, kertas lainnya nggak ikut masuk. Hasilnya jadi berantakan. Kertas jadi lecek dan nggak keliatan hasil printnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah menghabiskan 2 lembar kertas A3, akhirnya berhasil juga ngeprint tetapi pas di halaman terakhir, printernya mogok. Untung kalimatnya nggak terlalu banyak, sehingga halaman terakhir itu diketik secara manual dengan mesin ketik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akta pun bisa dibacakan pada hari itu. Tetapi, sebelum dibacakan...lagi-lagi ibu Lusi nan rewel itu minta diprint satu set buat dia baca. Staf ibu Shasa pun harus ngeprint satu set lagi tapi menggunakan kertas buram saja. Kalau pake kertas A3 yang dilipat bisa-bisa nggak kelar-kelar ngeprint.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi, saat saya bacakan kalimat demi kalimat dalam akta, ibu Lusi juga ikut membaca akta yang diprint di kertas buram. Dia takut banget kalau ada kalimat yang lewat dan nggak sesuai dengan keinginannya. Astaga naga ngamuk! Benar-benar menjengkelkan ibu Lusi ini. Bisa-bisanya bikin pusing orang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang lebih nyebelin, ibu Lusi ini juga sulit dihubungi. Dia cuma mau kasih nomor telpon rumahnya. Padahal, rumahnya jarang ada orang. Giliran ditanya ada nomor hape nggak, dia ngaku punya hape tapi jarang dinyalakan. Kalau dia ada di rumah, hapenya dimatikan. Jiaaah...ngapain punya hape kalau begitu ya? Staf ibu Shasa sampai bingung gimana menghubungi dia kalau ada hal-hal penting yang ingin disampaikan. Kalau dia nggak di rumah, gimana? Sementara hapenya nggak bisa dihubungi juga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mungkin ibu Lusi memang nggak mau kasih tahu nomor hape. Dia beralasan nggak dinyalakan hapenya. Padahal yang benar adalah dia nggak mau kasih tahu nomornya. Entah karena apa. Mungkin takut diganggu kali. Atau, takut dikerjain sama orang-orang iseng. Tapi kan ini yang nanya staff ibu Shasa. Masa sih nggak mau dikasih tahu juga? Sungguh terlalu.....&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3206679834383498265?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3206679834383498265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3206679834383498265&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3206679834383498265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3206679834383498265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2012/01/nggak-boleh-ada-coretan.html' title='NGGAK BOLEH ADA CORETAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1694246177134009040</id><published>2012-01-06T14:21:00.001+07:00</published><updated>2012-01-06T14:21:28.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN MINTA DIJEMPUT</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Tingkah laku klien memang antik-antik. Suatu hari, saya ketemu klien yang mau buat akta wasiat. Kliennya ini memang sudah cukup tua. Usianya sekitar 73 tahun tapi masih lincah dan ingatannya lumayan cerdas. Sebut saja namanya Ibu Shasa. Kebetulan, saya mendapatkan klien ini dari ibu Lita (bukan nama sebenarnya), seorang notaris senior yang sudah pensiun. Rekan notaris senior ini memang ada kerjasama dengan saya. Bahkan, saya pernah kerja di kantornya sebelum membuka kantor sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jadi, saya cukup kenal dengan ibu Shasa yang merupakan klien lama dari mantan boss saya. Ketika ibu Shasa tahu, saya adalah mantan asisten ibu Lita, dia langsung bertanya. Dimana kantor saya. Saya pun memberikan kartu nama saya. Tapi sejak saat itu, ibu Shasa jadi hobi banget nelpon saya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika dia merasa fee akta yang diminta ibu Lita kemahalan, dia ngedumel sama saya. Dia tanya-tanya berapa fee akta saya kalau saya yang buat akta itu tanpa kerjasama dengan ibu Lita. Saya hanya menjawab kalau fee akta saya sudah pasti beda dengan fee yang diminta ibu Lita. Lalu, saya tekankan bahwa ibu Lita lebih senior dan berpengalaman dari saya, sehingga tidak heran kalau feenya berbeda. Apalagi kami melakukan kerjasama. Otomatis, fee aktanya jadi lebih mahal sedikit karena ada fee konsultasi dengan ibu Lita. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah dijelaskan, ibu Shasa akhirnya setuju dengan fee akta yang diminta ibu Lita. Lalu, dia ngedumel lagi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Fan, kenapa sih you buka kantor nggak bilang-bilang? Mbok ya,&amp;nbsp; waktu baru buka kantor kartu namanya dibagi ke saya. Jadi, saya suruh you aja yang bikin akta-aktanya. Soalnya, ibu Lita itu mahal."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Waduh, saya hanya bisa nyengir mendengar ucapannya. Jelas aja saya nggak mungkin bagi-bagi kartu nama ke kliennya ibu Lita. Itu namanya menyerobot klien orang. Lain halnya, kalau klien itu yang minta kartu nama saya atau bertanya dimana alamat kantor saya. Pasti saya kasih kartu nama saya. Lha, masalahnya kan ibu Lita itu mantan boss saya dan dia mengajak kerjasama pembuatan akta. Masa saya main serobot kliennya begitu saja? Saya juga butuh uang tetapi bukan begitu caranya mendapatkan order. Saya nggak mau merusak hubungan kerjasama saya dengan ibu Lita. Kalau beliau sudah percaya kepada saya, tentu saya harus menjaga kepercayaan itu sebaik mungkin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetapi, akhirnya ibu Shasa mengerti juga saat saya jelaskan bahwa saya nggak mau ambil klien orang. Nggak etis. Dia juga tetap mau membuat akta dengan ibu Lita. Tentu saja, pakai nama saya. Ibu Lita hanya memberikan konsultasinya, tetapi giliran pembuatan aktanya, saya yang buat dan bacakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sayapun berpikir, sudah beres deh urusan dengan ibu Shasa. Tetapi, suatu hari dia kembali ingin buat akte. Saya dan ibu Lita pun menyediakan jadwal kapan ibu Lita bisa datang ke kantor ibu Lita untuk signing. Sebagai notaris yang membuat dan membacakan aktanya, tentu saja saya juga datang ke kantor ibu Lita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, 2 hari sebelum teken akta, ibu Shasa menelpon saya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Fan, saya lagi nggak ada supir nih. You jemput saya ya. Kan kalo ke kantor bu Lita, kamu bisa toh lewatin daerah rumah saya?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ke rumah ibu? Waduh, bu...saya harus muter rada jauh. Lagian saya naik taksi. Nggak ada supir."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Lha, iya...makanya tinggal jemput saya. Muter dikit kan nggak apa-apa."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Tapi bu...saya mau ke Departemen Kehakiman di daerah Kuningan dulu. Ada urusan di sana. Dari situ baru saya ke kantor ibu Lita."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Oh...gitu...lama ya kalo ke sana."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Ya, nggak tentu waktunya. Karena kan tergantung jalanan macet apa enggak. "&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"O ya sudahlah, Saya terpaksa order taksi juga."&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yeee! Saya jengkel-jengkel geli. Mana ada coba notaris jemput kliennya pake taksi? Ada juga notaris yang dijemput klien pake mobil sedan mewah. He he he....Sungguh, saya bingung dengan permintaan ibu Shasa. Rumahnya banyak, duitnya segambreng...lha, masa nggak mau bayar ongkos taksi? Lagian, rumahnya juga nggak jauh-jauh amat dengan kantor ibu Lita. Masih lebih jauh rumah saya. Tapi kok keluarin duit buat bayar taksi saja susah amat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika saya ceritakan hal ini ke ibu Lita, beliau tertawa dan berkata :&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Emang aneh tuh bu Shasa. Masa dia suruh supir saya jemput dia di rumahnya. Orang kaya kok pelit ya?"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hah? Saya ikut tertawa. Astaga! Jadi, dia juga minta ibu Lita menjemputnya? Oalaaah...jangan-jangan dia merasa fee aktanya terlalu mahal jadi nggak mau rugi. Minta dijemput saja. Duh..duh...ya kalo merasa mahal, cari saja notaris lain. Jangan malah minta dijemput. Ada-ada saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1694246177134009040?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1694246177134009040/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1694246177134009040&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1694246177134009040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1694246177134009040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2012/01/klien-minta-dijemput.html' title='KLIEN MINTA DIJEMPUT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5700762625827391843</id><published>2011-09-28T20:53:00.001+07:00</published><updated>2011-09-28T20:56:50.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>MAAF, KANTOR KAMI BUKAN TEMPAT PENITIPAN!</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Beberapa bulan yang lalu,&amp;nbsp; kantor saya didatangi dua orang pria yang&amp;nbsp; ingin amelakukan transaksi jual beli tanah. Sebut aja namanya Sukro dan Andi. Mereka adalah para tetangga teman saya, Sulis. Sukro mengaku sudah kasih uang dp (untuk membeli rumah keluarga Andi) kepada Maryam, ibunya Andi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun, sebelum tanda tangan akte jual beli, ibu Maryam keburu meninggal dunia.&amp;nbsp; Tentu saja, Sukro merasa cemas karena ahli waris ibu Maryam tampaknya tidak berniat menjual tanah tersebut. Hanya Andi yang bisa ia mintai tolong untuk menjual tanah tersebut. Kebetulan Andi adalah anak pertama dan dia cukup disegani adik-adiknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka Andi pun datang membawa sertifikat itu berikut dokumen lainnya ke kantor saya.&amp;nbsp; Setelah saya periksa, ternyata masih banyak dokumen yang kurang. Apalagi yang mau dijual tanah warisan. Andi pun berjanji akan melengkapi dokumen yang kurang. Namun, hingga akhir bulan, dokumen tersebut tak jua dilengkapi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya mulai curiga, kenapa susah amat melengkapi dokumen yang diminta. Alasannya pun macam-macam, lagi ke luar negeri, lagi ada tugas di lapangan, belum sempat memeriksa lemarinya, dll. Sementara Sukro meminta saya untuk tetap menahan sertifikat asli milik ibu Maryam karena dia&amp;nbsp;&amp;nbsp; takut Andi tidak jadi menjual tanah tersebut. Bisa rugi uang dp dong.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Alhasil, saya menelpon Andi dan memberi ia batas waktu sampai awal bulan berikutnya. Kalau tidak bisa melengkapi sisa dokumennya maka saya tidak berani membuat akte jual belinya.&amp;nbsp; Saya juga jelaskan ke Sukro bahwa saya tidak bisa terlalu lama menahan sertifikat orang. Kalau hilang, saya yang harus ganti toh. Masalah apakah Sukro sudah bayar dp lebih dulu itu kesalahannya sendiri. Kenapa berani kasih dp tanpa tanda tangan akte pengikatan jual beli? Hanya ada kuitansi saja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak lama setelah itu, Andi datang ke kantor saya dan mengambil sertifikatnya. Tapi sebelumnya, karena permintaan Sukro, saya sudah kirim Sms memberitahu Sukro bahwa hari itu sertifikat akan diambil Andi.&amp;nbsp; Sukro pun meminta saya untuk menahan Andi agar menunggu di kantor saya. Mungkin, dia ingin meminta kepastian dari Andi mengenai uang dp yang sudah dia berikan ke almarhumah ibu Maryam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tentu saja permintaan itu tak bisa saya penuhi. Saat itu sudah maghrib. Sudah lewat jam kantor. Masa saya harus menunggui tamu lama-lama.&amp;nbsp; Lagi pula, Andi juga ingin segera pulang. Apa hak saya untuk menahannya? Sementara Sukro juga tidak ada usaha untuk segera ke kantor saya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka saya biarkan Andi pulang dengan membawa sertifikat dan semua dokumen lainnya. Dan, apa yang dikatakan Sukro ketika tahu kejadian itu. Dia mengadu kepada Sulis. Menurut dia, seharusnya saya bantu dia dengan menahan Andi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lho..lho...sudah hampir sebulan sertifikat Andi nginep di kantor saya dengan berbagai resiko, tapi dia masih bilang saya tidak mau bantu dia. Wah, ini namanya ngelunjak. Kantor saya kan bukan tempat penitipan sertifikat. Kalau hilang, saya yang harus ganti. Klien mana mau tahu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masalah dia akan rugi karena sudah bayar dp, itu kan kesalahannya sendiri. Mengapa terlalu percaya sama orang? Jangan hanya karena harga tanahnya murah lalu bernafsu beli tanah dan bayar dp tanpa teken surat apapun. Apalagi si pemilik tanah sudah sakit parah. Seharusnya dari awal Sukro memproteksi dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi begitulah manusia. Panik sendiri, malah menyalahkan orang lain tidak mau bantu, dsb nya. Padahal, dia bisa saja meminta Andi untuk mengembalikan uang dp nya. Beres toh.Tidak usah ngotot mau beli tanah tersebut karena merasa sudah bayar dp nya. Tapi, tentu saja Andi tidak bodoh karena dia merasa tidak terima uang dp. Yang menerima adalah almarhumah ibu Maryam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari kasus ini, saya belajar satu hal untuk tidak mau menerima titipan dokumen apapun sebelum semuanya lengkap, terutama dalam hal jual beli tanah yang bersertifikat. Meskipun sudah menyerahkan sertifikat asli tetapi bila dokumen lainnya belum lengkap, lebih baik jangan diterima dulu. Tunggu lengkap semua baru saya terima. Apalagi kalau melihat gejalanya si klien tidak mau jual tanahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5700762625827391843?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5700762625827391843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5700762625827391843&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5700762625827391843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5700762625827391843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/09/maaf-kantor-kami-bukan-tempat-penitipan.html' title='MAAF, KANTOR KAMI BUKAN TEMPAT PENITIPAN!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1964739677928731734</id><published>2011-09-17T13:34:00.000+07:00</published><updated>2011-09-17T13:35:08.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>BATAL TEKEN, GARA-GARA CAMER</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Kemarin, saya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan bikin bete.  Jadwal tanda tangan dari jam 10.00 pagi molor jadi 10.30. Memang cuma  setengah jam tapi tetap saja bikin bete. Setelah akta dibacakan,  dijelaskan kepada para klien, eh..timbul pula  protes dari salah satu  pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ceritanya begini. Ada sepasang muda mudi mau  menikah. Sebut saja si cewek namanya Andin. Si cowok, Toni.  Mereka  ingin membuat akte perjanjian kawin mengenai pisah harta. Saat  dibacakan, dijelaskan semuanya oke dan manggut-manggut ngerti. Ditanya  lagi, apakah ada yang mau dijelaskan lagi? Apa ada yang belum mengerti?  Semuanya geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akta pun diteken oleh Andin dan Toni. Tapi, mendadak si Toni ngomong : "Saya mau baca dulu aktenya. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya heran.   Ada apa lagi? Tapi, saya sodorkan juga minit aktenya. Sambil bilang begini :&lt;br /&gt;"Tadi kan sudah dibacakan oleh saya, tetapi kalau bapak mau baca sendiri ya silakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak  bu, saya nggak mau baca sendiri. Saya mau minta copynya. Saya mau kasih  liat notaris saya. Saya kan gak ngerti bahasa hukum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho? Saya memandang Toni dengan bingung. Tadi katanya mau baca, sekarang bilang mau minta drafnya. Piye toh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau dicopy, kenapa sebelum teken akte bapak gak minta draftnya dulu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya itulah, calon mertua saya yang suruh ke sini buat tanda tangan akte. Padahal saya belum baca draftnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh!  Saya makin heran. Apalagi proses konsultasi bukan saya yang menangani  karena klien ini saya peroleh dari seorang notaris senior yang sudah  pensiun, dan kami mengadakan kerjasama pembuata akta-akta kliennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi,  yang menerima konsultasi si notaris senior. Yang membuat akta adalah  saya dengan berdasarkan data-data yang saya peroleh dari notaris senior  tsb.   Ketika saya tanyakan kepada notaris senior rekanan saya tsb,  ternyata beliau juga tidak tahu kalau si Toni terpaksa datang untuk  teken akte Perjanjian Kawin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh notaris senior, isi akte  Perjanjian Kawin tsb dijelaskan lagi dari awal sampai akhir, tetapi  tetap saja si Toni gak percaya. Dia tetap minta copy draft aktanya untuk  dibaca oleh notaris kenalannya. Dia takut kalau kami memberatkan  dirinya karena kami kan notaris kenalan calon mertuanya. Waduh,  segitunya. Notaris kan harus netral. Tidak boleh memihak klien.  Lagipula, akte perjanjian kawin yang saya buat isinya juga standard.  Tidak ada klausul yang memberatkan salah satu pihak. Tapi karena dia  tetap ngotot minta copy draftnya ya sudah kami berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minit  akta yang sudah ditandatangani pun belum bisa diberi nomor karena belum  pasti setuju apa enggak. Bahkan, Toni bilang, jangan dibuat salinan ya,  bu. Tunggu kabar dari saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siangnya, notaris senior menelpon  calon mertua si Toni. Ternyata si calon mertua memang rewel dan  perhitungan sehingga Toni pun ketakutan sendiri. Dia ikutan perhitungan  juga. Aduh, mau kawin aja kok ribet gitu ya? Jangan sampai, gara-gara  disuruh teken Perjanjian Kawin, Toni dan Andin malah gak jadi menikah.  Kan kasihan gitu lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, saya ditelpon oleh asisten  notaris senior. Dia bilang : "Toni gak setuju dengan isi akta perjanjian  kawin itu, bu. Dia minta dibatalkan saja. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah kalau begitu.  Kalau klien gak setuju, masa dipaksa. Jadi, hari Senin saya harus  merobek minit akte tersebut di hadapan Toni dan Andin agar mereka  percaya bahwa minit akta itu sudah tidak bisa digunakan lagi.  Toh, saya  belum memberi nomor dan tanggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, saya jadi rugi waktu  dan energi. Sudah cape-cape buat aktanya. Sudah berbusa-busa membacakan  aktanya..tahu-tahu minta dibatalin. Duh, ampun deh! Mestinya,  klien-klien yang hobi membatalkan kayak gini tetap dikenakan fee  pembatalan. Biar mereka gak seenaknya aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, dari awal  Toni menolak datang untuk tanda tangan akta. Jangan sudah dibacakan,  dijelaskan, diteken pula, eh..minta dibatalkan. Apa susahnya kalau dia  ngomong langsung dengan sang camer bahwa dia keberatan teken akte  Perjanjian Kawin tsb karena belum baca draftnya. Atau, mungkin dia  merasa tidak enak hati sama si camer? Gak enak hati sih oke-oke aja,  tetapi mbok ya coba pikirkan juga perasaan notaris yang sudah cape-cape  bikinin aktenya. Sigh mode on.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1964739677928731734?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1964739677928731734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1964739677928731734&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1964739677928731734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1964739677928731734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/09/batal-teken-gara-gara-camer_17.html' title='BATAL TEKEN, GARA-GARA CAMER'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4820460082136030645</id><published>2011-08-18T21:45:00.005+07:00</published><updated>2011-08-22T16:23:48.919+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN NGEYEL</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt; Memiliki profesi yang bergerak dibidang pemberian jasa, termasuk jasa hukum  pembuat akta memang tidak mudah. Ada saja, klien-klien yang ngeyel. Tidak mau tahu aturan yang berlaku. Selalu beranggapan bisa pakai uang untuk memperlancar urusan. Seperti yang saya alami baru-baru ini. &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seorang klien (sebut saja namanya Ny. Ani) ingin membuat sebuah akte pendirian PT. Kebetulan, Ny. Ani ini adalah adik dari salah seorang sahabat saya sewaktu masih kuliah dulu.  Jauh-jauh hari sebelum tanda tangan akta, Ny. Ani sudah konsultasi via phone mengenai keinginannya membuat akte pendirian PT. Dan, dalam konsultasi itu, saya juga sudah memberi saran-saran hukum, termasuk soal nama PT.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nama PT jangan yang berbau bahasa asing karena sering ditolak. Nama PT tidak boleh singkatan, dll. Waktu dijelaskan, sepertinya Ny. Ani mengerti. Tetapi, pada saat dia menyerahkan nama PT nya, ada kata bahasa Inggrisnya. Ketika diingatkan, bahwa ada kemungkinan nama ditolak, dia tetap ngeyel.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Yasuds, saya booking namanya di Sisminbakum (Sistem Administrasi Badan Hukum). Bookingnya juga secara online karena memang sudah diatur demikian oleh pihak Departemen Kehakiman. Dua hari kemudian, muncul pemberitahuan dari Sisminbakum bahwa nama PT ditolak karena dianggap satu grup dengan perusahaan lain yang nama depannya sama dengan nama PT yang diajukan. Bila tetap ingin memakai nama PT itu, harus ada surat dari PT yang namanya mirip itu bahwa mereka tidak keberatan nama PT nya mirip dengan nama PT mereka.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jelas tidak mungkin meminta surat tersebut karena memang tidak ada hubungan apapun. Ny. Ani pun - meski kecewa - mau menerima penolakan tsb. Kemudian, dia mengajukan nama lainnya. Kali ini ada kata Finansia. Sebenarnya saya sudah mengingatkan lagi, kalalu nama Finansia ini ada kemungkinan ditolak. Bahkan, saya juga usulkan memakai nama yang umum saja misalnya : PT. HARAPAN ABADI JAYA. Tetapi Ny. Ani menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dugaan saya benar. Setelah dibooking namanya, dua hari kemudian muncul penolakan dengan alasan : nama financial pada PT itu merupakan jenis usaha keuangan non perbankan. Sedangkan, PT klien saya itu bergerak di bidang jasa konsultasi. Yang artinya merupakan perseroan dengan usaha umum. Bukan khusus, seperti usaha keuangan non perbankan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Meski dengan sedikit ngedumel, Ny. Ani kembali mengajukan nama lain. Tetapi,  entah mengapa pemberitahuan dari Sisminbakum kali ini agak lama. Sampai hari ketiga belum ada kabar. Ny. Ani mulai tidak sabar. Dia menganggap saya tidak bisa membantunya. Menurut Ny.Ani, seharusnya saya bisa mencari channel di Departemen Kehakiman untuk menggolkan nama perseroan yagn ia inginkan. Ia kecewa karena sudah 2 kali ditolak.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tentu saja saya sedikit jengkel mendengarnya. Tetapi dengan sabar, saya jelaskan bahwa bila nama PT ditolak oleh Kehakiman, tidak bisa dikutak-katik lagi. Sudah kartu mati. Dan, saya tidak pernah dengar ada channel bisa menggolkan nama PT.   Saya sudah tanyakan kepada teman-teman sesama notaris. Tidak ada yang pernah mendengar bisa menggolkan nama PT yang sudah ditolak. Karena memang ada PP tentang nama perseroan terbatas.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setelah mendengar penjelasan saya, tampaknya Ny. Ani masih merasa tidak puas. Apalagi dia ingin membuat NPWP atas nama PT, kop surat, dll. Padahal, sudah jelas kesalahan dari awal ada di pihak dia. Saya sudah ingatkan untuk mencari nama PT yang umum saja. Kalau dari awal, dia memakai nama PT yang umum-umum, pasti sudah gol.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ny. Ani juga bilang bahwa dia  sudah cek di internet dan banyak nama PT dalam bahasa Inggris. Yah, benar. Tapi itu PT-PT yang lama. Dulu, lebih bebas dan mudah. Sekarang, peraturannya jauh lebih ketat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya, Ny. Ani terdiam setelah saya jelaskan PP mengenai nama PT.  Saya lega tapi tetap merasa cemas karena nama PT ke tiga yang diajukan belum juga diapprove. Hampir setiap 2 jam, saya cek di Sisminbakum. Pasalnya, Ny. Ani sudah tidak sabar. Dia ingin membuat NPWP dan keterangan domisili. Suaminya malah seperti memaksa saya agar dalam minggu ini nama PT nya sudah diapprove. Waduh, memangnya saya yang punya Departemen Kehakiman? Kan sudah dijelaskan bahwa persetujuan nama kadang bisa sampai seminggu. Apalagi ini sudah 2 kali namanya ditolak melulu.  Saya hanya bisa menghela nafas  menghadapi klien model begini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Untunglah sore harinya, ketika saya cek kembali, nama PT itu sudah diapprove. Hhh..lega sekali....So, siapa bilang jadi Notaris itu enak? Kalau ada satu klien saja yang ngeyel, bikin kepala pusing tujuh kellling.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4820460082136030645?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4820460082136030645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4820460082136030645&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4820460082136030645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4820460082136030645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/08/klien-ngeyel.html' title='KLIEN NGEYEL'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8746804138554783803</id><published>2011-07-18T21:07:00.002+07:00</published><updated>2011-07-18T21:18:05.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KLIENKU, GURU LES KU</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Jum'at yang lalu, seorang tetangga saya (sebut saja namanya ibu Lisa) datang ke rumah yang merangkap kantor. Dia membawa sebuah surat yang ingin dilegalisasi. Surat itu sudah ditandatangani oleh suaminya (sebut namanya bapak Lukman).  Ketika saya tahu keinginan untuk melegalisasi surat itu, saya bilang padanya bahwa bapak Lukman harus tanda tangan surat itu di hadapan saya. Tidak bisa begitu saja. Namanya juga melegalisasi tanda tangan pak Lukman yang artinya : saya melihat sendiri bapak Lukman yang menandatangani surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diberi penjelasan begitu, ibu Lisa berjanji akan datang lagi bersama suaminya. Mungkin agak sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya, ibu Lisa dan pak Lukman datang membawa surat yang belum diteken pak Lukman. Ketika saya melihat pak Lukman, saya langsung merasa pernah melihat wajahnya. Kayaknya ini guru les Bahasa Inggris saya deh. Namanya juga persis dengan nama salah seorang guru les saya waktu masih ngeles di sebuah tempat kursus bahasa Inggris     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, waktu saya tanyakan apakah pak Lukman pernah memberi les di tempat kursus PPIA cabang Pramuka dan seangkatan dengan bapak Anto (guru les yang lainnya), dia membenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, dunia begitu sempit. Bisa-bisanya saya ketemu dengan guru les saya puluhan tahun yang lalu. Tapi, tentu saja pak Lukman tidak ingat saya.  Wong, muridnya kan banyak. Lagian, dia ngajar saya cuma 3 bulan. Setelah naik level, saya diajar guru yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya masih ingat wajah-wajah guru les saya yang lainnya. Nama-nama mereka juga masih saya ingat. Padahal sudah lama banget. Hi hi hi...Mana sangka ya....klien saya ternyata guru les saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah besok-besok, siapa lagi yang akan jadi klien saya? Apakah guru-guru semasa sekolah dulu akan menjadi salah satu klien saya? Atau...barangkali ...teman-teman sekelas waktu les bahasa Inggris? Tidak ada yang bisa menebak....&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8746804138554783803?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8746804138554783803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8746804138554783803&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8746804138554783803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8746804138554783803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/07/klienku-guru-les-ku.html' title='KLIENKU, GURU LES KU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3577501060016188240</id><published>2011-07-08T10:30:00.002+07:00</published><updated>2011-07-08T10:48:09.675+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>LAGI BACA AKTA, DILIATIN KLIEN....</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari yang lalu, saya dan seorang staff pergi ke kantor klien karena ada penandatanganan akta sewa menyewa. Salah satu klien (si pemilik ruko) adalah seorang bapak tua yang rambutnya sudah beruban. Umurnya sekitar 60 an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah basa-basi sejenak, saya mulai membacakan akta tersebut. Sudah menjadi kebiasaan saya, sehabis membacakan satu atau dua pasal, saya berhenti sejenak untuk menanyakan kepada para pihak, apakah ada yang kurang dimengerti atau barangkali mereka ada pertanyaan. Nah, pada saat itulah, saya melihat si bapak tua ini hanya tersenyum tipis sambil memandangi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, ketika saya kembali mengangkat kepala dan menanyakan apakah ada yang mau ditanyakan, saya melihat si bapak (lagi-lagi) sedang memandangi saya sambil sedikit senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya nggak mau terlalu memikirkan tingkah aneh si bapak. Sampai tanda tangan selesai, staf saya cerita kalau si bapak tua itu sejak awal saya bacakan akta cuma ngeliatin aaya aja. Bukannya menyimak dengan baik apa yang saya bacakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staff saya bilang : "Itu bapak rada aneh ya, bu? Masa dia ngeliatin ibu kayak orang norak gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum geli mendengar ucapan staff saya. Yah, namanya juga klien. Ada saja yang aneh tingkahnya. Mungkin  dia kagum melihat saya. Hehehee..atau....saya mirip dengan puterinya kali. Barangkali lho....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...mestinya kalo ada klien yang hobi ngeliatin saya (lagi), saya bilang aja gini ya : "Kenapa pak? Kagum ya sama saya?" Ha ha ha.....      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3577501060016188240?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3577501060016188240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3577501060016188240&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3577501060016188240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3577501060016188240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/07/lagi-baca-akta-diliatin-klien.html' title='LAGI BACA AKTA, DILIATIN KLIEN....'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2499406287212031820</id><published>2011-06-27T15:02:00.002+07:00</published><updated>2011-06-27T15:50:28.100+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>MAAF, TIDAK TERIMA CALO</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sabtu kemarin, saya sedang asik ngeblog ketika ponsel CDMA saya berbunyi nyaring. Seorang bapak menelpon saya. Katanya, dia ingin ketemu saya untuk mengantarkan sertifikat rumah dan dokumen lainnya. Dia tahu nomor ponsel saya dari seorang teman (sebut saja namanya Mery). Memang sih, beberapa waktu lalu Mery pernah bilang ke saya mengenai tetangganya yang mau buat AJB di kantor saya. Tetangganya ini sudah meninggal dunia dan para ahli warisnya ingin menjual tanah warisan tersebut.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya tanya pada bapak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, bapak ..ahli waris dari pak Ali ya?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Saya pak Rt-nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, mengapa yang datang bukan ahli warisnya saja?" Tanya saja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka tinggalnya jauh. Jadi, saya yang harus menyerahkan suratnya ke ibu. Selain itu saya juga yang mewakili mereka untuk konsultasi dengan ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh banget. Masa surat sepenting sertifikat tanah dititipi ke pak RT? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, pak..seharusnya yang mengantar surat sepenting itu adalah si ahli waris sebagai pihak yang berhak. Konsultasi juga harus mereka yang datang agar jelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak RT terdiam lama. Lalu dia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah kalo begitu bu...Saya pikir bisa diwakilin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya memang lebih suka klien datang langsung ketemu saya. Kalau bukan ybs, bisa-bisa salah pengertian. Saya jelasin A, dikasih tahu B. Lagi pula, saya kok, mencium 'hawa' yang aneh di sini. Mana ada pak RT yang mau repot-repot ketemu Notaris cuma untuk mewakili warganya konsultasi urusan jual beli tanah? Lalu, apakah ada orang seceroboh itu memberikan sertifikat asli tanahnya ke pak RT? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah pak RT nya demikian baik hati kepada warganya? Atau...apakah ada udang dibalik bakwan? Entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, saya pernah kedatangan staff Kelurahan yang ingin jadi calo. Dia bawa klien untuk saya, lalu setelah fee akte dibayar dia malah minta bagian. Waduh, kalau tahu dari awal lebih baik saya nggak terima saja tuh klien. Soalnya, saya nggak suka pake jasa calo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, fee yang mereka minta seenaknya dewe. Belum lagi, mereka suka memaksa Notaris untuk membuatkan akte tanpa peduli apakah akte itu menyimpangi peraturan atau enggak. Kadang, dokumen nggak lengkap pun di'paksa' tetap bisa buat aktenya. Saya tahu dari pengalaman para senior saya yang pernah memakai jasa calo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm...apakah perlu dipasang papan kecil di kantor saya dengan tulisan : MAAF, TIDAK TERIMA CALO?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2499406287212031820?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2499406287212031820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2499406287212031820&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2499406287212031820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2499406287212031820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/06/maaf-tidak-terima-calo.html' title='MAAF, TIDAK TERIMA CALO'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-967693107207828454</id><published>2011-05-27T22:01:00.005+07:00</published><updated>2011-05-27T22:25:00.006+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>PAK RT MINTA 15 JUTA???</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Hari ini kedatangan klien yang minta dibuatkan AJB (Akta Jual Beli). Tetapi, surat-suratnya tidak lengkap. Tidak ada sertifikat karena memang belum pernah diurus sertifikatnya. Tidak ada IMB. Hanya ada PBB dan surat jual beli dibawah tangan yang ditandatangani oleh RT, RW plus Lurah, Camat sebagai saksi. Status tanah juga tidak jelas. Hanya disebut tanah garapan. Tentu saja, saya nggak berani buat AJB nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya usulkan kepada klien untuk membuat AJB nya di bawah tangan saja dan disaksikan Lurah dan Camat. Tetapi, klien saya bilang kalau dia sudah pergi ke pak RT untuk dibuatkan AJB nya. Hanya saja, pak Rt minta 15 juta. Katanya itu untuk RW, Lurah dan Camat juga. Dan, nggak bisa ditawar. Gak boleh kurang sedikitpun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, klien saya menanyakan berapa fee AJB nya bila dibuat di kantor saya. Saya sebutkan sejumlah angka minimal. Dia kaget. Kok, fee saya malah jauh lebih murah. Sementara pak RT minta 15 juta. Astagaa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelaskan, begitulah pak RT di negara tercinta ini. Kadang suka aji mumpung. Suka saenake dewe. Walaupun gak semua pak RT seperti itu.  Tetapi karena satu dua oknum jadi merusak citra seorang Ketua RT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, klien saya bermaksud menemui pak Lurah saja tanpa melalui pak RT lagi. Saya pun setuju dengan niatnya. Lebih baik begitu, daripada ditodong 15 juta. Asal, pak Lurahnya juga nggak neko-neko saja. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-967693107207828454?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/967693107207828454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=967693107207828454&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/967693107207828454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/967693107207828454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/05/pak-rt-minta-15-juta.html' title='PAK RT MINTA 15 JUTA???'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-607699363236519990</id><published>2011-03-25T20:58:00.003+07:00</published><updated>2011-03-25T21:11:27.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KONSULTASI DI DEPAN PINTU PAGAR</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang klien datang ke rumah saya pada jam 8 malam. Saya yang sedang asik ngenet dan bw jadi merasa sedikit terganggu. Tetapi, demi sopan santun, saya temui juga tuh klien. Kebetulan pintu pagar rumah sudah digembok. Saya bermaksud membuka pintu pagar tetapi klien itu ngotot gak mau masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang cuma mau ambil copy surat-surat tanahnya saja. Saya pun ke dalam sebentar mengambilkan surat yang ia maksud. Tetapi setelah surat diserahkan, dia masih saja ngajak saya ngobrol. Buntutnya, bukan hanya ngobrol tetapi malah konsultasi. Astagaaa! Masa sih nanya-nanya soal hukum di depan pintu pagar? Saya pun mendesak dia untuk masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula dia tidak mau masuk juga. Karena lagi buru-buru, mau pergi lagi. Tetapi, kali ini saya yang ngotot. Saya bilang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu, kalau mau konsultasi sebaiknya masuk ke dalam rumah. Enggak enak dilihat orang-orang yang lewat. Lagian, ibu mau masalah yang ibu tanyai didengar tetangga kiri kanan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru deh, setelah saya ngomong begitu, si ibu bersedia masuk ke dalam rumah. Duuh, papa saya sampai ngedumel (tentu saja setelah dia pulang) : "Itu klien kagak sopan banget sih. Masa konsultasi di depan pagar rumah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nyengir. Begitulah klien. Adaaaa aja ulah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-607699363236519990?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/607699363236519990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=607699363236519990&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/607699363236519990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/607699363236519990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/03/konsultasi-di-depan-pintu-pagar.html' title='KONSULTASI DI DEPAN PINTU PAGAR'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8780520226247615982</id><published>2011-01-24T20:11:00.002+07:00</published><updated>2011-01-24T20:42:02.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>DIMINTA JADI PIHAK KETIGA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Pagi-pagi belum sempat sikat gigi dan mandi, sudah ditelpon pak Ali (bukan nama sebenarnya), bapaknya temanku. Setelah basa-basi sejenak, pak Ali menjelaskan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fanny, maaf ya...Oom menganggu nih..pagi-pagi udah telpon."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, gak papa." Jawab saya sambil mengucek mata. Duh, belek di mata aja masih nempel nih. Belum sempat dibersihkan. Tapi udah ditelpon orang yang mau konsultasi. Inilah resikonya kalo rumah dan kantor jadi satu. Mana hari ini saya telat bangun akibat semalam begadang lantaran keasikan ngeblog dan nulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gini, Fan..Saya punya rumah warisan dari orang tua. Rumah itu ditempati oleh salah seorang adik saya. Sekarang rumah itu mau dijual. Tapi, adik saya yang nempatin rumah itu gak sepakat soal harga jual rumahnya dengan adik-adik saya yang lain, termasuk dengan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya?" Tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya maksudnya..yang satu mau jual dengan harga sekian tapi yang lain gak setuju. Jadi ada yang mau jual dengan harga rendah, ada yang mau jual dengan harga tinggi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, lalu apa yang bisa saya bantu, Oom?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gini...karena ga ada kesepakatan soal harga jual, Fanny bisa gak jadi pihak ketiga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pihak ketiga? Maksudnya apa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, Fanny jadi pihak ketiga gitu. Jadi penengah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penengah gimana, Oom? Kan gak ada yang ribut-ribut. " Saya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya penengah soal harga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamaak! Saya melongo. Emang salah satu kerjaan Notaris jadi Penengah harga jual beli gitu? Haiyaa...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waduh, Oom...kalo soal harga jual ya mesti kesepakatan aja. Notaris gak bisa ikut campur. Paling saya cuma bisa bilang harga jual dilihat dari NJOP yang ada di PBB aja. Atau..sesuai harga pasar aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh..jadi gak bisa nengahin gitu ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, menengahi bisa aja tapi kalo masing-masing ngotot soal harga jualnya ya gak bisa, Oom. Itu biar dirundingkan aja sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo...gitu ya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dijelaskan begitu, pak Ali  mengakhiri percakapan. Saya pun cuma bisa cengir kuda lumping. Aneh-aneh aja. Hi hi hi...Tapi, ambil positifnya aja deh. Setidaknya, saya  jadi punya bahan postingan blog ini yang sudah sebulan gak di update. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8780520226247615982?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8780520226247615982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8780520226247615982&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8780520226247615982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8780520226247615982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2011/01/diminta-jadi-pihak-ketiga.html' title='DIMINTA JADI PIHAK KETIGA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8576880505924691742</id><published>2010-12-16T21:33:00.004+07:00</published><updated>2010-12-16T21:59:03.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>NOTARIS X LEBIH MURAH FEE-NYA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Suatu hari, seorang klien datang ke kantor saya. Minta dibuatkan perjanjian sewa menyewa. Ketika dia tanya fee aktanya, dia langsung bilang : "Gak bisa kurang,bu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menjelaskan bahwa harga akta tersebut sudah murah karena memang sejak tahun 2007 belum pernah saya naikkan. Tetapi si klien tidak mau tahu. Dia malah bilang : "Kok, notaris X lebih murah ya? Dia kasih harga Rp...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget. Buseet, gak salah tuh harga aktanya segitu? Murah amat ya. Tetapi, saya tidak mau terpancing. Saya hanya senyum dan berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, fee akta notaris memang berbeda-beda. Di kantor saya, fee untuk akta sewa memang segitu. Tetapi bila ibu keberatan dengan fee tersebut, tidak apa-apa. Ibu bisa buat akta di kantor notaris X itu. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang klien mengangguk-angguk mendengar penjelasan saya. Lalu, dia pun mengambil kembali dokumennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya ceritakan hal ini kepada seorang teman Notaris, dia bilang : "Hati-hati, ada klien yang memang suka pake taktik biar dapat fee semurah mungkin. Gua juga pernah tuh ketemu klien kayak gitu. Bilang Notaris anu lebih murah. Lha, kalo emang lebih murah, kenapa dia ke kantor gue coba? Kan bisa aja, dia mengada-ada. Padahal, intinya dia cuma ingin kita akhirnya ngasih harga murah karena takut dia lari ke notaris lain."    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...benar juga sih. Klien kan manusia juga. Bisa saja demi mencapai tujuannya mendapatkan harga yang semurah mungkin, dia asal ngomong kalo notaris tertentu fee nya sekian. Kalau memang benar begitu, kenapa dia ke kantor kita? Kenapa tidak ke kantor notaris yang fee-nya murah saja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik yang sungguh kuno sebenarnya, karena itu sebagai notaris memang  harus bisa bersikap bijak dan  tidak mudah percaya pada ucapan klien. Apalagi kalau ketemu klien yang pinter dan punya bakat nipu. &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8576880505924691742?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8576880505924691742/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8576880505924691742&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8576880505924691742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8576880505924691742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/12/notaris-x-lebih-murah-fee-nya.html' title='NOTARIS X LEBIH MURAH FEE-NYA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-6012381633468734383</id><published>2010-12-06T11:35:00.002+07:00</published><updated>2010-12-06T11:58:30.894+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>BILANG AJA, MINTA UANG ROKOK!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari yang lalu saya bete banget ketika mendapat laporan dari staff saya tentang kenaikan biaya perangko untuk mengirim laporan bulanan PPAT. Setiap bulan, selalu naik ongkos kirimnya. Anehnya,kenaikan biaya itu tidak tercantum di bukti pembayaran. Memang sih naiknya tidak besar. Tetapi, kalau tiap bulan naik, apa nggak curigation? Something wrong nih! Batin saya kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kesal lagi, staff saya yang tergolong manusia super pendiam ini gak punya inisiatif untuk bertanya. Kenapa naik terus tuh biaya pengirimannya? Ketika saya tanyakan, "Kenapa kamu nggak nanya sama petugas di kantor pos?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dengan kalemnya menjawab : "Kali itu biaya pajaknya, bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaganagasaki hiroshima! Mana ada biaya pajak sih? Wong, jelas-jelas tertulis biaya pengiriman sekian, plus HTNB sekian. Bingung juga deh apa itu HTNB. Mungkin sejenis pajaknya kali. See, berarti kan gak ada biaya lainnya. Masa disuruh bayar lebih, dia diam saja. Gak bisa nanya alasannya kenapa bayar lebih. Apa mentang-mentang bukan uangnya sendiri jadi cuek bebek melenggang pergi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh..duh..saya nyaris meledak saking kesalnya sama staff yang satu ini. Apa-apa mesti diajarin. Kalau kerja sudah seperti robot saja. Kalau nggak disuruh nanya, ya nggak nanya. Alamaak!!! Kalau nggak kasihan sama dia, rasanya sudah mau tak PHK. Tetapi, saya nggak tega plus dia sebenarnya staff yang jujur walau suka tulalit dot com. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, saya cuma bisa ngomel dan memberi pengarahan agar rajin bertanya dan punya inisiatif dalam bekerja. Saya ajarin dia untuk bertanya dulu kepada petugas kantor pos. Berapa fee pengiriman untuk satu amplop surat untuk wilayah Jakarta dengan jenis pengiriman non kilat? Lalu, setelah tahu fee nya, tinggal hitung berapa surat yang mau dikirim. Terus dikalikan dengan fee nya. Jadi, kalau diminta bayar lebih, bisa berargumen. Kenapa mesti bayar sekian, padahal biaya pengiriman per surat sekian? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sebenarnya saya sudah tahu kenapa fee pengiriman naik terus? Apalagi kalau bukan uang rokok. Lha, ayah saya saja kalau bayar pajak ke kantor pos mesti melebihi uang pembayaran kok. Katanya buat uang rokok. Nah, untuk biaya kirim surat ternyata juga kena uang rokok. Tetapi, seperti biasa...mereka malu meminta terus terang. Kebetulan ketemu staff saya yang tulalit dot com, klop deh. Uang rokok naik terussss. Emang sih nilainya gak seberapa, tetapi caranya itu lho menyebalkan. Kenapa gak ngomong aja gini : "Mbak, lebihin deh! Buat uang rokok nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu kali ya kalau terus terang minta uang rokok. Jadi ketahuan mentalnya seperti apa? He he he..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-6012381633468734383?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/6012381633468734383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=6012381633468734383&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6012381633468734383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6012381633468734383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/12/bilang-aja-minta-uang-rokok.html' title='BILANG AJA, MINTA UANG ROKOK!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4503620673189396968</id><published>2010-11-22T21:55:00.004+07:00</published><updated>2010-11-23T11:27:20.471+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>SUSAHNYA CARI MESIN KETIK MANUAL</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari lalu, mesin ketik manual lama saya rusak berat. Tali apanya tuh putus. Besi untuk mengganjal kertas agar tidak melengkung ke atas pada waktu diketik copot (kalau yang ini sih sudah rada lama copotnya). Setiap habis mengetik satu huruf seringkali spasinya tidak berfungsi. Harus dipencet/ditekan berkali-kali baru bisa jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nggak tahu kenapa mesin ketik manual saya yang bermerek Olimpia tipe SG 18 inci ini sering banget rusak. Sejak dibeli tahun 2003, sudah 4 kali servis. Padahal jarang banget dipakai. Saya mulai sering memakai mesin ketik ini 3 tahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya memang dapat barang jelek. Sebab sejak dibeli adaaa aja kerusakannya. Dan, setiap kali abis diservis langsung tokcer. Tapi gak lama kemudian ngadat lagi. Kadang, saking sebelnya saya suka cuekin saja. Tunggu sudah bener-bener parah baru saya servis. Masalahnya, biaya servisnya juga nggak tanggung-tanggung. 3 tahun lalu saja sudah dikenakan biaya Rp.300.000,-. Itu sudah termasuk antar jemput. Jadi, dari pihak toko yang menyediakan jasa servis, datang menjemput mesin ketik yang rusak, lalu diperbaik. Setelah selesai, kurir mereka akan mengantar lagi mesin ketik itu. Selain biaya antar jemput, ada juga harga pembelian sparepart. Pokoknya total Rp.300.000,-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, 3 tahun kemudian rusak lagi. Idealnya sih, setahun sekali harus diservis. Apalagi sekarang saya sering menggunakan mesin ketk manual untuk mengetik blanko akta PPAT dan cover salinan akta. Untuk mengetik blanko PPAT yang rangkap 4 dengan ukuran kertas A3 dan cover akta yang terbuat dari karton lumayan tebal, tentunya nggak bisa memakai mesin ketik manual yang kecil (ukuran 13,5 atau 15 inci). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MESIN KETIK MANUAL TIPE SM 18 MEREK OLIMPIA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TOtCMM1J--I/AAAAAAAACww/hWVLlCmv5LY/s1600/IMG_0158.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TOtCMM1J--I/AAAAAAAACww/hWVLlCmv5LY/s320/IMG_0158.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5542596543779568610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya masih punya satu mesin ketik kecil tapi hanya bisa digunakan untuk mengetik di atas kertas folio atau quarto saja. Dan, yang pasti gak bisa mengetik di atas cover dari karton. Bisa rusak kalo dipaksa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu saya pun berinisiatif membeli satu unit lagi mesin ketik manual ukuran 18 inci. Buat cadangan gitu kalau sewaktu-waktu mesin ketik yang lama diservis. Secara waktu servisnya aja bisa seminggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mencari mesin ketik manual ukuran 18 inci nggak gampang. Setelah gugel ke sana kemari, saya hanya menemukan 2 toko yang benar-benar punya stok mesin ketik. Yang satu, mengaku distributor mesin ketik merek Royal. Katanya sih yang dijual barang baru. Bukan rekondisi. Tapi harganya aje gileeeee..gilee ajeee..R.3.045.000,- Gak ada diskon lagi. Meskipun sudah saya tawar sampai setengah mengemis. He he he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya iseng tanya kalo beli 2 unit bisa lebih murah gak. Mereka bilang, bisa. harganya menjadi Rp.2.827.500,- Tetapi, stoknya cuma 1. Walaaah...masa sih cuma 1. Saya sih curigation kalau mereka tuh sebenarnya takut saya akan  menjual lagi mesin ketik tersebut. Soalnya, ketika saya telpon, mereka bertanya apakah saya mau pakai sendiri atau mau jual lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And, kalo ngaku stoknya cuma 1 unit rada aneh. Karena mereka distributor jadi seharusnya punya stok lebih dari satu. Well, mereka memang gak mau jual sedikit sih, tetapi, karena saya rada ngotot mau beli dan maksa akhirnya mereka mau jual, tapi ..harganya itu lho. Kok, saya merasa mereka sengaja masang harga muahaal ya biar saya nggak jadi beli. Dan, trik mereka emang sukses sih. Siapa juga mau beli mesin ketik manual semahal itu. Mending beli printer deh.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko berikutnya yang saya cek terletak di Harco Mangga Dua. Si penjual mengaku ada stok mesin ketik merek Olimpia kondisi baru, tipe SM 18 inci. harganya Rp.2580.000,- tapi..no garansi. Jiaaah..ngapain juga gue beli mesin ketik gak ada garansinya.. Ini barang gelapa atau apa sih? Kata temanku, mungkin itu barang gelap. Hmm...mencurigakan banget. Alasannya pas ditanya kenapa gak ada garansi, jawabnya gini : "Kalo mesin ketik listrik ada garansi. Kalo yang manual kan jarang rusak. Jadi gak ada garansi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujubuneng keliatan bohongnya kan? Mau itu manual atau listrik tetap aja bisa rusak kan? Jadi, kudu ada garansi atuh..Aneh-aneh aja nih penjual. Akhirnya, saya nggak jadi beli sama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun iseng nelpon ke toko yang menyervis mesin ketik lama saya. Mereka bilang ada, tipe SM 18 merek Olimpia dengan harga Rp.1.400.000,-. Waduh, kok murah amat ya.&lt;br /&gt;Ini barang jelek kali. Kok  bisa beda jauh dengan toko yang di Harco Mangga Dua. Ada garansi sih tapi...tetap aja meragukan. Serba salah ya, mahal dibilang kemahalan. Murah dicurigai pula. He he he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, daripada bingung saya ajak adik saya dan staf saya pergi ke Glodok Harco. Menjelajahi lorong-lorong pengap di sana yang memang terkenal banyak menjual mesin ketik. Tetapi, ternyata saya hanya menemukan tiga toko yang punya stok mesin ketik ukuran 18 inci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko pertama menjual mesin ketik rekondisi merek Olimpia. Harganya 1,9 juta rupiah. Anehnya, gak boleh dicoba. Alasannya kalo sudah jadi baru boleh coba. Nanti kalo ternyata gak enak pencetannya, baru dibenerin dulu. Garansi setahun. Harga gak boleh kurang. Alamaak..mana ada beli mesin ketik gak boleh cobain dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pergi ke toko kedua. ada mesin ketik  merek Olimpia tipe SM 18 dengan harga 1,8 juta. Gak bisa kurang lagi. Gak boleh coba pula. Garansi setahun. Kalo yang baru katanya 2,1 juta rupiah. Tapi gak boleh coba juga. Bahkan, dia punya stok mesin ketik merek Royal model lama. Plus mesin ketik merek Olimpia tipe SG 18. Tapi, tidak boleh dicoba semuanya. Dan, kalo servis harus antar sendiri plus ambil sendiri mesinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menjelajah toko ketiga yang notabene adalah toko yang saya mintai jasa servisnya dan yang menawari harga 1,4 juta. Ternyata, si pegawai toko salah kasih harga. Seharusnya 1,8 juta rupiah. Kalo yang 1,4 juta itu untuk tipe 13,5 inci. Pantesss..saya heran kenapa beda 400 ribu. Padahal tipe dan merek sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di toko ketiga ini saya sempet ngobrol dengan pemiliknya juga. BIasanya kan hanya dijaga para pegawai. Dan, sebelum beli saya boleh coba mesin ketiknya. Wah, gitu dong. Itu baru servis buat pelanggan. Karena servis memuaskan plus ada garansi setahun, maka toko ini mendapat rejeki. Saya beli satu unit mesin ketiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya sempat juga tanya-tanya kenapa mesin ketik manual ukuran 18 inci rata-rata rekondisi. Apakah nggak ada lagi yang baru? Menurut mereka nggak ada. Kebanyakan yang diproduksi mesin ketik tipe kecil. Hmm..mungkin karena mesin ketik ukuran 18 inci jarang yang cari, kecuali kantor notaris dan PPAT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, kenapa toko lainnya bilang ada yang baru dan harganya 2,1 juta. Duh, nggak ngerti deh. Yang pasti, saya baru sadar kalo mesin ketik manual 18 inci itu ternyata barang langka ya? Gak heran, harganya lebih mahal daripada printer.      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4503620673189396968?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4503620673189396968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4503620673189396968&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4503620673189396968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4503620673189396968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/11/susahnya-cari-mesin-ketik-manual.html' title='SUSAHNYA CARI MESIN KETIK MANUAL'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/TOtCMM1J--I/AAAAAAAACww/hWVLlCmv5LY/s72-c/IMG_0158.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-71156907307362177</id><published>2010-11-17T12:34:00.002+07:00</published><updated>2010-11-17T12:41:43.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>SUDAH DIANTAR, DICUEKIN PULA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kata teman-teman seprofesi, saya termasuk notaris yang nggak matre, walaupun fee akta saya tidak bisa dibilang murah sekali (secara saya nggak suka banting harga). Tetapi, dengan bertambahnya jam terbang, maka saya belajar untuk sedikit matre. Mungkin lebih tepat disebut bersikap tegas agar klien tidak bertindak seenak udelnya saja. Mentang-mentang, saya murah hati jadi dimanfaatkan begitcu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika mereka sudah minta dibuatkan draft perjanjian, padahal belum pasti apakah mereka akan menggunakan jasa saya. Kadang, klien memang suka  minta dibuatkan perjanjian ini itu. Tapi, draft perjanjiannya mereka bawa untuk didiskusikan dengan partner bisnis mereka. Nah, untuk klien-klien yang minta draft akta ini saya nggak segan-segan jadi RATU TEGA. Mengapa? &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karena saya pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Waktu itu, saya baru saja menjadi seorang Notaris ketika ada seorang klien minta dibuatkan akta Yayasan. Tetapi, dia minta dibuatkan draftnya dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat 45, saya buatkan draftnya. Lalu, karena klien itu sibuk, dia minta draftnya diantar ke kantornya. Dasar masih lugu, saya mau aja nganter draft akta tersebut ke kantornya di daerah Mangga Besar. Dan, karena belum ada kurir, saya sendiri tuh yang pergi ke kantornya. Mana naik bemo pula. Ck.ck..coba cek deh ada nggak notaris nganterin draft akta ke kantor klien berBEMO RIA? Hi hi hi….Secara waktu itu masih belum mampu beli mobil dan menggaji supir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hingga hari ini, sang klien tak pernah memberi kabar. Jangankan minta buat akta di kantor saya, menelpon pun enggak. Alamaak!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, saya selalu menetapkan sejumlah fee bila ada klien yang minta dibuatkan draft akta. Entah itu draft akta perjanjian kerjasama, draft akta sewa menyewa, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, taktik ini berhasil. Klien-klien yang niatnya cuma ingin dapat draft akta gratis, langsung mundur begitu saya minta sejumlah fee. Well, kadang-kadang ada klien yang memang suka membandingkan fee akta. Dia bertanya ke sejumlah notaris, mencari notaris yang fee-nya lebih murah. Bahkan, meminta draft akta ke sejumlah notaris lalu membandingkan  mana yang draft aktanya lebih berkenan di hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sebagai Notaris, jangan mau dong dikadalin klien model gini. He he he…&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-71156907307362177?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/71156907307362177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=71156907307362177&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/71156907307362177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/71156907307362177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/11/sudah-diantar-dicuekin-pula-kata-teman.html' title='SUDAH DIANTAR, DICUEKIN PULA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8988540095194640595</id><published>2010-11-13T11:04:00.002+07:00</published><updated>2010-11-13T11:46:48.765+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>REVIEW PERJANJIAN VIA TELPON</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Hari masih cukup pagi. Baru jam 9 lewat beberapa menit, ketika telpon rumah saya berdering. Papa saya yang angkat, lalu tak lama terdengar suara papa memanggil saya. Katanya, itu telpon dari teman saya. Saya yang sedang berada di lantai atas bergegas turun ke bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Halo, Fanny...Masih kenal suara saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm..saya terdiam sejenak. Memori saya mencoba mengenali suara itu. Sepertinya tak asing sih. Tapi, siapa ya...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lili ya?" Tebak saya, teringat akan seorang teman semasa kuliah dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Saya Dewi, Fan. " &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, iya...Dewi..Dewi..teman kuliah saya yang sudah bertahun-tahun tak pernah bertemu. Terakhir, saya ketemu dia - kalau gak salah - tahun 2004. Waktu itu saya dan papa sedang berbelanja di Alfa Supermarket. Tapi karena dia sedang terburu-buru hendak pulang ke rumah (dia baru selesai belanja), maka kami tak sempat berbincang lama. Hanya saling menyapa dan bertukar kartu nama saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, tumben sekali kalau hari ini dia telpon saya setelah 6 tahun tak pernah bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Dewi....wah, apa kabar?" Tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik. Kamu masih buka kantor notaris di rumah ya, Fan?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, masih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo...kalo begitu boleh dong saya tanya-tanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya boleh aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emm..gini, Fan..saya diminta oleh pendeta di gereja saya untuk mereview perjanjian kerja. Sebenarnya saya sudah review sih tetapi...ada beberapa pasal yang isinya meragukan. Saya mau tanya kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, oke..." Jawab saya sambil berpikir seberapa banyak pasal yang akan dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya bacakan ya, Fan. Dari awal dulu deh. Yang bertanda tangan di bawah ini...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi mulai membacakan isi perjanjian dan saya mendengarkan dengan sabar. Dia berhenti untuk menanyakan beberapa hal. Saya pun menjawab sesuai pengetahuan saya selaku Notaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu pasal 1 bunyinya gini nih, Fan.." Lanjut Dewi. Dia kembali membacakan pasal 1. Saya jawab lagi pertanyaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang pasal 2....." Dewi membacakan lagi isi pasal berikutnya. Saya mulai mengerutkan kening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wi..sorry...ada berapa pasal yang mau dibahas? Banyak ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma 7 pasal sih. Tapi, bagian penutupnya saya juga gak ngerti. Mau minta tolong kamu karangin." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...saya meringis sedikit jengkel. 7 pasal mau direview lewat telpon? Yang bener saja. Mana di sekitar lemari kecil tempat menaruh telpon tidak ada kursi karena letaknya di dekat televisi, sehingga kalau menaruh kursi di sana bisa menghalangi pandangan orang yang sedang menonton televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau direview semua via phone,butuh waktu berapa lama? Kaki saya bisa gempor nih berdiri terus. Akhirnya saya usulkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wi, kalo sebanyak itu mending kamu imel aja. Biar nanti saya bantu review. Kalo udah selesai, ntar saya imel balik ke kamu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh...ya boleh sih..tadinya saya malah mau ke rumah kamu...biar kamu baca perjanjiannya. Tapi saya pikir lebih baik lewat telpon aja.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak usah ke rumah saya. Kamu imel aja. Ini alamat imel saya.....," Ujar saya lalu menyebutkan alamat imel saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami bercakap-cakap mengenai pekerjaan dan usaha masing-masing. Percakapan yang penuh basa basi sebenarnya karena memang tak banyak yang bisa kami ceritakan. Apalagi Dewi bukan teman akrab saya. Saya kenal dia ketika pernah sama-sama aktif di persekutuan kampus. Kemudian setelah saya lulus (kebetulan saya lulus lebih dulu), komunikasi kami sama sekali terputus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sungguh aneh saat tiba-tiba dia menelpon saya lalu meminta tolong untuk mereview perjanjian. Lewat telpon pula. Tidak pakai tanya : "Kamu sibuk gak?  Menganggu gak kalo saya minta tolong review perjanjian ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tahun gak pernah telpon and gak pernah ketemu (lagi), tahu-tahu telpon minta tolong review perjanjian. Lewat telpon pula...ck..ck..ck...Maunya sih gak diladenin, tetapi kok kesannya kejam amat? Tetapi setelah diladenin mestinya ya...ngerti kalau review perjanjian itu gak bisa lewat telpon. Selain yang membacakan isi pasal-pasal bakal berbusa mulutnya, yang denger juga pegel kupingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, duh...terkadang apa kata papa saya benar juga. "Jadi orang tuh jangan terlalu baik, nanti malah diperalat orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya tetap bersedia menolong teman-teman saya tetapi..harus dengan cara saya, seperti yang sudah saya lakukan barusan. Silakan imel perjanjiannya, saya akan bantu review tetapi....harap bersabar...tunggu waktu saya luang.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8988540095194640595?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8988540095194640595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8988540095194640595&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8988540095194640595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8988540095194640595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/11/review-perjanjian-via-telpon.html' title='REVIEW PERJANJIAN VIA TELPON'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7760067286412303650</id><published>2010-10-28T22:02:00.003+07:00</published><updated>2010-10-28T22:25:44.697+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KELAPARAN DI KANTOR KLIEN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kira-kira 2 minggu lalu (lama amat ya ..baru ditulis sekarang..hehee...), saya diundang meeting oleh Klien. Dalam surat undangan dicantumkan jadwal meeting dari jam 15.00 sampai selesai. Karena kantor klien itu tutup jam setengah enam sore, saya pikir, sebelum jam setengah enam meeting akan selesai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dugaan saya meleset. Sudah meetingnya molor. Baru dimulai jam 4 sore. topik yang dibahas pun mengembang ke kiri dan ke kanan. Apalagi yang diundang bukan hanya saya saja, tetapi ada beberapa notaris lain. Walau nggak semua Notaris hadir tetapi meeting berlangsung lamaaa banget. Secara para asisten/staff dari Notaris yang nggak hadir juga ikutan mengajukan usul ini itu. Bahkan, ada yang dengan bodohnya menanyakan hal-hal yang nggak penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena si pemimpin meeting terlalu baik hati dan rajin bekerja....maka topik yang mengembang itu diladeni dengan seksama. Alhasil, saya dan semua yang hadir harus mendengarkan musik rock yang dimainkan para cacing di usus kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana siangnya saya cuma makan mie tek-tek ala resto Es Teller 77. Kebetulan saya memang lagi malas makan nasi. Toh, saya berasumsi meeting selesai jam 5 sore...jadi nggak ada persiapan nyimpen nasi di usus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, ketika akhirnya meeting selesai jam 7 malam, saya sudah menderita kelaparan stadium 4. Duh, kok ya tuh klien tega nian? Mbok ya kasih kue apa kek. Kue pancong juga boleh deh. Masa sih meeting demikian lamanya cuma disediakan air mineral. Bikin kembung aja. He he he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya begitu meeting sudah berjalan sampai pukul enam sore, mereka harus punya inisiatif membelikan makanan apa gitu. Nggak usah yang mahal-mahal. Bila memang cuma mampu beli gorengan juga oke deh. Hi hi hi...Saya yakin mereka mampu, cuma pelit aja tuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, begitu meeting selesai saya protes kepada si pemimpin meeting yang notabene mantan teman sekantor (waktu masih kerja) : "Kalau bisa meeting jangan sore-sore dong. Apalagi kalo sampai berjam-jam. Kelaparan nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu hanya senyum simpul. Ih, mau marah deeeh!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya dapat pelajaran dari peristiwa meeting yang bikin kelaparan ini.&lt;br /&gt;Pertama : Makan nasi dulu sebelum meeting apalagi kalo jam meetingnya nanggung begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Bawa bekal misalnya : biskuit atau kue/roti setiap ada meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Kalo di tengah meeting mendadak lapar, permisi aja dulu sebentar terus embat tuh bekal begitu sampai di luar ruang meeting. He he he..  atau....kalau berani malu, kunyah aja bekalnya di depan orang-orang yang hadir di ruang meeting. Paling dituduh nggak tahu sopan santun. Ha ha ha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Note : Catatan nggak penting akibat menderita kelaparan super berat..  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7760067286412303650?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7760067286412303650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7760067286412303650&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7760067286412303650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7760067286412303650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/10/kelaparan-di-kantor-klien.html' title='KELAPARAN DI KANTOR KLIEN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-127766722335373221</id><published>2010-10-01T10:44:00.000+07:00</published><updated>2010-10-01T10:44:00.128+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba serbi'/><title type='text'>JANGAN PAKAI CALO DEH!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tahu yang namanya Calo a.k.a Makelar atau kalau dalam dunia pialang sering disebut BROKER? Nah, di dunia hukum khususnya di kalangan Notaris, ada juga orang-orang yang berperan sebagai Calo. Mereka biasanya orang-orang yang punya usaha biro jasa yang kerjaannya membantu mengurus STNK, SIM, SIUP, TDP, domisili, NPWP, paspor, dll. Pokoknya segala macam dokumen deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, pekerjaan seperti itu sih oke-oke saja. Wong, ayah saya juga punya usaha Biro Jasa khusus mengurus sertifikat tanah, IMB dan surat-surat ijin usaha lainnya. Tidak termasuk SIM dan STNK lho. Kalau itu sih ada temannya yang ngurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang kerap terjadi adalah kalau si calo alias si pemilik Biro Jasa itu menjadi perantara untuk pembuatan akte notaris. Dia bekerja sama dengan seorang atau lebih Notaris untuk membuatkan akte klien-kliennya. Sementara sang klien sendiri nggak ketemu langsung dengan Notarisnya. Misalnya : Si A ingin mendirikan sebuah PT. Lalu dia datang ke Biro Jasa Z, minta dibuatkan domisili, NPWP, Surat-surat ijin usaha, dll. Untuk itu tentunya perlu akte pendirian PT. Tetapi, si A menyerahkan semuanya ke Biro Jasa. Maka, orang dari Biro Jasa ini akan menghubungi Notaris kenalannya lalu minta dibuatkan akte PT. Akte selesai dan dibawa oleh Biro Jasa kepada kliennya untuk diteken. Selanjutnya si Biro Jasa membantu mengurus surat-surat ijin usaha kliennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas ini sangat berbahaya. Pertama, akte tidak dibacakan dan dijelaskan oleh si Notaris, yang berarti sudah melanggar UUJN (Undang Undang Jabatan Notaris). Kekuatan akta menjadi seperti akta di bawah tangan. Padahal, akta notaris itu kan dibuat karena kekuatannya sebagai akta notariil sehingga bila ada kasus hukum, bisa menjadi alat bukti yang sempurna. Ada saksinya yaitu si Notaris sebagai pembuat akta. Lha, kalau Notarisnya nggak ketemu si klien. Enggak membacakan dan menjelaskan aktanya, kalau ada kasus, gimana dong? Klien akan mengaku di depan sidang pengadilan bahwa dia nggak pernah ketemu dengan Notarisnya. Enggak pernah mengerti isi aktanya karena memang nggak pernah mendengar penjelasan akan arti pasal-pasal dalam akta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dari sisi hukum. Dari sisi fee akta, si klien bisa dikenakan fee lebih mahal karena biasanya Biro Jasa akan ambil keuntungan dari fee yang ditetapkan Notaris. Walau tak  menutup kemungkinan fee akta menjadi lebih rendah karena si Notaris banting harga semurah-murahnya demi mendapatkan order banyak dari si Biro Jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih parah adalah kalau si Biro Jasa kabur. Padahal si klien sudah membayar sejumlah uang. Sementara dia nggak kenal dengan si Notaris. Atau...pengurusan Surat Keputusan Pengesahan dari Departemen Kehakiman menjadi tersendat karena si Biro Jasa tidak membayarkan uang pengurusan secara full kepada si Notaris. Sementara si Notaris yang menjalankan tugasnya dengan cara koboy ini, cuek bebek saja. Yang penting uang masuk ke kantongnya. Soal apakah mau diurus juga SK pengesahannya, itu urusan si Biro Jasa dengan si klien. Toh, uang yang dibayar oleh si Biro Jasa hanya untuk pembuatan akte PT saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal si klien sendiri sudah meminta ke Biro Jasa untuk mengurus sampai mendapatkan SK dari Depkeh. Seperti yang dialami oleh salah seorang teman saya. Entah bagaimana caranya, dia meminta bantuan seorang calo untuk membuatkan akte PT. Sudah bayar 11 juta rupiah, tapi-tapi hingga saat ini SK Pengesahan dari Departemen Kehakiman belum juga ia peroleh. Ketika ia menghubungi si calo, malah diminta membayar lagi sebesar 2,5 juta rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya si calo macam-macam. Dan, teman saya pun pusing karena usahanya sudah  berjalan cukup lama dengan memakai nama PT yang sudah dibuat akte pendiriannya. Tetapi, belum juga mendapatkan SK Pengesahan. Saya pun hanya bisa mengusulkan : &lt;br /&gt;agar dia kembali kepada si calo dan minta dia melanjutkan pengurusan SK Pengesahannya di Departemen Kehakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja dibuatkan akte pendirian PT baru tetapi PT lama sudah punya NPWP dan surat ijin lainnya, serta sudah berjalan lancar usahanya. Sayang kan kalau harus bikin baru lagi. Berarti ada NPWP dan surat ijin baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, buat kamu-kamu yang ingin membuat akte Notaris, jangan ragu untuk datang langsung ke kantor Notaris terdekat. Kalau toh nggak kenal, ya kenalan dong sama Notarisnya. Kalau sang Notaris sibuk, minta staffnya untuk dibuatkan janji temu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bertemu si Notaris, kamu bisa konsultasi dan yang pasti nggak akan dikibulin. Walaupun bisa saja si Notaris nakal tetapi biasanya Notaris yang baik tidak akan berani berbuat nakal terhadap kliennya, karena ada aturan dan kode etik yang harus ia patuhi. Kalau toh dia nekad melanggar aturan dan kode etik Notaris, tentu ada sanksinya. Dengan kata lain : Notaris mempertaruhkan jabatannya dan nama baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, cari aman saja deh. Jangan pakai calo selama kamu bisa bertemu langsung dengan si Notaris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-127766722335373221?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/127766722335373221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=127766722335373221&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/127766722335373221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/127766722335373221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/10/jangan-pakai-calo-deh.html' title='JANGAN PAKAI CALO DEH!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7192457167803558697</id><published>2010-09-27T15:31:00.002+07:00</published><updated>2010-09-27T15:58:26.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>NGGAK USAH DICANTUMKAN NAMANYA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari lalu, seorang ibu berusia sekitar 60 tahun datang ke kantor saya. Dengan bahasanya yang sederhana, ibu ini menjelaskan bahwa putera sulungnya (sebut saja namanya si Ali) ingin memberikan salah satu rumahnya kepada sang adik (sebut namanya si Beni). Tetapi, sang ibu minta agar isteri si Ali tidak usah diikutsertakan pada waktu tanda tangan akta hibahnya. Dia tidak ingin isteri si Ali tahu kalau rumah itu akan diberikan kepada Beni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, permintaan ibu ini saya tolak karena setelah saya tanya lebih lanjut, si Ali memperoleh rumah itu setelah dia menikah, berarti rumah itu termasuk ke dalam harta bersama suami isteri. Selain itu, mereka tidak pernah membuat perjanjian kawin pisah harta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan saya, sang ibu meminta saya untuk tidak mencantumkan nama si Beni sebagai penerima hibah rumah itu, karena menurut dia, isteri si Ali tidak akan mengijinkan suaminya memberi rumah itu kepada adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namanya si Beni jangan ditulis dulu aja, bu. Bisa kan?" Begitu permintaan si ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, ndak bisa toh. Karena kan saya harus jelaskan kepada Ali dan isterinya bahwa mereka akan menghibahkan rumah itu kepada Beni. Dan, si isteri menandatangani akta sebagai tanda persetujuannya. Tugas saya kan tidak hanya membacakan akta tetapi juga harus menjelaskan isi akta itu kepada klien. " Jelas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu pun mengangguk-angguk. Wajahnya tampak merenung. Ketika saya tanyakan lagi, alasan isteri Ali tidak mengijinkan suaminya memberikan rumah itu kepada Beni, sang ibu menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isterinya tuh pelit. Bahkan, anjingpun gak boleh dikasih ke Beni. Kan saya pernah lihat si Ali mau kasih salah satu anak anjingnya, eh..isterinya nggak kasih. Jadi, kalo bisa nggak usah dicantumkan namanya di akta, bu..Nanti aja kalo udah selesai teken baru ditulis nama si Beni sebagai orang yang terima rumah." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, meskipun si ibu meminta saya berkali-kali untuk menuruti keinginannya. Tetap saja saya menolaknya karena jika di kemudian hari isteri si Ali protes karena merasa telah ditipu dengan menandatangani akta hibah, padahal ia tak pernah setuju rumah itu diberikan kepada Beni, saya juga yang repot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus bertanggung jawab atas akta yang saya buat. Jadi, nggak bisa seenaknya saja memenuhi keinginan klien, apalagi yang melanggar peraturan yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah setelah saya jelaskan lagi, si ibu mau mengerti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7192457167803558697?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7192457167803558697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7192457167803558697&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7192457167803558697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7192457167803558697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/09/nggak-usah-dicantumkan-namanya.html' title='NGGAK USAH DICANTUMKAN NAMANYA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-6695223188604817793</id><published>2010-09-20T22:21:00.004+07:00</published><updated>2010-09-20T22:39:12.472+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>ADUHAI, MALASNYA STAFF SAYA!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Minggu sore, sebuah SMS masuk ke inbox ponsel saya. Ternyata dari staff saya. Bunyinya : Bu, besok sy  blm bisa masuk. Saya ke Jkt tgl 23 krn dpt tiket tgl segitu jd sya masuk hari jumat tgl 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah...manis banget ya bunyi SMS nya? Sepertinya yang jadi boss siapa gitu. Sungguh terlalu! Bisakah saya percaya pada alasannya : Gak dapat tiket? Hmm...kalau memang niatnya masuk kantor tgl 20 mestinya jauh-jauh hari sudah pesan tiket dong. Lagi pula, kampung halamannya nggak jauh kok. Masih di daerah Jawa Tengah. Gak sampai di Irian Jaya atau..di pelosok mana gitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya sih nggak terlalu kaget karena setahu saya, staff yang satu ini memang hobi berlibur lamaaaaa bangeeet kalo lebaran. Wong, pernah dia sudah kembali ke Jakarta tapi masih juga nggak mau masuk kantor karena menginap di rumah neneknya di Jakarta Timur. Pernah juga dilanjutkan dengan acara nginap di rumah sahabatnya di daerah Cikarang, Bekasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kesimpulan saya ada 2 yaitu : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dia sudah pulang ke Jakarta (entah hari Minggu atau Sabtu kemarin) tapi melanjutkan acara liburannya dengan menginap entah di rumah nenek yang di Jakarta atau di rumah sobatnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dia baru pulang pada tanggal 20 atau tanggal 21 tapi melanjutkan acara liburan di rumah neneknya atau sobatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecil kemungkinannya dia gak dapat tiket. Lha, pembantu rumah tangga aja udah banyak yang balik kok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmmm..pantes, beberapa hari sebelumnya saya punya feeling, kalau staff saya akan memperpanjang hari liburnya. Feeling saya menjadi kenyataan. Ya sudah, saya terpaksa turun tangan sendiri untuk beberapa pekerjaan yang seharusnya jadi tugas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kalau sudah begitu ceritanya...saya akan pikir-pikir lagi untuk menaikkan gajinya tahun depan. Kalo toh naik, gak bisa terlalu besar mengingat watak pemalasnya yang aduhai mengharu biru perasaan. Bahkan, uang kerajinan yang biasanya saya berikan tiap bulan pun tidak layak ia dapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, SMS semanis madu itu tidak saya jawab. Buat apa? Bikin saya esmosi jiwa aja. Mendingan saya stay cool aja. Nanti kalau dia sudah masuk kerja baru saya tegur dan kenakan sanksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-6695223188604817793?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/6695223188604817793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=6695223188604817793&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6695223188604817793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6695223188604817793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/09/aduhai-malasnya-staff-saya.html' title='ADUHAI, MALASNYA STAFF SAYA!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7490386543663707883</id><published>2010-09-04T22:47:00.001+07:00</published><updated>2010-09-04T22:47:40.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>UJIAN KESABARAN</title><content type='html'>Hari-hari menjelang libur lebaran saya mengalami banyak sekali ujian  kesabaran. Mulai dari mantan rekan sekantor yang minta-minta parcel,  klien yang permintaannya neko-neko, staf yang minta cuti panjaaaang  banget and  teman gereja yang minta dibuatkan akta tapi maunya teken  buru-buru, gak peduli saya lagi sibuk berat (yang kayak gini mesti  dikenakan fee mahal deh. He he he....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya terjadi pada  waktu yang nyaris bersamaan pula. Bayangken, lagi asik-asik nge-draft  akta untuk seorang teman yang minta dibuatkan Kuasa Jual, saya ditelpon  mantan rekan sekantor yang minta parcel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuat kesal dengan urusan &lt;a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com/2010/09/mata-parcel.html"&gt;MATA PARCEL&lt;/a&gt;, staf saya menolak diberi tugas pergi ke dua tempat pada hari Senin besok dengan alasan : Cape bu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya  sih, memang tempatnya jauh-jauh semua. Dari rumahnya di Bekasi harus ke  Cawang, lalu ke daerah Pondok Indah. Dari sana balik ke rumah saya di  Sunter. Tapi, waktunya sudah mepet banget. Laporan bulanan harus diantar  ke Cawang. Dokumen dari kantor klien harus diambil dan dibawa hari itu  juga karena hari Selasa tanggal 7, staff saya sudah minta cuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula  saya meminta dia untuk mengantar laporan ke Cawang tanggal 15 saja  (batas deadline nya) tapi...dia ingin cuti sampai tanggal 20. Atau, tgl 7  dia masih masuk kerja biar bisa ngirim laporan ke Cawang. Usul ini  ditolak juga. Jadi, maunya apa dong? Masa mau ngatur seenaknya sendiri.  Lha yang jadi boss saya apa dia ya? Garuk-garuk pantat deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  sudah kasih libur mulai tgl 7 s/d tgl 20. Sudah cukup panjang kan? So,  kalau sudah diberi libur selama itu, mbok ya kerjaan diselesaikan dengan  sistem kebut dong. Saya kan nggak mungkin ke Cawang dan ke Pondok Indah  karena harus menghandel klien lain yang ingin teken akta hari Senin  besok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wong, hari Sabtu aja saya masih kerja (dewean nih)  sampai jam 7 malam. Sementara dia kan libur Sabtu ini. Walaupun bisa aja  saya minta dia masuk kerja hari Sabtu tapi saya nggak tega juga.  Apalagi dia kan lagi puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, bener-bener bikin saya naik  darah deh. Rasanya, suara saya jadi naik beberapa oktaf. Dikasih hati  minta ampela sih. Sudah diberi libur panjang, masih aja ngelak  melaksanakan tugas yang urgent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah saya ngomel,  baru deh dia mau mengerti. Hari Senin dia tetap ke dua tempat dan balik  lagi ke rumah saya bawa dokumen. Dan, karena saya masih punya hati, saya  bilang sama dia : &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Hari  Senin kamu boleh pulang lebih cepat kok. Yang penting dokumen klien dari  Pondok Indah anter dulu ke rumah saya, biar nanti pas liburan saya yang  kerjain sebagian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, saya mencoba mengerti kalau dia lelah  karena dia sedang menjalani ibadah puasa. Selain itu, staff saya ini  memang tidak gesit orangnya. Jalannya klemar klemer, kerjanya juga rada  lamban, pelupa pula, tetapi karena dia jujur saya tetap pertahankan dia.  Hanya ya itu..kalau sudah mau pulkam suka ngotot dan diserang virus  malas. Mana pernah libur pulkam cuma seminggu. Selalu 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah  sekali waktu, saya minta dia libur seminggu aja, dia mengiyakan, tetapi  tetap saja nongolnya setelah lewat seminggu. Bikin bete aja kan?  Mendingan saya ijinkan aja dia libur 2 minggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis  kesalnya dengan kelakuan staff, teman saya yang mau buat akta Yayasan  minta buru-buru teken, sementara data belum lengkap. Duuh, saya harus  mencari stok kesabaran saya di gudang nih. Elus-elus dada aja deh....   &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7490386543663707883?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7490386543663707883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7490386543663707883&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7490386543663707883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7490386543663707883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/09/ujian-kesabaran.html' title='UJIAN KESABARAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4706847706885593069</id><published>2010-08-28T11:45:00.006+07:00</published><updated>2010-08-28T12:19:59.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KONSULTASI GRATIS</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Salah satu tugas seorang Notaris adalah memberikan penyuluhan hukum kepada klien. Tetapi karena penyuluhan hukum ini gratis, seringkali klien suka seenaknya dewe. Mentang-mentang gratis, bisa berkali-kali nongol hanya untuk konsultasi. Padahal sudah dijelaskan berulang kali, tetapi..masiiih saja bertanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Lawyer yang bisa menetapkan tarif untuk konsultasi. Tak jarang, tarifnya berupa dollar. Ini yang membedakan Notaris dengan Lawyer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi klien-klien yang 'cuma' minta konsultasi gratis, beberapa teman saya ada yang nekad meminta fee untuk setiap konsultasi, terutama jika konsultasinya sampai makan waktu berjam-jam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang rada sulit adalah kalau teman sendiri yang minta konsultasi. Tidak dilayani kok rasanya keterlaluan, tapi mau minta fee kok, rasanya sungkan. Seperti yang saya alami baru-baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman gereja saya yang sedang bermasalah dengan partner bisnisnya. Dia sudah berkali-kali nanya saya via telpon dan selalu saya ladeni dengan baik. Bahkan, beberapa kali dia datang ke rumah saya untuk konsultasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, dia datang sendirian sambil bawa dokumen-dokumennya. Saya bantu dia, dengan mempelajari isi dokumennya. Yang kedua, dia nongol dengan isterinya plus puteri bungsunya yang baru berusia beberapa bulan. Saya dengerin cerita mereka, keluhan mereka dengan sabar. Yang ketiga, dia muncul dengan kakak lelakinya yang juga ikut serta dalam bisnisnya yang sedang bermasalah. Kembali saya layani mereka dengan baik. Saya jawab pertanyaan mereka sesuai dengan kemampuan saya sebagai seorang Notaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua saya yang sering menerima telpon teman saya ini dan tentu saja sering melihat dia datang untuk konsultasi sampai sedikit jengkel. "Ini orang kok nanya-nanya melulu?" Begitu kata papa saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa mesem-mesem. Yah, namanya juga teman. Lagi kesulitan ya dibantu walaupun teman saya yang satu ini memang keterlaluan juga sih kalau dipikir-pikir. Pasalnya, masalah hukum  yang ia hadapi itu rumit banget. Saya sudah memberikan beberapa alternatif jalan keluarnya tetapi..dia masih bingung memutuskan karena semua alternatif itu punya sisi negatif. Dan, setiap kali bingung, saya terus yang ditanya. Fiuuh...cape deeh!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, saya hanya bisa berdoa semoga masalahnya cepat beres agar dia tidak minta konsultasi gratis melulu. He he he...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4706847706885593069?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4706847706885593069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4706847706885593069&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4706847706885593069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4706847706885593069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/08/konsultasi-gratis.html' title='KONSULTASI GRATIS'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-6303543050134483427</id><published>2010-08-18T10:37:00.002+07:00</published><updated>2010-08-18T10:58:43.571+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>JANGAN SEMBARANGAN MEMINJAMKAN RUMAH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Seorang sahabat mengeluh kepada saya. Rumah warisan dari neneknya yang tidak ia tempati, dipinjamkan selama bertahun-tahun kepada salah seorang kerabat jauhnya, sebut saja Ny. Anis. Rumah yang cukup luas itu bahkan sempat direnovasi sedikit oleh Ny. Anis tanpa pemberitahuan lebih dulu kepada dia selaku pemilik yang sah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, karena butuh uang, sahabat saya ini hendak menjual rumah tersebut. Maka dia pun meminta pada Ny. Anis agar meninggalkan rumah tersebut. Tentu saja, dia memberi tenggang waktu cukup lama agar Ny. Anis bisa mencari tempat tinggal lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi? &lt;div class="fullpost"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ny. Anis meminta sejumlah uang sebagai ganti rugi karena menurutnya dia sudah membayar tagihan listrik dan iuran-iuran lain (uang keamanan, uang kebersihan) selama menempati rumah itu. Padahal tidak ada perjanjian tertulis antara sahabat saya dengan Ny. Anis. Semua dilakukan secara lisan. Ny. Anis butuh rumah, sahabat saya berbaik hati meminjamkan secara gratis. Ny. Anis cukup membayar tagihan listrik dan iuran-iuran tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pembayaran PBB setahun sekali ditanggung oleh sahabat saya selaku pemilik rumah. So, sungguh amat aneh bila Ny. Anis minta ganti rugi. Sudah bagus dia diberikan tempat tinggal gratis selama bertahun-tahun. Kalau toh dia harus membayar tagihan listrik dan iuran-iuran lain, itu kan karena memang sudah kewajiban dia sebagai peminjam pakai rumah tersebut. Masa iya, tagihan listrik pun minta dibayarin? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sahabat saya, alasan Ny. Anis minta ganti rugi adalah karena dia sudah renovasi rumah itu. Padahal ketika dia melakukan renovasi tidak meminta persetujuan terlebih dulu dari si pemilik sah rumah itu dan tidak ada yang menyuruh dia melakukan renovasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja sahabat saya kesal sekali dimintai ganti rugi segala oleh Ny. Anis. Secara hukum, dia adalah pemilik sah rumah itu. Sertifikat tercatat atas nama dia dan dipegang oleh dia. Dia bisa saja mengusir Ny. Anis dengan bantuan pihak yang berwenang. Dia juga berhak  menolak permintaan ganti rugi yang diajukan Ny. Anis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun karena dia tidak mau ribut-ribut, akhirnya dia mengalah. Dia membayar sejumlah uang kepada Ny. Anis. Karena dia berpikir kalau  menggunakan jasa pengacara pasti juga akan habis uang banyak. Belum lagi makan waktu yang cukup lama karena kalau sampai ke Pengadilan bisa semakin repot urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dari pengalaman sahabat saya tersebut, saya sarankan kepada teman-teman blogger : JANGAN SEMBARANGAN MEMINJAMKAN RUMAH KALIAN UNTUK DITEMPATI ORANG LAIN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dengan saudara sendiri. Karena hati manusia tidak ada yang bisa menerka. Sudah dikasih hati malah minta jantung. Sudah diberi tempat tinggal gratis, malah minta ganti rugi. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-6303543050134483427?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/6303543050134483427/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=6303543050134483427&amp;isPopup=true' title='20 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6303543050134483427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6303543050134483427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/08/jangan-sembarangan-meminjamkan-rumah.html' title='JANGAN SEMBARANGAN MEMINJAMKAN RUMAH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3885230317026767002</id><published>2010-07-26T16:58:00.001+07:00</published><updated>2010-07-26T16:58:51.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seputar hukum'/><title type='text'>MANFAAT PERJANJIAN KAWIN</title><content type='html'>Seorang teman menelpon saya dan menyatakan ingin membuat Perjanjian Kawin. Setelah semua dokumen yang dibutuhkan diberikan, maka pada hari yang ditentukan, ia dan calon isterinya datang menghadap saya untuk menandatangani akta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, setelah akta dibacakan, saya menjelaskan bahwa akta Perjanjian Kawin itu harus didaftar ke Catatan Sipil, karena jika tidak didaftarkan maka  akta Perjanjian Kawin itu menjadi tidak ada fungsinya yaitu : tidak bisa mengikat pihak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, dengan adanya perjanjian kawin berarti ada pemisahan harta. Misalnya : isteri memiliki sebuah rumah yang sertifikat haknya tercantum atas nama isteri, maka bila isteri ingin melakukan perbuatan hukum atas rumah tersebut (seperti :menjual atau dijadikan jaminan utang) tidak perlu lagi persetujuan suami. Suami tidak usah menandatangani akta Jual Beli rumah ataupun akta perjanjian kredit beserta perjanjian jaminannya. Demikian pula, jika suami memiliki rumah yang sertifikatnya tercatat atas namanya dan ia ingin menjual rumah tersebut, maka isteri tidak usah ikut tanda tangan akta sebagai tanda persetujuannya. Cukup  perlihatkan saja akta perjanjian kawin yang pernah dibuat di Notaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, entah bagaimana teman saya ini lalai membawa akta perjanjian kawinnya pada saat dia dan calon isterinya ke Kantor Catatan Sipil. Sebulan setelah menikah sah, mereka baru sadar belum mendaftarkan akta perjanjian kawinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman teman yang juga menjadi klien saya ini, maka saya selalu mewanti-wanti para klien yang datang untuk membuat perjanjian kawin, agar mereka tidak lupa mendaftarkan akte perjanjian kawin mereka ke Kantor Catatan Sipil. Kasihan kan kalau sudah keluar uang untuk bayar fee akta, tetapi tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, Perjanjian kawin itu sendiri hanya bisa dibuat sebelum perkawinan dicatat di Kantor Catatan Sipil.  Tak heran, jika perjanjian kawin sering disebut akta perjanjian pra nikah. Yang dimaksud di sini adalah sebelum menikah sah berdasarkan hukum (dicatat di Kantor Catatan Sipil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain untuk memisahkan harta, perjanjian kawin juga berguna bila suami/isteri mempunyai usaha/menjadi wiraswasta. Karena bila – misalnya – usahanya pailit yang mengakibatkan timbulnya hutang dan untuk melunasinya sampai harus menyita rumah maka yang bisa disita hanyalah rumah yang tercatat atas nama yang berhutang, katakanlah suami yang punya hutang maka untuk bayar hutang, hanya bisa menyita rumah atas nama suami. Tidak bisa menyita rumah atas nama isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bila tidak ada perjanjian kawin, tidak menutup kemungkinan harta tetap yang tercatat atas nama isteri ikut disita untuk melunasi semua hutang. Sebab, tanpa perjanjian kawin maka begitu seorang pria dan seorang wanita menikah terjadilah percampuran harta atau disebut harta bersama. Meskipun rumah atas nama si suami, maka isteri ikut memiliki dan bila hendak dijual isteri harus memberi persetujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula klien yang membuat perjanjian kawin karena tidak ingin dituduh mengambil harta milik pasangannya. Misalnya : sang suami kaya raya dan mempunyai banyak rumah, tetapi sang isteri berasal dari golongan tak mampu. Maka, agar tidak dituduh mau mendapatkan bagian dari kekayaan suaminya, isteri minta dibuatkan perjanjian kawin. Demikian pula sebaliknya jika isteri yang berasal dari keluarga kaya raya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, banyak sekali manfaat dari sebuah perjanjian kawin. Sekarang ini sudah semakin banyak pasangan muda yang membuat perjanjian kawin di Notaris. Umumnya, alasan mereka adalah karena mereka punya usaha dan tidak mau melibatkan harta pasangannya bila sewaktu-waktu usaha mereka pailit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3885230317026767002?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3885230317026767002/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3885230317026767002&amp;isPopup=true' title='22 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3885230317026767002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3885230317026767002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/07/manfaat-perjanjian-kawin.html' title='MANFAAT PERJANJIAN KAWIN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5102058983586699804</id><published>2010-07-15T15:44:00.002+07:00</published><updated>2010-07-15T16:02:26.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>PERLUKAH BUAT AKTA WASIAT?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Seorang klien menelpon saya dan mengutarakan keinginannya untuk membuat akta wasiat. Dia ingin setelah meninggal nanti, harta warisannya bisa terbagi rata untuk kedua anak perempuannya. Jangan sampai ribut-ribut gitu. Maka, dia bermaksud membaginya secara adil dan sama rata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun menanyakan kepada ibu ini, apakah dia kawin secara sah dalam arti punya akta nikah dari Catatan Sipil (kebetulan ibu ini adalah seorang WNI Keturunan sehingga pernikahannya mestinya dicatat di KCS = kantor catatan sipil). &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Ada..Saya ada akta kawin kok. Tapi suami saya sudah meninggal dunia." Jawab si ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo ibu ada akta kawin, sebenarnya ibu gak perlu buat akta wasiat lagi. Karena dengan adanya akta kawin berarti begitu ibu meninggal, harta akan jatuh ke anak-anak ibu dan sesuai hukum waris yang berlaku bagi para WNI Keturunan, harta akan dibagi sama rata. Apalagi suami ibu sudah tiada, otomatis semua harta jatuh ke anak-anak kandung. Baik itu harta tetap berupa tanah, rumah ataupun harta bergerak seperti deposito, tabungan di bank, mobil, dll."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo..tapi saudara saya bilang saya harus buat akta wasiat biar anak-anak saya gak rebutan harta." Ujar ibu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm..kalau ibu mau membagi secara adil maka hukum waris sudah  mengatur pembagiannya. Anak ibu ada 2 orang, berarti masing-masing dapat 1/2 bagian sesuai hukum yang berlaku. Tetapi, kalau ibu ingin membagi ke salah satu anak dengan bagian lebih besar, baru ibu perlu buat akta wasiat." Jelas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak sih, saya justru ingin bagi rata aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, kalau begitu ibu gak perlu buat akta wasiat. Buat apa buang uang untuk bikin akta wasiat jika hukum warisnya saja sudah mengatur pembagian secara sama rata untuk anak-anak." Kata saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Okelah, bu..kalau begitu. Saya sudah mengerti. Saya pikir mesti buat akta wasiat lagi." Klien saya tampak lega mendengar jawaban saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, bisa saja saya langsung oke atas keinginan ibu itu untuk buat akta wasiat. Bisa nambah penghasilan kan? Tapi, saya berusaha memberi pertimbangan dan alasan yang jelas sesuai hukum agar ibu itu tidak sia-sia  mengeluarkan sejumlah uang untuk fee akta. Padahal, sebenarnya tidak perlu buat akta lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali notaris lain akan bilang saya bodoh, tidak mau uang dll, tetapi...saya lebih suka dibilang bodoh, tidak mau duit, dstnya  ketimbang  membiarkan klien saya dibiarkan tidak mengerti dan mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...apakah saya terlalu idealis dalam menjalankan tugas atau...saya memang bodoh? He he he....Sebenarnya, saya hanya ingin menempatkan diri saya sebagai si klien. Seandainya di kemudian hari dia tahu kalau sebenarnya gak perlu buat akta wasiat lagi, dan dia tahu hal itu dari notaris lain, apakah saya sebagai klien tidak merasa diperdaya? Walaupun memang yang minta dibuatkan akta adalah saya sendiri sebagai klien yang tidak mengerti hukum.  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5102058983586699804?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5102058983586699804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5102058983586699804&amp;isPopup=true' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5102058983586699804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5102058983586699804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/07/perlukah-buat-akta-wasiat.html' title='PERLUKAH BUAT AKTA WASIAT?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7893757868213997392</id><published>2010-05-24T10:49:00.003+07:00</published><updated>2010-05-24T11:06:57.324+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>PINJAM SURAT ASLI KOK, MESTI BAYAR?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Minggu lalu saya kedatangan seorang klien yang minta dibuatkan sertifikat tanah. Ketika saya perhatikan dokumen-dokumennya. Ternyata, di salah satu perjanjian jual beli tanah tercantum adanya surat Verponding. Berarti tanah itu dulunya memang tanah Verponding. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, anehnya...tidak ada fotocopy surat Verponding-nya. Ketika saya tanyakan, klien saya menjawab : "Kartunya mungkin ada di tangan si pemilik tanah itu. Karena tanah ini luas banget jadi dijual bagian demi bagian. Tetapi, tetangga saya sudah berhasil buat sertifikatnya. Dia juga beli dari pemilik tanah ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya manggut-manggut mengerti apa yang dimaksud si klien. Memang, ada tanah-tanah tertentu yang belum bersertifikat (biasanya tanah cukup luas) yang dijual sebagian demi sebagian. Dan, bila ingin membuat sertifikat mau nggak mau harus meminjam surat asli tanah tersebut. Bisa berupa Girik, verponding, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, saya pun menyarankan klien untuk meminjam surat verponding aslinya. &lt;br /&gt;Sebab, biasanya BPN (Badan Pertanahan Nasional) setempat akan minta diperlihatkan aslinya. Bahkan, semua perjanjian jual beli tanahnya (dari awal hingga akhir) akan diminta salinannya yang bermeterai.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Klien saya itu pun berjanji akan menanyakan kepada si pemilik tanah. Kebetulan masih hidup dan dia cukup mengenal orang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, klien saya kembali lagi. Dia mengatakan bahwa untuk meminjam surat verponding itu, dia diminta membayar sejumlah uang oleh si pemilik tanah. Wah! Saya cukup terkejut mendengarnya karena setahu saya itu adalah kewajiban si pemilik tanah untuk meminjamkannya. Kasihan dong, kalau si pembeli tanahnya sampai nggak bisa membuat sertifikat karena tidak bisa menunjukkan verponding kepada kantor BPN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, verponding asli itu hanya dipinjam sementara. Bukan untuk diambil. Toh, ada tanda terima dari kantor Notaris yang memberikan jasa mengurus sertifikatnya. Hmm, saya menduga si pemilik tanah butuh uang jadi dia minta uang lagi. Hal ini merupakan pembelajaran juga bagi masyarakat agar segera mengurus sertifikat tanah begitu transaksi jual beli selesai dilakukan. Jangan menunda terlalu lama karena biasanya si pemilik tanah enggan  meminjamkan surat aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bila pembuatan sertifikat langsung diurus pada waktu transaksi jual beli, dalam arti : surat asli langsung diberikan kepada notaris yang akan mengurus sertifikatnya, biasanya akan diberikan oleh si pemilik tanah. Karena, kondisi saat itu, si pemilik tanah akan mendapatkan sejumlah uang dari hasil jual tanahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otomatis, apapun surat yang dibutuhkan biasanya akan diberikan/ditunjukkan. Wong, butuh duit kok. Tetapi, coba kalau uang sudah diberikan. Akta sudah diteken. Mana mau dia meminjamkan surat aslinya lagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini berlaku hanya untuk tanah-tanah yang belum bersertifikat. Untuk tanah-tanah yang sudah bersertifikat sih nggak masalah. Karena setelah transaksi selesai, sertifikat akan langsung diurus balik namanya ke atas nama pembeli. Asli sertifikat juga biasanya disimpan oleh Notaris yang mengurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7893757868213997392?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7893757868213997392/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7893757868213997392&amp;isPopup=true' title='44 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7893757868213997392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7893757868213997392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/05/pinjam-saja-mesti-bayar.html' title='PINJAM SURAT ASLI KOK, MESTI BAYAR?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>44</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-9066251072344966745</id><published>2010-05-03T08:22:00.002+07:00</published><updated>2010-05-03T08:27:21.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='award'/><title type='text'>AWARD PERTAMA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Wah, nggak nyangka kalau blog ini bisa dapat award. Lumayan deh, ketimbang nggak ada yang diposting. He he he... Sebenarnya sih banyak juga hal yang bisa jadi bahan posting di blog ini, tapi kode etik jabatan membuat saya enggan menuliskannya di blog ini. Jangan sampai saya menyinggung perasaan rekan-rekan Notaris lainnya. So, blog ini memang rada jarang di update. Kalo toh di update, saya hanya bisa menceritakan hal-hal yang umum. Gak bisa menceritakan hal-hal yang sensitif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Btw, yuk ngintip awardnya!&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nih, dia award  dari &lt;a href="http://okemms.blogspot.com" target="_blank"&gt; Nyach &lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/S9hMcRUGH0I/AAAAAAAACGY/ls7mI5g1Hxs/s1600/award+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 260px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/S9hMcRUGH0I/AAAAAAAACGY/ls7mI5g1Hxs/s320/award+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465202196381835074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks ya untuk awardnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-9066251072344966745?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/9066251072344966745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=9066251072344966745&amp;isPopup=true' title='31 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/9066251072344966745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/9066251072344966745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/05/award-pertama.html' title='AWARD PERTAMA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_gdL4Txy0ucw/S9hMcRUGH0I/AAAAAAAACGY/ls7mI5g1Hxs/s72-c/award+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>31</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1039133625574084918</id><published>2010-04-15T12:54:00.002+07:00</published><updated>2010-04-15T13:20:54.444+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba serbi'/><title type='text'>JAM KERJA YANG FLEKSIBEL</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sebelum membuka kantor notaris sendiri, saya sering berangan-angan memiliki kantor yang jam kerjanya fleksibel. Fleksibel di sini bukan berarti saenake dewe. Bisa masuk telat bangeet, terus pulang tenggo...go..go.. Bukan itu yang saya maksud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fleksibel yang saya inginkan adalah..kalau ternyata tidak bisa datang on time (jam 9 teng), maka..jam kantor yang terpotong itu bisa dikompensasi dengan pulang lebih telat. Tetapi, tentu saja harus benar-benar ada alasan yang make sense atas keterlambatan itu. Misalnya saja : &lt;br /&gt;- macet total padahal sudah berangkat pagi dari rumah. Bisa saja terjadi kan? Terutama kalau semalam hujan lebat dan paginya banjir sehingga susah mendapatkan angkot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- mendadak harus nganterin ortu yang sakit. Kalau yang model gini, mestinya sih minta ijin aja sehari. Kecuali, ortunya memang bisa ditinggal (sakitnya nggak parah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- dan hal-hal lain yang terjadi di luar kehendak manusia yang nggak mungkin saya sebutkan satu demi satu. Emang mau buat buku? Saya sering menggunakan istilah force majeure (keadaan memaksa) untuk hal-hal di luar dugaan. Terpengaruh sama istilah hukum di dalam perjanjian nih. He he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kalau staff saya datang telat, saya biasanya akan bertanya lebih dulu alasan keterlambatannya. Bila memang make sense, yasud...asal..dikompensasi pulang lebih sore. Apalagi rumah staff saya lumayan jauh. Bekasi, booo....Naik kereta api pula. &lt;br /&gt;Kalau KA telat, dia pun ikutan telat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hari ini, sudah jam 10 kurang 15 menit, dia belum nongol. Sementara saya sudah wira wiri memeriksa pekerjaannya yang kemarin. Sempat terlintas di benak, kalau dia sakit. Tetapi, kalau sakit mestinya dia telpon. Laporan gitu. Bilang gak bisa masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, gak biasanya juga dia telat begini lama. Biasanya, kalaupun telat, jam 9.25 atau jam 9.30. Ada apa nih? Saya mau nelpon dia, tapi kerjaan lagi banyak. Akhirnya, saya mencoba berpikir positif. Mungkin, KA nya telat lagi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ternyata benar! Ketika akhirnya jam 10 kurang 10 menit dia nongol, dia pun bercerita tentang KA nya yang terlambat. Yah, saya sih berusaha percaya saja. Toh, dia nggak sering-sering telat. Saya berusaha memaklumi jarak perjalanan dari rumahnya yang di Bekasi ke daerah Sunter. Harus naik angkot lalu disambung KA, lalu naik Kopami ke rumah saya. Lalu, masuk kompleksnya pakai jalan kaki secara kalau dia naik ojek terlalu dekat. Jaraknya nanggung. Ongkos juga lebih mahal. Sementara nggak ada satu pun angkot yang masuk kompleks rumah saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perjuangan seperti itu untuk bisa tiba di rumah saya yang merangkap kantor ini, saya pun mencoba memahami posisinya. Gimana kalau saya jadi dia? Pasti nggak enak banget. Sudah telat dimarahi boss. So, saya pun memberi dia sedikit kebebasan. Meskipun jam kerjanya mulai dari jam 9 sampai jam 17.00, tapi saya mengijinkan dia masuk telat, asal...pulang lebih sore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam kerja yang fleksibel seperti ini pernah diprotes sama teman saya. Kata teman saya, nggak boleh dibiasakan masuk telat. Tetapi, protes itu tak saya gubris. Saya rasa, apa yang saya lakukan ini benar dan cukup manusiawi. Toh, staff  saya tidak menyalahgunakan jam kerja yang bebas ini untuk keuntungannya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, staff saya tentunya nggak mau pulang lebih sore. Selain tiba di rumahnya bisa lebih malam, kendaraan umum juga lebih sulit kalau malam hari. So, kalau bisa tentunya dia juga ingin masuk on time sehingga pulang pun bisa lebih cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, tak jarang kalau kerjaan sudah selesai semua,  saya ijinkan dia pulang lebih cepat. Tentu saja nggak sering-sering. Nanti jadi kebablasan maunya pulang cepat melulu. Semua ini saya terapkan karena saya pernah merasakan suka dukanya jadi pegawai kantor Notaris. Mengalami nggak enaknya ketika harus pulang malam karena nemenin boss teken akta. Merasakan gembiranya ketika boss kasih ijin pulang cepat karena besok malam natal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lakukan hanyalah : MENCOBA MEMAHAMI POSISI ORANG LAIN. Itu saja! &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1039133625574084918?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1039133625574084918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1039133625574084918&amp;isPopup=true' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1039133625574084918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1039133625574084918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/04/jam-kerja-yang-fleksibel.html' title='JAM KERJA YANG FLEKSIBEL'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7204749272817523424</id><published>2010-03-08T17:28:00.003+07:00</published><updated>2010-03-08T17:50:25.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>KETIKA  KLIEN MEMBAWA ANAK-ANAK MEREKA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Hari Minggu kemarin, seorang teman SD saya minta ketemuan di mal karena ada surat pernyataan yang harus saya tanda tangan dan beri stempel. Bahasa kerennya di REGISTER. Surat pernyataan itu berisi pernyataan tentang penitipan anaknya ke rumah adiknya di Amerika. Anak pertama teman saya itu memang akan disekolahkan di Pennysylvania, USA. Dan, pihak sekolah di sana butuh Surat Pernyataan itu. Tapi harus dibubuhi cap Notaris dan ditandatangani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena teman saya sibuk maka dia minta ketemuan hari Minggu saja. Yasuds, &lt;br /&gt;saya sanggupi deh. Sama teman sendiri oke-oke aja menyediakan waktu meskipun bukan hari kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, lewat dari jam 12 siang (waktu ketemuan yang dijanjikan), dia belum nongol juga. Karena adik saya sudah pengen pulang ke rumah, maka saya minta teman saya ke rumah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 13.00 teman saya baru nongol. Dia bilang, suaminya yang menunda-nunda waktu pergi sehingga nggak bisa datang jam 12 siang. Yaah, saya sih ngalah aja deh. Namanya juga teman. Masa molor 1 jam aja mesti ngomel? Bikin cepet tua saja. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, teman saya itu datang bersama suami dan dua orang anaknya yang cowok semua. And, anak-anaknya itu bandel bukan main. Begitu masuk rumah, langsung gedubrak duduk di bangku lalu stempel Notaris saya dilihat-lihat. Bak stempelnya dibuka. Kuitansi yang saya buat dibaca kencang-kencang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, mereka masuk ke ruang tengah lalu ke ruang makan. Semula adiknya yang lebih berani, eh...tak lama kakaknya ikutan sang adik. Pake acara berantem pula. Sementara teman saya dan suaminya cuma menegur ala kadar. Gak ada nada marah dalam teguran mereka. Padahal, anak-anaknya itu sudah menunjukkan gejala 'TIDAK SOPAN' di rumah orang. Saya sih bisa cuek menghadapi kenakalan mereka. Karena dulu pernah jadi guru sekolah minggu jadi nggak heran melihat kelakuan anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pertanyaan mereka saya ladenin dengan sabar. Tetapi, papa saya yang gregetan. Hi hi hi.....Ketika mereka sudah pulang, papa saya bilang begini :&lt;br /&gt;"Tuh, orang tuanya nggak bisa ngajarin anaknya ya? Masa, ke rumah orang gak sopan begitu. Bukan dimarahin, malah ditegur ala kadar aja. Setengah jam lagi mereka di sini bakal ada barang yang pecah deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He he he..saya tertawa dalam hati. Ini bukan yang pertama kali klien bawa anak-anak mereka ke rumah saya yang merangkap kantor. Beberapa waktu lalu pernah ada klien yang masih teman  saya juga datang bawa anaknya yang masih balita. Kebetulan, saat itu klien saya ini minta dibuatkan akta pendirian PT. Tentunya harus saya bacakan sebelum diteken.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, selama pembacaan akta yang cukup panjang itu, anaknya merengek minta pulang. Padahal, selain membacakan akta, saya juga harus menjelaskan point-point penting dari pasal-pasal di dalam akta tersebut. Nggak heran, acara pembacaan dan penandatanganan akta sampai memakan waktu nyaris 2 jam lebih, karena selalu disela dengan tangisan dan rengekan si anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana klien saya nggak bisa bersikap tegas terhadap anaknya. Seharusnya dia bisa memarahi atau apa kek biar anaknya diam. Kebetulan ibunya tuh anak nggak datang. Jadilah, klien saya kelabakan meladenin anaknya yang minta pulang melulu. Dikasih minum tetap aja merengek. Malah, gelas yang ia pegang hampir saja jatuh ke lantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...mungkin besok-besok saya harus menyediakan mainan untuk anak-anak klien agar mereka diam. Plus sekotak permen dan coklat. Atau.....tempat bermain khusus? Wedeew, kantor Notaris apa TPA (Tempat penitipan anak)?  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7204749272817523424?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7204749272817523424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7204749272817523424&amp;isPopup=true' title='33 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7204749272817523424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7204749272817523424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/03/ketika-klien-membawa-anak-anak-mereka.html' title='KETIKA  KLIEN MEMBAWA ANAK-ANAK MEREKA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>33</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4544148247735665158</id><published>2010-02-01T12:04:00.000+07:00</published><updated>2010-02-01T21:54:24.058+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>TALANGIN DULU DONG!</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Jam 9 pagi saya sudah mengirim SMS ke ibu Desy. Memberitahukan fee pengurusan sertifikatnya. Ternyata itu bukan nomor hape ibu Desy, tetapi nomor hape suaminya, pak Tomy (bukan nama sebenarnya).  Tak lama kemudian, pak Tomy menelpon saya.  Katanya isterinya masih tidur. Tapi nanti dia akan memberitahu isterinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian, pak Tomy menelpon lagi dan menanyakan apakah biaya pengurusannya bisa ditalangin dulu. Saya jawab tidak bisa. Harus bayar dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang harinya, bu Desy sendiri yang menelpon saya. Dia mau datang ke rumah nanti malam. Semula saya ingin menolak tapi karena penasaran pengen tahu seperti apa sih tampang ibu Desi ini secara dia tuh klien yang nyebelin banget (BACA : &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2010/01/klien-tidak-sopan-santun-lagi.html" target="_blank"&gt;KLIEN TIDAK SOPAN SANTUN (LAGI) &lt;/a&gt;), maka saya setuju saja dengan permintaannya itu. Kebetulan, saya juga nggak ada acara keluar rumah nanti malam.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Jam setengah sepuluh malam pintu pagar rumah diketuk. Bu Desi datang bersama puteranya. Setelah basa-basi sejenak, dia langsung ngomong begini :&lt;br /&gt;"Apakah semua biaya pengurusan peningkatan Hak atas sertifikat rumah saya ini harus dibayar dulu atau...setelah selesai baru dibayar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dibayar lunas dulu, bu. Toh, nanti ibu akan mendapatkan tanda terima sertifikat dan kuitansi bahwa fee sudah lunas." Ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, di kantor Notaris ibu AA kok nggak usah bayar dulu?" Tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ini dia....saya paling sebel sama klien yang suka membandingkan kantor saya dengan kantor notaris lain. Kalo toh mau ngebandingin, jangan ngomong langsung di muka saya. Setiap kantor Notaris kan punya kebijakan sendiri. Lagipula, kalau sama klien baru kenal, mana ada sistem bayar belakangan? Jaminannya apa? Sertifikat rumahnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin bu Desi pikir, kan sertifikat rumahnya dipegang oleh saya, jadi saya nggak perlu takut kalau harus talangin fee pengurusannya. Kalau dia belum bisa lunasin, kan tetap saya tahan sertifikatnya. Wah..wah...buat apa menahan sertifikat rumah orang? Toh, dengan memegang sertifikatnya, saya tetap nggak bisa jual atau gadaikan rumahnya. Karena untuk jual atau gadaikan rumah orang kan mesti si pemilik itu sendiri. Nggak bisa sembarangan meskipun memegang sertifikat rumahnya. Belum lagi, jual beli rumah harus bayar pajak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya pun dengan tegas berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf bu....kalau di kantor saya, tidak bisa seperti itu. Semua pengurusan sertifikat harus dilunasi lebih dulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooh, gitu ya...nggak bisa ditalangin? Sama Notaris ibu AA selalu ditalangin kok. Saya sering pakai jasa dia tuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iyalah! Apalagi kalau sering pakai jasanya tuh Notaris, ya..berarti kan sudah jadi langganan. Lha, kalau sama saya kan baru hari ini ketemu. Rumahnya dimana saja saya nggak tahu. Mana bisa percaya begitu saja? Lagian, kalau semua klien minta ditalangin, bisa gak makan nih. Batin saya sebel banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini saja, bu....Kalau ibu percaya sama saya, maka ibu harus mengikuti peraturan di kantor saya. Jangan samakan aturan di kantor saya dengan kantor Notaris lain, ya bu..." Ujar saya berusaha sabaaaarrrr...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Desi pun mengangguk-angguk. Dia bilang, akan pikir-pikir dulu. Nanti dia akan kabari lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia pulang, saya menghela nafas lega. Huff! Cukup sekali deh menghadapi klien seperti ini. Sudah nggak punya sopan santun, pelit pula. Padahal, bu Desi itu bukan orang bokek. Tanah dan rumahnya ada dimana-mana. Ini kata papa saya yang pernah mengenalnya ketika membeli salah satu rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;See! Orang kaya tapi minta ditalangin dulu. Tentu saja, saya harus hati-hati. Jangan-jangan dia ingin menipu saya. Minta ditalangin terus setelah selesai sertifikatnya, nggak mau bayar. Padahal, fee pengurusan sertifikatnya itu nggak seberapa lho. Enggak sampai puluhan juta. Buat orang setajir dia, duit segitu mah keciiil. Tapi kok, ya takut bangeeet gitu lho? Duuh!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4544148247735665158?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4544148247735665158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4544148247735665158&amp;isPopup=true' title='27 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4544148247735665158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4544148247735665158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/01/talangin-dulu-dong.html' title='TALANGIN DULU DONG!'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1984024401676496256</id><published>2010-01-19T20:23:00.002+07:00</published><updated>2010-01-19T20:33:58.588+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN TIDAK SOPAN SANTUN (LAGI)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sudah jam setengah sepuluh malam, ketika telpon berdering. Mama saya yang terima. Katanya mencari saya. Karena mama tidak begitu jelas dengar suaranya dan orang itu sepertinya ngotot pengen bicara dengan saya, maka mama langsung ngasih telpon itu ke saya. Padahal, saya paling malas terima telpon malam-malam kecuali dari sobat karib. Mana mata sudah mulai ngantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dari ibu Desy (bukan nama sebenarnya). Dia bertanya begini :&lt;br /&gt;“Ibu….kok, nggak telpon saya sih? Kan beberapa hari lalu, saya kasih copy sertifikat tuh. Yang terima mamanya. Karena ibu lagi gak di rumah. Saya kan pengen tahu berapa biaya pengurusan sertifikat dari HGB menjadi Hak Milik. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya bu, saya sudah terima copy sertifikatnya tapi saya tidak tahu nomor telpon ibu. Seharusnya ibu menghubungi saya. Karena ibu tidak meninggalkan nomor telpon dan tidak menghubungi saya, maka saya belum hitung biayanya karena saya juga tidak tahu ibu mau buat apa.” Jawab saya berusaha sabar. Padahal dalam hati sudah kesal banget. Sudah telpon malam-malam, ngomongnya gak sopan. Seenaknya aja nyuruh saya telpon dia. Nomor telponnya aja nggak tahu. Lagian, dimana-mana juga klien yang telpon notaris,bukan notaris yang nelpon klien kecuali memang penting sekali. Kerjaan saya kan nggak cuma ngurusin satu klien.  Kayak dia mau kasih order gede aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya kasih kok nomor telponnya.” Kata ibu Desy masih dengan suara ‘belagu’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa? Sebentar ya,bu..saya lihat dulu.” Ujar saya lalu mengambil copy sertifikatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana, bu? Di copy sertifikat ini, ibu gak nulis apa-apa. Gak ada nomor telpon ibu di sini.” Kata saya kemudian setelah melihat copy sertifikatnya.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kan papanya bu Fanny pasti punya nomor telpon saya. Dulu, papanya kan beli rumah sama saya. Pasti dia simpan nomor telpon saya.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, walaupun papa saya simpan nomor telpon ibu, tetap saja ibu harus ngasih nomor telpon ibu kalau ingin dihubungi oleh saya. Saya kan nggak kenal ibu. Lagipula, urusan kantor jangan dikaitkan dengan orang tua saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O..ya udah deh, kalau gitu ibu Fanny bisa kasih tahu berapa fee pengurusan sertifikat itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, besok saja ya. Ini sudah diluar jam kantor. “ Ujar saya berusaha sabaaaaarrr..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok saya mau ke Bandung, bu. Ibu bisa hubungi saya di nomor ini….” Dia menyebutkan nomor telpon rumah dan nomor hape suaminya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Iya, besok pagi saya telpon deh.” Jawab saya pendek dan bete abis. Sambil dalam hati ngomel : Emang apa urusannya sama gue? Mau ke Bandung kek, ke Singapura kek. EGP!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar jawaban saya, baru deh ibu Desy yang nyebelin itu puas dan mengakhiri pembicaraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuh, ketemu satu lagi klien yang kayak gini bisa jadi kribo rambut saya. Bener-bener nggak punya etika. Sudah maksa nanyain fee pengurusan sertifikat malam hari, pake ngotot pula bilang udah ngasih nomor telpon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa saya aja sampai sebel mendengarnya. Karena papa saya sudah tidak simpan nomor telponnya. Pembelian rumah itu kan terjadi beberapa tahun lalu. Mana disimpan sih nomornya. Lagian, memangnya dia siapa? Ratu? Presiden? Mesti disimpan nomor telponnya sampai bertahun-tahun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia merasa kenal dengan papa saya sehingga bisa seenaknya sama saya. Lha,kenal juga cuma karena pernah beli rumahnya. Bukan kenal beneran. Taruh pun kenal beneran, nggak ada urusan sama saya. Saya tetap akan jalanin kantor saya sesuai aturan saya selaku pemilik. Mau dia teman papa saya, sobat mama saya, tetap aja nggak akan bisa memengaruhi saya untuk menyimpang dari aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugh, benar-benar sedang diuji nih kesabaran saya. Kalau nggak mikir, dia itu calon klien, rasanya udah mau ngomelin aja tuh. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1984024401676496256?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1984024401676496256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1984024401676496256&amp;isPopup=true' title='20 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1984024401676496256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1984024401676496256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/01/klien-tidak-sopan-santun-lagi.html' title='KLIEN TIDAK SOPAN SANTUN (LAGI)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4724229946268990688</id><published>2010-01-04T09:02:00.002+07:00</published><updated>2010-01-04T09:36:27.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>TERPAKSA MEMECAT</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Akhir Desember tahun lalu, saya terpaksa memecat seorang kurir freelance. Sungguh enggak enak banget harus mengakhiri hari di akhir tahun dengan melakukan tindakan 'tega' ini. Tapi, saya toh harus bersikap tegas. Saya tidak bisa diam begitu saja menghadapi kelakuannya. Kesabaran saya ada batasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya mau buat "Buku Dosa" untuk kelakuannya, mungkin sudah setebal tembok Cina. Oke, saya catat saja beberapa kelakuan/perbuatan yang sangat amat menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;- Dokumen sering menginap di rumahnya lebih dari 2 hari. Padahal, sudah saya pesan agar segera diantarkan ke klien. Saya nggak bisa membayangkan jika rumahnya kebanjiran atau...lebih parahnya lagi kebakaran, bagaimana dengan nasib dokumen itu? Apa yang harus saya katakan kepada klien? Apalagi jika itu dokumen asli seperti : sertifikat tanah. Berapa kerugian yang harus saya tanggung? Belum lagi saya harus kehilangan kepercayaan dari klien. Saya sudah tegur dia berkali-kali, tapi kadang-kadang masih saja bandel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Titipan uang yang jumlahnya tidak seberapa untuk pembayaran fee pengurusan pengesahan PT pernah ditilep. Alasannya mau bayar hutang. Kalau memang butuh uang, kenapa tidak bilang terus terang? Saya toh bisa memberikan pinjaman asalkan jumlahnya tidak terlalu besar. Lagipula, seharusnya dia menyadari bahwa dengan gaji sekian harus hidup lebih hemat. Jangan berfoya-foya. Maunya membeli barang-barang elektronik yang canggih. Itu namanya lebih besar pasak daripada tiang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perbuatannya ini, saya maafkan setelah dia berkali-kali minta maaf dan pengembalian uang dilakukan dengan cara mencicil. Dipotong dari gajinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, belum lama ini dia ulangi perbuatan itu. Kali ini yang ditilep adalah uang untuk MPD (Majelis Pengawas Daerah). Memang uang sukarela (boleh berapa saja) karena MPD kan butuh dana untuk penyimpanan laporan bulanan dari para notaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menangkap perbuatannya ini ketika saya meminta staff yang lain untuk mengantarkan laporan bulanan ke MPD sekaligus memberikan uang sukarela itu. Salah seorang staff MPD heran melihat kali ini yang mengantarkan laporan bulanan bukan kurir. Lalu, dia mengatakan bahwa kurir saya itu mengaku tidak pernah diberikan uang oleh saya untuk bayar ke MPD. Bahkan, dia memakai uangnya sendiri. Keterlaluan banget kan? Masa saya setega itu sama dia? Itu namanya sudah nilep uang untuk MPD, memfitnah saya pula. Dan, saya nggak tahu sudah berapa bulan dia melaksanakan aksi tilepnya itu? Berapa sering dia menjelek-jelekkan nama saya di depan staf MPD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kelakuan yang satu ini, saya pura-pura nggak tahu. Saya malas menegur dia karena saya tahu pasti dia akan berkilah dengan sejuta alasan. Saya masih kasihan sama dia karena saya tahu dia punya keluarga. Kalau dipecat saat itu juga, bagaimana dengan anak dan isterinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya lakukan agar dia nggak nilep lagi, saya tidak pernah menyuruh dia mengantarkan laporan bulanan ke MPD. Saya menyuruh staff yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sejak akhir Nopember sampai awal Januari dia tiba-tiba menghilang. Dua nomor hapenya nggak bisa dihubungi. Dia nggak punya nomor telpon rumah, jadi saya benar-benar kehilangan jejaknya. Apakah saya harus ke rumahnya? Lha, tempat tinggalnya saja nggak jelas. Sering pindah kost. Hampir tiap hari saya coba hubungi nomor hapenya, tetap saja nggak aktif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sampai heran, apakah dia masih hidup? Apakah dia mengalami kecelakaan? Untungnya, tak ada dokumen penting yang masih dipegang olehnya. Gajinya juga sudah saya lunasi semua. Atau..barangkali dia ingin berhenti? Tapi, kenapa tidak ngomong terus terang? Kenapa menghilang begitu saja? Mana letak sopan santunnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah mencoba menghubunginya berkali-kali dengan hasil nihil, saya pun berpikir mungkin dia sudah tak ingin bekerja lagi pada saya. Mungkin memang sudah begitu sifatnya. Berhenti seenaknya tanpa permisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, ketika dia nongol di akhir Desember dan meminta untuk membantu saya lagi. And, mau tahu alasannya kenapa dia menghilang begitu saja? Karena boss-nya yang lain (karena freelance, dia bekerja pada 3 boss) tidak mengijinkan dia menjadi kurir di tempat lain. Alasannya yang enggak make sense. Kalo toh memang demikian, kan tetap bisa kasih kabar. Kirim SMS kek. Kasih tahu, tidak bisa bantu lagi karena...bla bla...bla..Jelaskan saja alasannya. Toh, saya nggak akan maksa dia untuk tetap membantu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tegur, dia hanya minta maaf dan bilang pikirannya sedang ruwet. Ooh, begitu? Pikiran ruwet jadi bisa dimaafkan untuk bertindak seenaknya? Dia anggap saya apa sih? Tapi, saya nggak mau marah-marah lagi. Saya katakan saja baik-baik bahwa saya nggak bisa membantunya lagi. Meskipun dia memohon berkali-kali untuk bisa bekerja sebagai kurir freelance di kantor saya, tapi keputusan saya sudah final. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  harus tegas karena kalau saya berikan dia kesempatan lagi, maka dia akan semakin ngelunjak. Saya sudah cape menghadapi kelakuannya. Memangnya hanya dia yang bisa membantu saya? Masih banyak orang yang mau menjadi kurir di tempat saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh, terkadang jadi orang terlalu baik memang serba salah. Tapi, biarlah ini jadi pengalaman buat saya agar bisa bersikap lebih tegas dan 'galak' terhadap semua pegawai saya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4724229946268990688?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4724229946268990688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4724229946268990688&amp;isPopup=true' title='21 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4724229946268990688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4724229946268990688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2010/01/terpaksa-memecat.html' title='TERPAKSA MEMECAT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>21</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5748531563491482290</id><published>2009-12-02T12:38:00.001+07:00</published><updated>2009-12-02T13:38:13.093+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>SURAT ASLINYA MANA?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Baru saja kedatangan klien, seorang bapak-bapak setengah baya. Dia membawa surat-surat berupa Akte Jual Beli dan Keterangan Waris yang dibuat dibawah tangan. Dengan suaranya yang medok jawane dan sedikit terbata-bata, dia menjelaskan ingin minta legalisir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Legalisir apa, pak?" Tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anu..bu...saya mau ngasih tanah saya yang di Malang buat anak saya. Terus, dari sana minta dilegalisir." Katanya sambil menunjukkan surat-suratnya yang semuanya fotocopy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh....surat mana yang mau dilegalisir?" Tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak tahu, bu." Dia bingung. "Kayaknya sih semua surat-surat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asli-asli suratnya mana, pak?" Tanya saya lagi, karena kalau mau dilegalisir berarti ada surat-surat aslinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ndak ada tuh, bu. Semua surat asli ada di Malang."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya tersenyum lalu menjelaskan kalau surat asli harus dibawa. Bila memang ingin dilegalisir berarti aslinya diperlihatkan kepada saya. Kemudian fotocopy surat itu akan saya cap : Fotocopy ini sesuai aslinya. Dan, dibubuhi tanda tangan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang klien garuk-garuk kepala. "Lha, surat aslinya di Malang toh, bu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu minta Notaris Malang saja yang legalisir, pak. Karena saya nggak bisa sembarangan melegalisir tanpa melihat aslinya." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yo wis, bu....saya permisi aja. Rumit ternyata ya..." pamitnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....ternyata banyak orang yang tidak  mengerti hukum. Mungkin para mahasiswa yang kuliah di Magister Kenotariatan bisa diminta mengadakan penyuluhan hukum kepada masyarakat. Tentunya dengan dibantu para Notaris atau para asisten Notaris yang sudah punya pengalaman kerja. Tapi,apa nggak terlalu idealis nih? Secara penyuluhan itu kan diberikan gratis. Entah…&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5748531563491482290?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5748531563491482290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5748531563491482290&amp;isPopup=true' title='20 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5748531563491482290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5748531563491482290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/12/surat-aslinya-mana.html' title='SURAT ASLINYA MANA?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>20</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-6158808441932455224</id><published>2009-11-10T14:00:00.004+07:00</published><updated>2009-11-10T15:43:32.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='serba serbi'/><title type='text'>NOTARIS JUGA KENA AUDIT</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Setiap tahun kantor Notaris akan diperiksa oleh MPD (Majelis Pengawas Daerah). Yang diperiksa adalah administrasi kantor (protokol) seperti : buku-buku repertorium, buku-buku register, dll. Termasuk plang Notaris, apakah sudah sesuai ukurannya (menurut peraturan yang berlaku), kemudian lemari-lemari penyimpanan akta, alamat kantor apakah masih sama atau sudah pindah, pernah cuti atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kantor Notaris pun diaudit setiap tahunnya karena itu pekerjaan kami tidak bisa dianggap main-main. Walaupun masyarakat seringkali berpikir : "Enak banget jadi Notaris. Tinggal tanda tangan dan ngecap dapat duit." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kami juga diperiksa dan bisa ditegur oleh MPD jika ada kesalahan baik dalam pembuatan akta maupun dalam hal administrasi kantor. Semua protokol (termasuk akta-akta yang dibuat) juga harus dijaga dengan baik. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya pernah ditanya oleh seorang klien mengenai akta-akta yang saya buat. Apakah disimpan dengan baik? Rupanya, klien ini heran akan besarnya biaya akta. Setelah saya jelaskan akan tanggung jawab dan bagaimana akta tersebut disimpan, barulah dia mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelaskan pula, kalau semua akta yang dibuat notaris harus disimpan sampai notaris ybs pensiun. Dan, setelah pensiun akta-akta tersebut harus diserahkan pada Notaris lain (biasanya ditunjuk oleh MPD atau meminta rekan notaris yang satu wilayah untuk mengambil protokolnya). Jadi, setiap akta yang dibuat meskipun sudah bertahun-tahun lalu tetap disimpan. Kecuali, terjadi kebakaran atau bencana alam seperti : gempa, tsunami,dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jangan cemas bila suatu hari salinan akta yang dibuat Notaris hilang, karena masih bisa diminta kepada Notaris pembuatnya. Tentu saja ada biaya untuk mendapatkan salinan akta tersebut. Sedangkan, minit akta (asli akta) tetap disimpan di lemari penyimpanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, Notaris juga kena audit/pemeriksaan, jadi ...mana berani menghilangkan akta-akta yang sudah ia buat?&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-6158808441932455224?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/6158808441932455224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=6158808441932455224&amp;isPopup=true' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6158808441932455224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6158808441932455224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/11/notaris-juga-kena-audit.html' title='NOTARIS JUGA KENA AUDIT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2808979660848279570</id><published>2009-10-28T18:04:00.004+07:00</published><updated>2009-10-28T18:16:22.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>KOK, DIPANGGIL POLISI SIH?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan hadir di sebuah acara yang diadakan oleh organisasi profesi yang saya ikuti. Dalam acara itu, saya bercakap-cakap dengan seorang Notaris wanita yang masih muda. Ya, kurang lebih sebaya dengan saya deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan tentang pengalamannya ketika dipanggil polisi. Saya pikir, ada kesalahan atas akta yang ia buat. Ternyata bukan. Dia dipanggil polisi karena ada kliennya (yang pernah bikin akte pendirian PT di kantornya) yang ribut dengan rekan bisnisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, entah apa alasannya, polisi memanggil dia sebagai saksi. &lt;br /&gt;"Lha, saksi apa? Kan kamu cuma buat akte PT nya." Tanya saya bingung.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Itu dia, aneh kan? Klien saya yang ribut, kok saya dipanggil. Kecuali saya buat akta kerjasama atau apa yang berkaitan dengan bisnis tuh klien sama partner bisnisnya. Wong, saya cuma buat akte pendiriannya aja. Polisi itu juga muter-muter nanyanya. Gak jelas maunya apa. Mungkin, mereka pikir kalo manggil Notaris, pasti dapat duit. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, saya jadi kasihan melihat rekan saya itu. Untunglah, masalah dia akhirnya diselesaikan oleh Majelis Pengawas Daerah (MPD) yang memang bertugas mengawasi dan mengayomi para notaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami rekan saya itu membuat saya berpikir :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menjadi Notaris memang harus banyak berdoa nih. Soalnya, para penegak hukum suka seenaknya memanggil Notaris.  Kalo lagi apes, ada aja masalahnya. Seharusnya, mereka lihat dulu apa kaitannya. Jangan sesukanya saja panggil Notaris. Bukan begitu caranya mencari uang. Lagian, Notaris itu bukan sumurnya duit. Hare gene, bisnis sepi, Notaris juga sepi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigh mode on.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2808979660848279570?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2808979660848279570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2808979660848279570&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2808979660848279570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2808979660848279570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/10/kok-dipanggil-polisi-sih.html' title='KOK, DIPANGGIL POLISI SIH?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2291980754483978352</id><published>2009-10-22T13:29:00.003+07:00</published><updated>2009-10-22T15:17:44.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>BERITA BURUK DARI KLIEN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Baru saja dapat telpon dari salah satu klien tentang kemungkinan order akte ke kantorku akan dihentikan untuk sementara waktu. Semua ini karena mereka ingin menghemat cost sehingga akta yang tidak perlu dibuat ditiadakan untuk sementara waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat resah juga sih mendengar berita buruk ini. Karena klien saya itu merupakan klien tetap yang banyak memberikan pemasukan bagi kelancaran kantor saya. Tetapi, segala sesuatunya saya serahkan sama yang di atas saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya masih ada job lain yang akan menghidupi kantor saya dan para staff saya. Bukankah rejeki sudah ada yang mengatur? Tinggal bagaimana kita mengelolanya saja. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Saya hanya cemas saja memikirkan para staff saya. Mereka kan tetap harus digaji. Untunglah, saya belum punya banyak staff. Kalau tidak, saya tak bisa membayangkan jika harus mem PHK salah satu dari mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung juga (lagi-lagi prinsip si pak Untung nih), saya belum nambah jumlah staff. Lebih baik sedikit staff asal tetap bisa menggaji mereka. Daripada banyak staff akhirnya harus di PHK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang teman saya yang juga mendapatkan order dari klien yang sama malah sempat bingung karena staffnya sudah banyak. Kalau order dari klien itu dihentikan maka banyak staffnya yang nganggur. Terpaksa harus di 'rumahkan'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh,cari uang memang tidak mudah ya...Harga-harga naik tapi..job semakin sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2291980754483978352?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2291980754483978352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2291980754483978352&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2291980754483978352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2291980754483978352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/10/berita-buruk-dari-klien.html' title='BERITA BURUK DARI KLIEN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5644715507307740748</id><published>2009-10-13T14:53:00.003+07:00</published><updated>2009-10-13T15:12:28.509+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>PERLUNYA AKTA PERKAWINAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Akhir-akhir ini saya sering kedatangan klien ibu-ibu yang menikah secara adat dan agama saja, alias tidak buat akta nikah di Kantor Catatan Sipil. Akibatnya, ketika sang suami meninggal,dia dan anak-anaknya tidak dapat harta warisan sang suami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena menurut hukum yang berlaku, kalau tidak ada akta kawin maka harta warisan dari si almarhum jatuh ke saudara-saudara kandungnya dan orang tuanya (bila ortu masih hidup). Tentu saja, ini peraturan yang berlaku bagi WNI keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gak tahu kenapa semasa suaminya masih hidup mereka tidak buat akta kawin. Mungkin karena mereka gak ngerti atau memang sengaja gak mau buat karena takut mengeluarkan biaya. Entahlah. Yang pasti, akibatnya sang isteri dan anak-anak yang rugi. Apalagi kalau anak-anak masih kecil dan sang isteri tidak bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma saja, dapat harta peninggalan berupa rumah dari sang suami. Bila rumah itu atas nama suami tapi mereka tidak berhak mendapatkannya karena secara hukum dianggap bukan ahli waris, maka siap-siaplah gigit jari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih untung kalau saudara-saudara sang suami mau memberikan bagian mereka atas rumah itu kepada sang isteri dan anak-anaknya. Kalau saudara-saudaranya serakah,gimana?  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seperti yang dialami klien saya, sebut saja namanya ibu Cory. Dia datang pada saya dengan membawa sertifikat rumah atas nama almarhum suaminya. Dan, meminta saya untuk membalik nama rumah tersebut ke atas namanya. Lha, mana bisa begitu aja? Saya harus membuatkan keterangan warisan lebih dulu. Tapi, untuk buat keterangan waris, saya harus minta data-data para ahli waris seperti : akta kawin, akta lahir anak-anak, copy KTP, copy akta kematian suami, ganti nama, Surat WNI, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah akta keterangan waris jadi, baru saya bisa mengurus balik namanya (atas dasar akta keterangan waris itu) ke kantor pertanahan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ibu Cory tidak pernah membuat akta kawin ketika menikah dengan suaminya maka dia dan anak-anaknya tidak berhak atas rumah itu.  Kecuali, ketika masih hidup sang suami sudah pernah bikin akta wasiat yang isinya : mewasiatkan rumah itu kepada isteri dan anak-anaknya bila ia sudah meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar penjelasan saya, ibu Cory hanya bisa menghela nafas. Dia mengaku, sudah lama mencoba mengurus status rumah itu tapi terbentur pada masalah yang sama. Rupanya, dia sudah pernah ke kantor notaris lain tapi notaris lain juga tidak bisa mengurus balik nama sertifikat itu ke atas namanya dan nama anak-anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, peringatan buat teman-teman yang mau menikah. Jangan lupa bikin akta kawin di Kantor Catatan Sipil ya (buat yang non muslim). Buat yang muslim bisa ke KUA. Selain masalah harta, ini penting bagi status anak-anak yang akan lahir. Jangan sampai, disebut anak luar nikah.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5644715507307740748?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5644715507307740748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5644715507307740748&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5644715507307740748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5644715507307740748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/10/perlunya-akta-perkawinan.html' title='PERLUNYA AKTA PERKAWINAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3405203512163916351</id><published>2009-10-05T17:53:00.002+07:00</published><updated>2009-10-05T18:14:36.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>KAN KAMU BAPAKNYA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kemarin, seorang kenalan baru papa saya datang ke rumah. Sebut saja namanya pak Ali. Papa kenal dia karena pak Ali pernah membeli salah satu rumah kami. Dengan kata lain, sejak membeli rumah kami yang terletak di Cibinong itu, pak Ali menjadi SKSD sama papa saya. Sering ke rumah, ajak dinner bareng, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pak Ali mengajak papa bergabung dengan sebuah Yayasan yang akan dia dirikan bersama teman-temannya. Jelas aja, papa menolak karena baru kenal sekitar beberapa minggu. Kan belum ketahuan seperti apa watak sesungguhnya. Hare gene gitu lho, mana bisa percaya sama orang yang baru kenal? Apalagi bekerja sama bikin Yayasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa saya bilang : "Nanti kalau mereka berbuat jahat dengan kedok Yayasan, bisa-bisa papa ikut terlibat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju dengan pendapat papa saya. Bahkan, mewanti-wanti beliau untuk tidak terbujuk dengan rayuan pak Ali. Entah mengapa, feeling saya merasa gak enak melihat dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, ketika dia tahu saya notaris. Wah, langsung nanya-nanya segala macam sampai ke urusan pribadi. Udah married belum? Dll. Yang nyebelin, dia bilang gini : "Wah, bagus nih. Notaris pinter cari duit. Yang jadi suaminya bakal beruntung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak! Mau marah deh! Emang nape kalo isterinya notaris? Emang isteri yang kudu kasih makan suami? Ogah lha yauw! Dunia kebalik dong! Lagian, kalo mau cari isteri kaya mah jangan cari notaris. Gak semua notaris tuh tajir. Huh! Lagi-lagi, profesi notaris dipandang sebagai profesi yang basah. Cape deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dari semua ucapannya yang nyebelin itu, ada yang lebih nyebelin lagi. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Papa saya cerita kalau pak Ali ini mau buat akta Yayasan di kantor saya. Padahal, tetangga pak Ali di Cibinong ada yang notaris. Bahkan, akta jual beli rumah antara papa dengan pak Ali juga menggunakan jasa tetangganya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa saya pun menjawab : "Lho, kan pak Ali punya kenalan notaris di Cibinong. Bukannya biasa pakai jasa notaris kenalan pak Ali?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, kalau anak kamu bisa kasih harga lebih  murah sih, bikin aktanya di kantor anakmu aja." Jawab pak Ali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, kalo soal fee akta sih, jangan ngomong sama saya, pak." Ujar papa saya.&lt;br /&gt;"Langsung aja dengan anak saya. Itu kan urusan kantor dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, kan kamu bapaknya. Masa sih nggak bisa ngomong ke anakmu biar kasih harga murah?" Sahut pak Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf, pak....saya memang papanya Fanny, tapi kalo sudah urusan bisnis lebih baik bapak langsung sama Fanny." Kata papa saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi hi hi...jawaban papa saya memang top deh. Memang keterlaluan tuh si pak Ali. Rupanya memang ada maunya. Masa mau minta fee murah ngomongnya ke papa saya? Beliau memang orang tua saya, tapi nggak boleh ikut campur urusan kantor saya. Begitu pula, dengan urusan bisnis papa, saya nggak boleh ikut campur. Itu sudah  merupakan hukum tak tertulis di keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....anaknya yang notaris, bapaknya yang di pedekate. Dia pikir bisa ambil keuntungan kali kalo mendekati papa saya. No way!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3405203512163916351?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3405203512163916351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3405203512163916351&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3405203512163916351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3405203512163916351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/10/kan-kamu-bapaknya.html' title='KAN KAMU BAPAKNYA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4020590613563969414</id><published>2009-10-02T13:36:00.002+07:00</published><updated>2009-10-02T13:46:52.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>SENANGNYA DIPERCAYA KLIEN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tanyakan pada semua orang yang pekerjaannya memberi jasa, apa yang paling mereka senangi dari pekerjaan mereka selain uang? Mungkin salah satu jawabannya adalah DIPERCAYA KLIEN. Yup! Karena kepercayaan itu mahal harganya. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan dari seorang klien.  Apalagi bagi seorang Notaris baru, karena itu ketika belum lama ini ada Klien yang sudah mentransfer biaya akta sebelum tanda tangan akta, saya jadi merasa gimana gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sih,klien ini sudah dua kali buat akta di kantor saya, jadi dia sudah yakin banget sama saya. Tapi, tetap saja saya merasa sangat dihargai. Jumlah fee-nya sendiri tidak seberapa besar. Tapi nilai kepercayaannya itu sangatlah besar di mata saya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Terus terang, saya sempat kaget juga ketika dia menanyakan norek saya. Padahal belum tahu kapan mau signing. Saya malah yang tidak enak hati, karena merasa belum kerja apa-apa tapi sudah dibayar. Untunglah, tak lama kemudian dia datang untuk tanda tangan. Jadi, perasaan berhutang pun tak lagi menguasai hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, senangnya mendapatkan kepercayaan dari klien. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4020590613563969414?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4020590613563969414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4020590613563969414&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4020590613563969414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4020590613563969414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/10/senangnya-dipercaya-klien.html' title='SENANGNYA DIPERCAYA KLIEN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-9187949973095962498</id><published>2009-09-25T14:31:00.002+07:00</published><updated>2009-09-25T14:43:01.687+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>ORDER DI HARI LIBUR</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa hari lalu, saat sedang asik bw, hape saya berbunyi. Hmm, siapa sih? Lagi libur gini kok nelpon sih? Nomornya gak dikenal pula. Nyesel juga nih nyalain hape. Secara saya paling malas diganggu kalo lagi ngeblog. Mana inet lemotnya amit-amit. Mau bw ke satu blog aja kayak mau upload foto segede bagong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun malas, saya terima juga tuh panggilan. Ternyata dari salah seorang klien. Astaga! Rasanya saya sudah ingin bilang, "Maaf, pak...Kalau mau bicara soal pekerjaan, nanti saja tgl 28. Saat ini kantor saya sedang libur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, seperti biasa semua ucapan itu hanya muncul dalam hati. Klien kan raja. Masa sih dijutekin? Alhasil, saya tanya saja ada keperluan apa. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ternyata...oh, ternyata dia minta dibuatkan akta. Bukan cuma 1 akta tapi 4 akta. Tentu saja bukan sekarang buatnya. Nanti setelah liburan selesai.&lt;br /&gt;Tapi karena ada masalah urgent yang ingin ditanyakan, dia terpaksa menelpon saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasuds, jadilah konsultasi gratis via telpon di hari libur itu. Hmm, untung juga hape gak dimatikan. Padahal, saya sering mematikan hape bila hari libur. Karena saya nggak mau diganggu klien-klien yang suka seenaknya nelpon meski tahu itu hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, lumayan deh! 4 akta bisa untuk membayar biaya operasional kantor bulan depan dan sisanya masih bisa buat beli novel. He he he.....&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-9187949973095962498?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/9187949973095962498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=9187949973095962498&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/9187949973095962498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/9187949973095962498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/order-di-hari-libur.html' title='ORDER DI HARI LIBUR'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5374466770735932878</id><published>2009-09-18T13:11:00.002+07:00</published><updated>2009-09-18T13:16:17.219+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>NOTARIS BUKAN LUMBUNG DUIT</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Saya suka heran dengan persepsi orang pada umumnya tentang seorang Notaris. Banyak yang berpikir, kami ini mudah memperoleh duit, banyak duitnya, kaya raya, dll. Enggak heran, ketika orang tahu pekerjaan saya, timbul komentar-komentar seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, Notaris. Asik dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanda tangannya mahal lho! Yang bisa nyaingin cuma gubernur BI.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banyak duit dong! Kerjanya enteng, tinggal teken, duit datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaelah, susah deh kalau ngomong sama manusia yang enggak ngerti resiko dan tanggung jawab sebagai Notaris. Paling kalo sudah begitu, saya hanya bisa mesem-mesem. Kalo lagi rajin ngomong, biasanya saya akan jelaskan bahwa jadi Notaris tuh tanggung jawabnya dibawa mati, bla bla.bla…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, enggak semua Notaris tuh koaya roaya. Enggak semua Notaris gampang mendapatkan doku, enggak semua Notaris tanda tangannya mahal. Alih-alih nyaingin tanda tangannya gubernur BI, mau dapat order aja susah. Karena enggak semua Notaris bisa bersikap koboy alias hajar terus yang penting duit masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada Notaris yang idealis dan menjunjung tinggi jabatannya sehingga TIDAK SUDI melanggar Peraturan Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris. Masih banyak Notaris yang lebih memilih ketenangan dunia dan akhirat ketimbang uang yang sifatnya enggak kekal.  Notaris-notaris semacam ini biasanya enggak termasuk kategori RICH.  Mungkin masuk dalam golongan ENOUGH alias cukup makan, minum, pakaian dan enggak sampai meminta-minta. He he he….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, karena persepsi tentang HOW RICH nya seorang Notaris, maka banyak orang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Seperti yang dialami oleh rekan saya, seorang Notaris Bogor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, teman saya ini (sebut saja namanya si Susy) berniat membeli buku Repertorium (salah satu buku yang wajib dimiliki para notaris) sama pak Budi (nama samaran), seorang penjual buku-buku administrasi Notaris.  Tapi ketika ditanyakan harganya, ternyata pak Budi meminta harga yang lebih tinggi dari  biasanya.&lt;br /&gt;Tentu saja Susy kaget dan bilang begini :&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;“Lho, pak! Kok, jadi mahal begitu? Baru  seminggu yang lalu, teman saya beli tuh buku. Harganya enggak semahal  ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya..bu…kan bentar lagi lebaran. Ibu mesti kasih THR dong ke saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal itu, Susy membatalkan niatnya beli buku sama pak Budi.  Dia &lt;br /&gt;menceritakan hal ini kepada saya sambil marah-marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa sih dia minta THR sama gue? Emang dia pegawai gue? Udah bagus, gue mau beli buku sama dia. Kayak enggak ada penjual buku lainnya aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susy benar! Peraturan dari mana tuh menaikkan harga buku dengan alasan minta THR. Jangan mentang-mentang berhadapan dengan seorang Notaris, jadi seenaknya mau meminta-minta THR.  Lagipula, mana ada kewajiban bayar THR kepada seorang penjual buku? Ada-ada saja tuh pak Budi. Matrenya gak ketulungan deh! Mencoba ambil kesempatan dalam kesempitan, akhirnya gigit jari.  Bukunya jadi batal dibeli. Salah sendiri ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini masih belum seberapa. Ketika saya masih bekerja sambil magang di sebuah kantor notaris, boss saya sering didatangi  bu Santi (nama samaran) mantan seorang pegawai sebuah instansi pemerintah. Apa lagi yang dicari kalau bukan uang? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu Santi yang sudah pensiun ini selalu datang membawa anak perempuannya yang cacat mental. Mulanya, boss saya kasihan melihat anaknya. Beliau selalu memberikan sejumlah uang karena rasa kemanusiaan. Tapi, bu Santi jadi ketagihan. Setiap kali dia butuh uang, dia pasti ke kantor boss saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lambat-laun boss saya jadi kesal sama bu Santi dan sering menolak bertemu dengannya. Bahkan, boss saya juga gak mau lagi memberinya uang. Ya iyalah, masa minta-minta terus? Emang boss saya gudang duit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucunya, bu Santi ini seperti gak punya rasa malu. Kalau boss saya enggak ada, dia ngotot menunggu. Terpaksa deh, kami para karyawannya menelpon boss agar jangan kembali ke kantor buru-buru. Soalnya, kami juga sudah kesal sama kelakuan bu Santi. Minta kok maksa sih? Kadang, sudah diberikan sejumlah uang masih saja merasa kurang. Alasannya, anaknya butuh obat ini itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, susahnya jadi Notaris. Selalu dianggap lumbung duit. Cape deeeh!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5374466770735932878?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5374466770735932878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5374466770735932878&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5374466770735932878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5374466770735932878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/notaris-bukan-lumbung-duit.html' title='NOTARIS BUKAN LUMBUNG DUIT'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1706128506404334952</id><published>2009-09-15T14:31:00.003+07:00</published><updated>2009-09-15T14:45:39.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>NALURI SEORANG AYAH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Dalam postingan &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/09/klien-malam-hari.html" target="_blank"&gt; KLIEN MALAM HARI &lt;/a&gt;, saya pernah menceritakan kalau saya malas terima klien malam hari. Tapi, yang namanya rejeki memang tidak bisa ditentukan oleh waktu. Rejeki bisa datang setiap saat dan bisa pergi setiap detik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, saya sedang asik membaca koran ketika pintu pagar diketuk. Saya langsung menebak, jangan-jangan klien nih. Kebetulan, papa saya sedang ada di ruang tamu. Papa bangkit dari duduknya dan menghampiri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh, bilang aja udah tutup kantornya, pa. " Ujar saya sebelum papa sempat  bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa diam saja. Disibaknya sedikit tirai jendela. Mengintai sosok sang tamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayaknya dia punya urusan penting deh, Fan. Udah terima aja deh. Kasihan, malam-malam ke rumah masa gak ketemu kamu." Ujar papa kemudian sambil menutup tirai jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terpaksa mengangguk. Yah, walaupun sedikit sebal tapi saya percaya sama naluri papa yang kadang bisa setajam silet. Apalagi papa saya cukup lihai dalam menilai watak seseorang. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Begitu yakinnya papa akan sang klien, pintu pagar pun dibuka oleh beliau. Dipersilakannya sang klien masuk dan duduk di ruang tamu. Setelah basa-basi sejenak dengan saya, klien itu pun mulai menceritakan maksud kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dia mau buat akte Hibah. Neneknya punya sejumlah uang dan perhiasan yang ingin dihibahkan kepada 2 orang cucunya. Salah satunya adalah dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menanyakan fee dan syarat-syarat yang dibutuhkan, dia pun pulang dengan janji akan membawa semua dokumen yang saya minta untuk keperluan pembuatan akte Hibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dia pulang, saya pun melanjutkan bacaan saya. Sama sekali tak berharap klien itu akan datang lagi untuk membuat akte di kantor saya. Soalnya, sudah terlalu sering kedatangan klien yang cuma TTD = tanya-tanya doang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika keesokan harinya dia muncul lagi sambil membawa dokumen yang dibutuhkan, saya sempat kaget juga. Saya ceritakan kepada papa saya. Dan, papa hanya tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, akte Hibah yang ia minta sudah ditandatangani. Bahkan, bukan hanya 1 akta Hibah, melainkan 2 akte karena adiknya juga diberikan hibah oleh neneknya. Sekali tepuk dua lalat kena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, naluri seorang ayah memang tidak bisa disepelekan. Bisa-bisanya, papa saya yakin kalau klien yang nyaris ditolak itu adalah klien yang serius mau buat akte. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1706128506404334952?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1706128506404334952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1706128506404334952&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1706128506404334952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1706128506404334952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/naluri-seorang-ayah.html' title='NALURI SEORANG AYAH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7927873067204005903</id><published>2009-09-11T12:02:00.006+07:00</published><updated>2009-09-11T12:25:53.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>TERPAKSA NOLAK ORDER</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Tidak semua permintaan bikin akte dari klien bisa dikerjakan. Seperti kejadian yang baru saya alami tadi pagi. Ada klien mau menyewa sebuah ruko untuk kantor cabangnya. Tapi, ketika saya minta data-data objek yang disewakan, sang klien bilang, ruko tersebut dioper sewa ke dia. Jadi, semula ruko itu disewa oleh PT. A dari PT. B (pemilik ruko tersebut), tetapi oleh PT. A disewakan lagi ke klien tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terjadi demikian maka PT. B selaku pemilik ruko harus memberi persetujuan tertulis bahwa ia setuju rukonya dioper sewa ke pihak lain. Selaku Notaris, saya juga harus melihat akta perjanjian sewa antara PT. A dan PT. B. Benarkah ada klausul yang menyatakan bahwa ruko tersebut boleh dioper sewa oleh si penyewa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa jawab sang klien?&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"PT. B gak bisa kasih persetujuan karena dalam perjanjian sewanya juga yang tanda tangan bukan PT. B tetapi PT. C selaku anak perusahaan dari PT. B. Jadi, nanti kalo saya bikin akte sewa di kantor ibu, yang teken juga si PT. C."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, hebat bener! Pikir saya. Masa, bukan pemilik bisa tanda tangan akte sewanya. Meskipun anak perusahaan tetap saja itu badan hukum yang berbeda. Akhirnya, saya minta copy perjanjian sewa antara PT. A dengan PT. B. Benarkah yang tanda tangan di akte tersebut adalah PT. A dengan PT. C ? Karena bisa saja itu terjadi bila PT. B memberi kuasa kepada PT. C untuk tanda tangan akta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tampaknya sang klien tak bisa menunjukkan perjanjian sewa tersebut. Terpaksa deh saya tolak permintaannya bikin akte sewa di tempat saya. Walaupun dia ngotot, tetap tidak bisa dipenuhi keinginannya. Toh, yang saya lakukan adalah untuk kepentingan dia juga. Bagaimana kalau di tengah masa sewa, PT. B selaku pemilik berniat jahat dan mengatakan bahwa akte sewa tidak sah karena yang tanda tangan akte bukan mereka, melainkan PT. C. Kecuali mereka memberi kuasa kepada PT. C untuk teken akte. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarin deh dikatain Notaris sakleg. Yang penting, saya menjalankan tugas sesuai rambu-rambu hukum yang berlaku. Apalagi jika yang saya lakukan demi keamanan dan kepentingan sang klien. Yah, saya memang lebih memilih sedikit job (tapi safe) ketimbang banyak job tapi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7927873067204005903?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7927873067204005903/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7927873067204005903&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7927873067204005903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7927873067204005903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/terpaksa-nolak-order.html' title='TERPAKSA NOLAK ORDER'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-6581209195543483812</id><published>2009-09-09T07:58:00.002+07:00</published><updated>2009-09-09T15:33:04.213+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>KLIEN MALAM HARI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Salah satu kelemahan berkantor di rumah adalah sering didatangi klien pada malam hari. Padahal jam kantor sudah berakhir sejak pukul 17.00 tapi tetap saja ada klien yang nekad nongol di atas jam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa-masa awal saya membuka kantor Notaris, saya masih meladeni klien-klien yang datang di atas jam 17.00.  Karena saya pikir, baru buka kantor tentunya harus cari klien sebanyak mungkin. Tetapi, lambat-laun saya merasa terganggu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi enak-enak istirahat baca koran, tiba-tiba didatangi klien.  Sedang asik menikmati makan malam bersama keluarga, pintu pagar diketuk. Padahal klien yang datang malam hari ini seringkali cuma nanya-nanya doang alias konsultasi gratis. Kadang, yang ditanyakan diluar kewenangan saya sebagai Notaris. Misalnya saja, ada klien yang datang menanyakan kasus perceraian.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Karena saya bukan pengacara maka saya jelaskan kalau ingin menggugat cerai bisa meminta bantuan pengacara. Tapi setelah dijelaskan, sang klien masih belum puas. Dia malah bertanya yang lainnya tentang hak-hak seorang isteri jika bercerai dengan pasangannya. Lalu, curhat segala macam mengenai suaminya, pembagian harta setelah cerai, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bertanya pun bukan satu orang. Kakak dan ibunya yang mendampinginya ikut bertanya aneka ragam. Dasar saya masih Notaris culun, semua pertanyaan dan percakapan enggak penting itu saya ladeni sampai jam menunjukkan pukul 22 malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata rasanya sudah berat banget. Mana ruang tamu saya banyak nyamuknya karena pintu depan sempat terbuka lebar. Dan….saya enggak mungkin menyemprotkan Baygon di saat percakapan sedang berlangsung. Kan enggak sopan. Ntar mereka pikir, saya mengusir mereka secara halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ternyata gigitan para nyamuk kelaparan di tubuh mereka secara tak langsung membuat mereka nggak betah duduk berlama-lama. Tangan mereka sibuk menepuk bagian-bagian tubuh yang digigit nyamuk. Alhasil, mereka pamit sendiri karena nggak tahan dikerubungi nyamuk dan mulut mereka juga menguap berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kejadian itu, saya berjanji ENGGAK AKAN MAU TERIMA KLIEN MALAM HARI LAGI. Saya bilang ke pembantu saya agar menolak klien-klien yang nongol di atas jam 17. Bilang saja, kantor sudah tutup. Kalau mau ketemu bu Notaris, besok aja. Begitu pesan saya pada pembantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hal ini tidak bisa diterapkan kalau yang nongol adalah teman-teman saya yang saya kenal dekat. Yah, demi persahabatan saya nggak mungkin menolak mereka. Sementara mau meminta mereka datang besok pagi atau siang, mereka yang nggak bisa karena harus masuk kantor. Enggak bisa bolos atau cuti hanya karena mau konsultasi dengan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, saya ambil jalan tengah. Meminta mereka ketemu di mal hari Sabtu atau Minggu.  Dan..cara ini lumayan berhasil. Setidaknya jam istirahat saya di malam hari tidak terusik. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-6581209195543483812?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/6581209195543483812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=6581209195543483812&amp;isPopup=true' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6581209195543483812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/6581209195543483812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/klien-malam-hari.html' title='KLIEN MALAM HARI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-19652546910391440</id><published>2009-09-02T14:45:00.004+07:00</published><updated>2009-09-02T15:07:08.474+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>KURIR TUKANG TILEP</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Saya punya pengalaman buruk dengan kurir saya yang sering diberi tugas untuk mengantar surat/dokumen kepada klien. Suatu ketika, saya minta dia untuk membayar uang sebesar Rp.200.000,- ke kasir suatu instansi pemerintah. Bukti pembayaran uang tersebut sangat diperlukan untuk proses pengesahan sebuah Perseroan Terbatas yang sedang saya urus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sampai 1 minggu lamanya, sang kurir tidak juga memberikan bukti pembayaran tersebut. Sementara, karena sibuk saya juga tidak ingat telah meminta dia melakukan pembayaran. Hingga suatu hari, ketika saya sedang mengecek dokumen PT ybs, saya baru sadar ternyata bukti pembayarannya belum ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tanyakan ke kurir tersebut tapi waktu itu dia sedang cuti. Ponselnya tidak aktif. Saya kelabakan. Karena ternyata salinan akta PT tersebut juga masih dipegang sama dia. Salinan akta itu dipinjam untuk ditunjukkan kepada petugas Dept. Kehakiman pada waktu pembayaran uang tersebut. Memang sih bisa di print ulang, tapi kan pemborosan waktu, tenaga dan kertas/pita. Lagipula, yang terpenting adalah bukti pembayarannya.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya, saya telpon ke temannya yang kebetulan saya kenal juga. Ternyata, kata temannya, kurir saya itu sedang terlibat hutang dengan sebuah bank karena dia sering kredit barang elektronik. Dia tidak menyalakan ponselnya karena takut pada Debt Collector yang mengejarnya. Pantesan! Pikir saya kaget. Berarti uang Rp.200.000,- itu di tilep dia dong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, ketika dia masuk kantor, saya langsung menginterogasi dirinya. Dia mengaku telah memakai uang tersebut dan berjanji akan membayarnya. Tetapi saya tahu kemungkinannya kecil. Akhirnya, saya bilang dipotong saja sama honor kamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, saya tidak pernah percaya lagi sama dia. Untuk urusan pembayaran saya serahkan pada staf yang satu lagi. Kadang, saya turun tangan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dulu ketika belum menikah kurir saya ini sangat jujur. Saya sering menyuruh dia menyetor uang untuk pengurusan dokumen dan ijin-ijin sampai jutaan rupiah, tapi lancar-lancar saja. Menurut ceritanya, isterinya sering minta dibelikan aneka barang elektronik. TV maunya yang layar datar. Kulkas minta diganti dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha, kalau mau dituruti yaaa..enggak ada abisnya. Saya hanya bisa menasihati dia agar bisa mengatur keuangannya. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian yang saya alami masih tidak seberapa parah. Saya pernah dengar ada rekan notaris yang uang kliennya untuk bayar PPH dan BPHTB dibawa kabur oleh karyawannya. Jumlahnya pun sangat besar. Terpaksa deh, rekan Notaris ini merogoh koceknya sendiri untuk menggantikan uang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, hare genee...memang tidak bisa terlalu percaya sama karyawan. Apalagi kalau urusan duit. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-19652546910391440?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/19652546910391440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=19652546910391440&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/19652546910391440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/19652546910391440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/09/kurir-tukang-tilep.html' title='KURIR TUKANG TILEP'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2920163620265574325</id><published>2009-08-27T15:31:00.002+07:00</published><updated>2009-08-27T15:57:35.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>ENGGAK BISA BASA BASI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Selain pelupa, staf yang kemarin saya ceritakan di &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/08/staf-pelupa.html" target="_blank"&gt; SINI &lt;/a&gt;, juga punya karakter pendiam. Tapi 'diam' nya sangat aneh. Diam yang saya maksud adalah ENGGAK BISA BASA-BASI. Padahal, dalam dunia kerja, basa-basi itu sangat diperlukan. Apalagi jika pekerjaan yang berkaitan dengan pemberian jasa kepada klien. Tentu, bibir ini harus sedikit dibuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, selama ini semua klien langsung berhubungan dengan saya. Tidak pernah saya serahkan kepada staf karena saya memang tipe perfeksionis. Selain itu, klien maunya ditangani langsung oleh saya. Apalagi jika berkaitan dengan biaya akta. Yang bisa memberi discount 'kan saya, bukan staf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, saya tidak terlalu mempermasalahkan kalau dia enggak bisa basa-basi sama klien. Tapi, karena kantor saya masih gabung dengan rumah ortu yang  notabene adalah tempat tinggal saya dan ortu, seharusnya dia bisa 'basa-basi' sedikit terhadap ortu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh : setiap pagi dia tiba di rumah saya, untuk naik ke lantai 2 (tempat kantor saya bercokol) pasti melewati ruang tamu dimana papa saya sering duduk  membaca koran pagi, tetapi dia enggak bisa mengucapkan SELAMAT PAGI, PAK...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ketika sedang mengambil gelas minum di lemari dapur, dia tidak bisa bilang pada mama saya  : Permisi, bu...saya mau ambil gelas. Padahal, posisi mama saya sedang berdiri dekat lemari dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, mama saya sedang mengiris bawang dekat lemari dapur, tiba-tiba dia nyelonong ambil gelas tanpa bilang apa-apa. Mama saya sampai kaget, kok tahu-tahu ada orang di belakangnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dulu, ketika saya meminta dia untuk makan siang  bersama saya karena di sekitar kompleks rumah saya tidak ada warteg atau restoran yang cukup dekat, setiap kali makan siang, dia tidak pernah menawari orang tua saya. Sekadar basa basi seperti : MAKAN, BU....PAK....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, papa saya jadi kesal melihat sifatnya. Dia dianggap tidak punya sopan santun. Lalu, saya pun memberitahu dia untuk bisa sedikit basa-basi. Dan, setelah diberitahu, dia mulai bisa mengucapkan selamat pagi ketika baru tiba, menawarkan makan setiap kali makan siang, pamit pada orang tua saya setiap kali dia mau pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hanya beberapa bulan saja. Tak lama kemudian, dia kembali pada sifat aslinya.&lt;br /&gt;Saya tegur lagi, dia berubah lagi. Lalu...lupa lagi. Sampai akhirnya, saya malas memberitahu dia untuk bersikap sopan. Saya sudah jelaskan, bahwa meskipun saya Boss-nya tetapi dia harus bisa bersikap ramah dan hormat terhadap penghuni lain di rumah saya. Dia hanya senyum kecil menanggapi teguran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena papa saya selalu kesal melihat sifatnya yang suka lupa nawarin makan, dll itu maka saya pun tidak lagi mengajak dia makan siang bersama. Saya beri saja dia uang makan walaupun dalam perjanjian kerja, gaji yang saya berikan sudah termasuk uang makan. Tapi, sudahlah...daripada saya pusing mendengarkan ocehan papa tentang sifatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya juga bingung kenapa staf saya ini punya sifat aneh begini? Dibilang pemalu, juga enggak. Kalau lagi mau cerita, dia bisa cerita juga. Tapi, entah mengapa mulutnya memang susah bersuara. Kadang, dia juga lupa bilang : Selamat pagi, bu. Padahal, jelas-jelas saya ada di ruang kerja. Tahu-tahu dia sudah nongol dan duduk di kursinya, siap mengetik. Kadang-kadang, bisa seharian kami kerja sambil diam-diaman. Kecuali saya tanya dan perintahkan ini itu baru dia jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib banget deh! Saya sampai pernah tanya, apakah waktu kecil dia sering sakit-sakitan? Ternyata memang iya. Apakah itu pengaruh karena dia pernah sakit step? Entahlah. Yang pasti, dia memang kurang smart. Tapi saya pertahankan karena saya lihat dia cukup jujur. Kalau saya perintahkan tugas luar untuk membayar sesuatu, dia bisa dipercaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akh, mungkin nanti kalau saya sudah punya kantor yang lebih lapang, tidak lagi gabung dengan rumah, saya akan tambah pegawai baru yang lebih smart. Saya harus mencari staf yang punya background pendidikan dari Fak Hukum. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2920163620265574325?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2920163620265574325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2920163620265574325&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2920163620265574325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2920163620265574325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/enggak-bisa-basa-basi.html' title='ENGGAK BISA BASA BASI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2553515794592394375</id><published>2009-08-25T18:19:00.002+07:00</published><updated>2009-08-25T18:36:57.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>STAF PELUPA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Selain menghadapi karakter klien yang beraneka ragam, menjadi Notaris berarti harus siap pula menghadapi karakter staf yang kadang aneh bin ajaib. &lt;br /&gt;Sebagai Notaris baru, staff saya tidaklah banyak. Tetapi tingkah mereka macam-macam. Salah satunya adalah staf saya yang biasa membantu saya mengetik akta, menulis buku-buku Repertorium, Register,dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anaknya sih baik, jujur dan lumayan rajin. Hanya saja, pelupanya ampuuuuun deh. &lt;br /&gt;Kalau enggak dimarahi, rasanya penyakit pikunnya tuh bercokol terus. Ditegur baik-baik enggak manjur. Pokoknya, untuk membuat dia ingat, suara saya harus disetel sedikit kencang volumenya. Kadang, kalo udah kesel banget, suara saya malah naik beberapa oktaf. Bukan sekedar marah lagi deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi minggu lalu, ketika dia menulis Buku Klapper yang merupakan sebuah buku yang berisi nama-nama para penghadap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang namanya penghadap pastilah orang yang datang menghadap saya dan membubuhkan tanda tangannya di akta yang saya buat. Hal ini sudah saya jelaskan sejak pertama kali dia masuk. Tetapi....&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;lagi-lagi dia membuat kesalahan yang sama. Ada sebuah akta Jaminan Fidusia dimana salah satu penghadapnya adalah Tuan A yang bertindak sebagai kuasa dari seorang Direktur sebuah PT. Jadi kalo diurutin, tuan A bertindak mewakili tuan C (Direktur), sedangkan tuan C bertindak mewakili PT dimana ia menjadi Direkturnya. Karena tuan C gak bisa hadir di kantor saya, maka dia memberikan kuasa kepada managernya si tuan A. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus seperti ini biasanya di kolom penghadap pada buku Klapper ditulis :&lt;br /&gt;1. tuan A qq :&lt;br /&gt;  - tuan C qq :&lt;br /&gt;  PT. ZZZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf saya sudah benar menuliskan seperti diatas. Tetapi, dia juga menulis seperti ini di kolom berikutnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. tuan C qq :&lt;br /&gt;   PT. ZZZ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, sudah jelas tuan C bukan penghadap. Tuan C tidak pernah datang ke kantor saya. Dia hanya memberi kuasa kepada tuan A. Lha, kenapa nama tuan C dimasukkan dalam Buku Klapper? Saya tegur staf saya dan saya test dia dengan menanyakan : Apakah kamu mengerti apa yang dimaksud penghadap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf saya malah bengong. Sambil menahan dongkol, saya pun menjelaskan apa yang dimaksud penghadap. Dia mengangguk mengerti. Tapi saya gak tahu apakah besok-besok bila ada case yang sama, dia masih ingat cara menulisnya. Karena kejadian ini sudah terjadi entah untuk ke berapa kalinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ajaib staf yang satu ini. Lagu-lagu Peter Pan, Ungu, Nidji dia hafal luar kepala. Bahkan, nama-nama asli seleb dia tahu, tapi kok, sama kerjaannya lupa? Duuuh, inilah kalo orang kerja hanya untuk dapat duit. Jadi, enggak dikerjakan dengan sepenuh hati. Apa yang diajarkan boss gak pernah mau diingat dan diperhatikan.&lt;br /&gt;Capeeee deh....&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2553515794592394375?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2553515794592394375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2553515794592394375&amp;isPopup=true' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2553515794592394375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2553515794592394375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/staf-pelupa.html' title='STAF PELUPA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-1049773899034307702</id><published>2009-08-20T14:01:00.002+07:00</published><updated>2009-08-20T14:19:02.539+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>NOTARISNYA DIDUKUNIN KALI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Masih berkaitan dengan postingan saya sebelumnya &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/08/merobek-salinan-akta.html" target="_blank"&gt; MEROBEK SALINAN AKTA &lt;/a&gt;, hari ini tuh Klien nelpon saya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang, Bpk A dan Bpk C akan datang untuk menandatangani Perjanjian Kerjasama yang baru, sehingga untuk selanjutnya dia tidak punya hubungan kerja lagi dengan Bpk C. Lalu, kembali dia menyebut soal salinan akta kerjasamanya dengan Bpk C yang ingin dirobek di depan saya. Dan....sekali lagi (sambil menahan dongkol), saya hanya bisa menjelaskan bahwa percuma saja merobek salinan akta itu karena minuta akta yang sudah diteken tetap ada di kantor saya, dan itu gak bisa dikutak katik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak komentar banyak kali ini dan hanya mengatakan kalau Bapak C dan Bapak A akan datang ke kantor saya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam 10.00, Bapak A, Bapak C dan Ibu D datang ke kantor saya. Mereka menjelaskan bahwa mereka ingin membuat kerjasama yang baru. Tetapi, tidak bisa dibuat saat itu juga karena ketika saya perhatikan ternyata anggaran dasar PT Bapak C belum dirubah sesuai dengan UU PT terbaru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, Bapak C berjanji akan merubah anggaran dasar PT nya lebih dulu karena memang dalam perjanjian kerjasama tersebut, Bapak C bertindak sebagai Direktur dari sebuah PT. Setelah itu baru akan dibuat kerjasamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara, Bapak C akan membuat Perjanjian kerjasama dibawah tangan tanpa bantuan Notaris. Syukurlah, pikir saya. Karena kalau sudah pernah timbul masalah, rasanya malas membuatkan aktanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari ucapannya, tampak sekali kalau Bapak C lebih suka dibuat dibawah tangan saja. Mungkin dia takut, kalau dibuat akta notariil akan punya bukti otentik yang lebih kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih bagus begitu, batin saya lega. Tapi, sebelum berlalu dari kantor saya, Bapak C cerita bahwa ketika sedang ribut-ribut dengan klien saya (yang pengen merobek salinan akta itu), klien saya sempat menuduh Bapak C seperti ini :&lt;div class="fullpost"&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Gak tahu kenapa aktanya kayak gini? Mungkin notarisnya didukunin sama Bapak C. Jadi buatnya begini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaganagasaki! Jadi, di belakang saya, tuh klien aneh menuduh saya sudah didukunin sehingga membuat isi akta perjanjian seperti itu. Padahal, ketika tanda tangan aktanya saya bacakan dengan lengkap dan jelaskan isi akta itu. Tak lupa, saya tanyakan apakah seperti ini kehendak para pihak. Dia mengangguk setuju dan gak koment apa-apa. Setelah ada kasus dan dia merasa dirugikan, seenaknya ngomong begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hhh...begitulah manusia! Setiap kali kepepet dan merasa frustrasi, otaknya langsung mengarah pada urusan perdukunan. Dasaaarrr!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sekali deh dapat klien model begini. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-1049773899034307702?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/1049773899034307702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=1049773899034307702&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1049773899034307702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/1049773899034307702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/notarisnya-didukunin-kali.html' title='NOTARISNYA DIDUKUNIN KALI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4342208622462454868</id><published>2009-08-18T13:33:00.002+07:00</published><updated>2009-08-18T13:52:02.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>MEROBEK SALINAN AKTA</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Masih ingat dengan postingan saya &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klien-duduz.html" target="_blank"&gt; KLIEN DUDUDZ &lt;/a&gt;? Nah, hari ini tuh Klien telpon saya (lagi-lagi ketika saya sedang lunch). Dia ingin mengalihkan kerjasamanya kepada temannya (sebut saja namanya Bpk. A). Jadi, untuk selanjutnya yang melakukan kerjasama itu adalah Bpk A dengan Bpk C. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa aja dibuat seperti itu. Hanya saja, saya mengusulkan agar Perjanjian Kerjasama awal antara dia dengan Bapak C dibuat pengakhirannya, sehingga jelas urutannya. Setelah diakhiri baru diadakan kerjasama lagi antara Bapak A dengan Bapak C. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dia gak mau. Dia bilang, gimana kalo aktanya dirobek aja di depan Notaris? Dia gak mau ada bukti tertulis bahwa antara dia dengan Bapak C pernah membuat suatu perjanjian kerjasama. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Alamak! Saya harus menyabarkan diri untuk menjelaskan. &lt;br /&gt;"Bu, salinan akta yang saya berikan kepada ibu memang bisa dirobek. Tapi, bukti tertulis tetap ada, yaitu minuta akta yang ada tanda tangan ibu dan Bapak C. Dan..bukti berupa minuta akta ini tidak boleh dirobek. Harus disimpan dalam lemari khusus yang ada di kantor saya. Semua akta yang saya buat, minutanya harus disimpan dengan baik dan rapi, bahkan dijahit dan dibundel. Setelah saya pensiun, semua minuta akta ini akan menjadi milik negara. Saya akan memberikannya kepada MPD (Majelis Pengawas Daerah)." Ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ibu ingin merobek salinan akta yang saya berikan, silakan saja. Itu hak ibu mau diapain tuh salinan, tapi bukti tertulis tetap ada di kantor saya." Lanjut saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klien saya terdiam lalu berkata : "Iya, saya tetap mau robek salinan aktanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasuds, pikir saya. Duh, memang gak mudah menjelaskan kepada orang yang gak ngerti hukum. Karena itu saya coba menjelaskan di blog ini mengenai SALINAN AKTA DAN MINUTA AKTA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minuta/minit akta adalah akta yang ditandatangani oleh para penghadap, Notaris dan saksi-saksi (2 orang pegawai Notaris). Atas dasar minit akta itu maka Notaris akan  membuatkan SALINAN AKTA yang merupakan salinan dari minit akta. Jadi, apa yang tertulis di minit akta itu tertuang di salinan. Lalu diberi meterai dan Notaris akan membubuhkan tanda tangannya di atas meterai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir salinan akta biasanya ditulis : DIBERIKAN SEBAGAI SALINAN YANG SAMA BUNYINYA. Maksudnya adalah bunyi/isi salinan akta ini sama dengan bunyi/isi minuta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga penjelasan ini bisa membuat kalian mengerti apa perbedaan salinan akta dan minuta akta. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4342208622462454868?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4342208622462454868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4342208622462454868&amp;isPopup=true' title='10 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4342208622462454868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4342208622462454868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/merobek-salinan-akta.html' title='MEROBEK SALINAN AKTA'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3774948602042867147</id><published>2009-08-16T16:24:00.003+07:00</published><updated>2009-08-16T16:59:01.541+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>PENAMPILANNYA MESTI SEPERTI IBU ITU</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Menyandang profesi Notaris tak hanya dituntut kecakapan, ketelitian dan keramahan dalam bekerja, tetapi juga penampilan yang serba rapi dan formil. Walaupun tak ada kode etik yang mengharuskan seorang Notaris memakai blazer (untuk yang wanita) dan kemeja berdasi yang kadang dilapisi dengan jas (bagi yang pria), tetapi..setiap kali ada signing atau pertemuan antar Notaris, pasti pakaian yang dikenakan oleh (sebagian besar) para Notaris adalah blazer dan kemeja berdasi/jas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga sih yang hanya memakai kemeja tanpa dasi dan jas. Dan buat yang wanita, ada pula yang hanya memakai blus dipadu rok/celana panjang. Tetapi 90 persen Notaris wanita yang hadir dalam pertemuan pasti memakai blazer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, memakai blazer tidak masalah. Selama bawahannya bukan rok karena saya anti pakai rok. Tetapi, saya suka tidak tahan dengan cuaca di Jakarta. Walaupun ruang pertemuan atau kantor klien ber AC tetapi tetap saja rasanya gerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya sering mengenakan kemeja yang berkesan formil untuk dipadu dengan celana panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi soal dandanan, tetap saja saya tampil apa adanya. Saya hanya memakai bedak dan lipstik warna pink atau oranye muda. That's it! Tak pernah sekalipun saya memakai maskara, rouge, eye shadow, eyelashes,dll. Caranya memakai pernak pernik make up itu saja saya tidak tahu. Even, anting dan kalung pun tak saya pakai. Saya memang tidak suka pakai anting (sejak kelas 6 SD sudah tidak pakai anting). Kalau cincin dan gelang saya memang hobi. Tapi itupun cincin jenis white gold yang kecil mungil (sesuai ukuran jari saya, he he he....). Sementara untuk gelang, saya suka yang terbuat dari white gold dan baja. Pokoknya, yang tidak menyolok mata deh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, penampilan saya dibandingkan ibu Notaris lainnya sangatlah sederhana. Malah, beberapa klien sempat mengira saya adalah asisten Notaris. Bukan sang Notaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dalam suatu pertemuan para Notaris, saya disapa oleh seorang Notaris senior. Dia mengira saya adalah seorang karyawati kantor Notaris yang sedang menemani bossnya dalam pertemuan ini. Memang, ada pertemuan tertentu yang mengijinkan Notaris membawa pegawainya. Biasanya, ini terjadi pada Notaris yang menjadi pembicara. Sang pegawai dibawa untuk membantunya menayangkan makalah di OHP. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Nah, penampilan yang sederhana ini seringkali menimbulkan celetukan di kalangan teman-teman baik saya. Seperti ketika saya menemani kawan saya signing di kantor pemasaran Summarecon beberapa waktu lalu. Masih ingat kan postingan saya &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/08/kamu-seperti-itu-gak-bagian-ii.html" target="_blank"&gt; KAMU SEPERTI ITU GAK? &lt;/a&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, teman saya bilang begini : "Nah, seharusnya kamu kayak gitu, Fan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuh, gak janji deh. Gue disuruh pake cincin segede bagong gitu? Terus, antingnya panjang gitu. Pake eye shadow pula. Bukan gue banget gitu lho." Ujar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya tertawa geli mendengar jawaban saya. Kami berdua pun ngerumpiin asesoris sang ibu Notaris itu. Well, beberapa teman saya yang lainpun seperti itu penampilannya. Malah, seorang sobat saya yang juga seorang Notaris, selalu menyiapkan asesorisnya dalam sebuah kantong plastik bening. Setiap kali dia pergi signing atau pertemuan Notaris, pasti asesorisnya yang serba lengkap itu dikenakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua serba senada dan sewarna. Mulai dari cincin, kalung, anting, hingga warna baju dan tas yang ia kenakan. Saya sampai pusing melihatnya. Ini mau signing atau ke pesta sih? Kalau saya sih lebih suka mengecek ulang akte yang akan saya bacakan di depan klien atau materi yang akan disampaikan di acara pertemuan Notaris ketimbang ribet bawa-bawa asesoris lalu mengenakannya di dalam mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boro-boro deh sempet mikirin mesti pake cincin apa, kalung model apa, sepatu warna apa. Yang ada di kepala saya, adalah pekerjaan beres, pembayaran fee lancar. He he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi saya memang cenderung maskulin dalam berpenampilan. Gak heran, kalau banyak orang kecele ketika bertemu dengan saya. Soalnya, tidak ada tampang Notaris sih. Hmm....mungkin saya memang lebih cocok jadi Cerpenis ya? Secara saya memang suka berpenampilan sederhana. Kalau boleh nih, mau rasanya pakai jins dan T-shirt. He he he....&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3774948602042867147?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3774948602042867147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3774948602042867147&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3774948602042867147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3774948602042867147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/penampilannya-mesti-seperti-ibu-itu.html' title='PENAMPILANNYA MESTI SEPERTI IBU ITU'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5294272916802497628</id><published>2009-08-14T14:26:00.003+07:00</published><updated>2009-08-14T14:36:43.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KAMU SEPERTI ITU, GAK? (Bagian II)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;"Tergantung juga sih. Kadang saya bisa jutek juga kalo klien rewel. Tapi, liat dulu rewelnya kayak apa. Kalo masih dalam batas wajar sih, saya gak ambil pusing. Hanya saja, biasanya saya lebih suka diam kalau klien bawel. Biarkan aja dia ngoceh ngalor ngidul, nanti juga stop sendiri. Selama gak ada pertanyaan, gak usah ngomong apa-apa. Klien bawel biasanya akan makin bawel kalo kita memberi jawaban panjang lebar. Cukup jawaban singkat dan padat." Itu jawaban saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Luckily," lanjut saya. "Saya jarang ketemu klien yang secerewet elo." Kata saya sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pertanyaan teman saya itu membuat saya instropeksi diri. Apakah selama ini saya sudah menjadi NOtaris yang ramah? Atau...sebaliknya, saya cenderung jutek sama klien? Entahlah! Saya toh gak bisa menilai diri sendiri.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tapi, saya akan berusaha untuk menjadi Notaris yang ramah dan tidak sombong. Sebab, bagaimanapun Klien adalah Raja. Tanpa mereka, siapa yang akan membuat dapur saya ngebul? Ramah dan tetap berpegang pada prinsip serta aturan hukum. Ramah tapi tegas. Semoga saya bisa selalu bersikap seperti itu. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5294272916802497628?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5294272916802497628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5294272916802497628&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5294272916802497628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5294272916802497628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/kamu-seperti-itu-gak-bagian-ii.html' title='KAMU SEPERTI ITU, GAK? (Bagian II)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4831975779127218073</id><published>2009-08-12T13:18:00.003+07:00</published><updated>2009-08-12T13:49:35.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DIARY'/><title type='text'>KAMU SEPERTI ITU, GAK? (Bagian I)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Minggu lalu, saya nemenin seorang teman yang ingin tanda tangan akte di depan Notaris dalam rangka pembelian sebuah rumah di daerah Gading Serpong. &lt;br /&gt;Dia minta ditemani karena merasa gak ngerti dengan tetek bengek akte notaris. Plus takut dikibulin. Beberapa hari sebelumnya dia memang telpon ke saya agar saya menyediakan waktu untuk nemenin dia. Dan karena Gading Serpong tuh jauh bangeeet dari rumah saya, maka seharian deh saya pergi. Sampai gak sempet ngurusin blog dan ditanyain sama dede &lt;a href="http://cah-cikrik.blogspot.com" target="_blank"&gt; Buwel &lt;/a&gt;. "Mbak Fanny kemana sih?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang susah nih jadi seleb blogger (halaahh..soknya), gak nongol sehari aja dikangenin orang sekampung. Gubraakk....air laut siapa yang asinin? Sombong pisan euy! Hi hi hi.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, back to the topic. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tanda tangan akta dilakukan di kantor pemasaran Summarecon karena rumah yang dibeli teman saya ini memang milik grup nya Summarecon, sebuah perusahaan developer yang bonafide. Kami ke sana naik taksi (secara gak ada supir dan kami berdua gak mahir nyetir dan...teman saya baru aja menjual mobilnya buat nambahin duit beli rumah).  Tiba di sana, ibu Notaris dan pihak marketing Bank (belinya kredit sih) sudah menanti. Maklum, naik taksi jadi waktunya gak bisa on time karena taksinya datang telat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pake acara telat, teman saya rewel pula. Semua dokumen termasuk akta dibawah tangan seperti : PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) dan surat-surat lainnya dari pihak Bank, pihak developer dibaca satu demi satu. Bagus sih! Itu berarti teliti sebelum teken. Tetapi, sang ibu Notaris sudah seperti cacing kepanasan karena dia merasa teman saya bertele-tele. Tanya ini itu. Mana ada satu pasal yang - menurutnya - bertentangan dengan kenyataan. Rumah yang ia beli sudah siap huni tetapi ada pasal yang mencantumkan, rumah akan diserahkan 8 bulan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya pun protes. Minta direnvoi (itu istilah hukumnya, bahasa sehari-harinya di-revisi). Sementara dari pihak developer merasa itu sudah standar jadi gak bisa berubah. Kalo toh mau berubah harus tanya dulu ke Divisi Legal dan perlu approval dari manajemen. Mereka bilang, rumah akan diserahkan dalam waktu yang diperjanjikan. Tidak akan selama itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu aja teman saya keukeuh minta diganti karena secara lisan, dia dijanjikan akan bisa menempati rumah 2 bulan lagi. Nah, kalo ditulis 8 bulan lagi, kan gak sesuai banget. Nanti, tau-tau 8 bulan lagi baru bisa menempati rumah itu. Benar. Semua yang dikatakan teman saya benar. Tapi, masalahnya..dimana-mana yang namanya perjanjian baku itu ya seperti itu. Gak semudah membalikkan telapak tangan untuk menggantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, setelah alot berdebat, sang marketing dari pihak developer menjanjikan akan memberikan semacam surat pernyataan tentang jangka waktu penyerahan rumah. Baru deh teman saya tenang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayapun diminta dia untuk membantu baca pasal demi pasal. Aduuh! Mabok deh! Saya bilang ke teman saya : "Lain kali harus minta draft dulu kalo elo gak yakin. Kasihan tuh bu Notaris dah nunggu lama. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya cuma nyengir. Saya pun terpaksa membaca kilat pasal-pasal yang ada. &lt;br /&gt;Tapi sebenarnya gak ada gunanya juga saya baca karena kalo toh mau protes, gak bisa langsung disetujui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan...yang namanya developer pasti sudah punya perjanjian standar yang susah dikutak katik. Apalagi, rumah yang dibeli bukan rumah berharga milyaran rupiah. Mana mau mereka merubah pasall-pasal yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, teman saya percaya ketika saya bilang gak ada pasal yang bisa merugikan dirinya. Yang penting, obyek rumah dan harga jual sudah benar sesuai yang diperjanjikan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan perjanjian dengan developer selesai. Sekarang, urusan dengan akta Perjanjian Kredit dan akta Pemberian Jaminan (yang dibuat oleh Notaris) karena rumah dibeli dengan meminjam uang dari Bank. Bu Notaris yang ramah tapi sedikit galak itupun tampak sudah gak sabar banget. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sampai bilang :"Biasanya untuk waktu 1 jam, saya bisa menghandel 5 akta. Ini sudah satu jam lebih lho." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya sih gak judes tapi...ada nada keki sedikit. He he he....&lt;br /&gt;Saya bisa memakluminya karena saya kan juga Notaris. Lagipula, waktu  bagi seorang Notaris laris manis  tentunya amat berharga. Maka, saya senggol lengan teman saya dan minta dia untuk tanda tangan akta Notariil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar teman saya ini BIBI TITI TELITI, lagi-lagi dia membaca pasal demi pasal dalam akta notariil tersebut. Sang bu Notaris terpaksa mengambil alih. Dia membacakan inti dari pasal demi pasal dengan cepat disertai penjelasan sesingkat mungkin. Soalnya, kalo teman saya yang baca, bisa-bisa makan waktu 2 jam lagi. He he he....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, dalam akad kredit dengan Bank yang berkaitan dengan jual beli rumah, akta notariil memang gak dibacakan secara lengkap. Cukup point-point penting aja. Tapi, karena teman saya ini orangnya gak percayaan alias curigaan, maka akta dibacakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai tanda tangan akta, teman saya pun berbisik pada saya :&lt;br /&gt;"Notarisnya gak ramah. Dia pasti keki berat sama aku. Udah telat datang, bawel pula. Kamu seperti itu, gak? Kan kamu Notaris."&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4831975779127218073?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4831975779127218073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4831975779127218073&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4831975779127218073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4831975779127218073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/kamu-seperti-itu-gak-bagian-i.html' title='KAMU SEPERTI ITU, GAK? (Bagian I)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8495157244039457770</id><published>2009-08-10T14:48:00.003+07:00</published><updated>2009-08-10T15:04:30.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>BERDOA DAN BERHATI-HATI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Pekerjaan Notaris memang bukan pekerjaan yang mudah. Seperti yang pernah saya jelaskan dalam postingan yang telah lalu. Ada tanggung jawab yang cukup berat. Karena itu, selain harus berhati-hati dalam menghadapi klien, saya juga selalu berdoa mohon perlindungan dariNya agar semua klien saya rukun dan damai. Sebab kalau mereka berselisih, saya juga yang repot. Sewaktu-waktu bisa dipanggil sebagai saksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saja, saya ditelpon kakak dari klien yang kemarin buat Keterangan Waris di kantor saya. Sang kakak - sebut saja bapak C - menanyakan apakah salinan aktanya sudah selesai? Saya bilang, sudah sejak hari Jum'at kemarin tetapi belum diambil adiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, bapak C ini takut kalau salinan akta sudah diambil maka adiknya bisa mengambil semua uang milik almarhumah ibu mereka yang disimpan di Bank. Lalu saya jelaskan bahwa untuk masalah pengambilan uang di Bank tidak cukup hanya berdasarkan Keterangan Waris saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keterangan waris hanya disebutkan siapa saja ahli waris yang berhak dan berapa bagian mereka. Tentu semuanya dibuat berdasarkan hukum waris yang berlaku.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Biasanya, pihak Bank memang akan meminta surat kuasa dan persetujuan dari para ahli waris lainnya. Tidak bisa salah satu ahli waris yang ambil, karena jumlah ahli warisnya kan lebih dari 1.  Kalau ada 4 orang ahli waris, yah...semuanya mendapatkan bagian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi,bila yang lain tidak sempat datang ke Bank, bisa dengan surat kuasa. Hanya saja, semua kembali pada peraturan dari pihak Bank. Apakah bisa dengan surat kuasa atau semua ahli waris harus datang untuk mengambil semua uang milik almarhumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dijelaskan, bapak C akhirnya mengerti prosedurnya kira-kira seperti apa. &lt;br /&gt;Tapi...saya mencium aroma perebutan harta disini. Mungkin, si bapak C takut kalau adiknya ini mengambil semua uang warisan dari ibu mereka. Padahal, sang adik pernah cerita pada saya kalau salah satu kakak iparnya ingin mengambil uang peninggalan ibunya. Apakah kakak iparnya ini adalah isteri bapak C? Entahlah. Saya hanya menduga saja dan tentunya berharap mereka tidak bertengkar soal pembagian uang peninggalan ibu mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab kalau sampai ada ribut-ribut, saya juga yang pusing. Duh, kalau untuk yang satu ini saya cuma bisa berdoa saja. Toh, saya sudah membuat akte Keterangan Waris sesuai ketentuan yang berlaku dan data yang diberikan para pihak. Asli surat-surat mereka juga sudah saya lihat. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8495157244039457770?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8495157244039457770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8495157244039457770&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8495157244039457770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8495157244039457770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/berdoa-dan-berhati-hati.html' title='BERDOA DAN BERHATI-HATI'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-2676836610092839231</id><published>2009-08-08T18:43:00.003+07:00</published><updated>2009-08-08T18:53:53.457+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>SABAR ITU ORDER</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Masih ingat cerita tentang &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/08/klien-sombong.html" target="_blank"&gt; KLIEN SOMBONG &lt;/a&gt;? Waktu itu, saya berusaha tetap sabar menghadapi kesombongannya. Ternyata, kesabaran itu membuahkan hasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, dia datang bersama 2 orang saksi (yang saya minta) untuk tanda tangan akta Keterangan dari para ahli waris. Kali ini dia tak banyak bicara. &lt;br /&gt;Setelah saya bacakan aktanya dan jelaskan kepada semua penghadap, mereka langsung oke dan tanda tangan. Bahkan, ketika saya tanyakan apakah ada yang belum dimengerti? Atau mau ditanyakan? Mereka bilang sudah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, seperti biasa...kebanyakan klien hobi ingkar janji. Termasuk si klien sombong ini. Ketika saya bilang, salinan akta bisa diambil besok pagi, dia janji akan datang ambil salinan itu sekalian membayar biaya akta. Ternyata...sampai hari ini dia gak nongol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasuds, saya sih hanya bisa bersabar. Toh, dia perlu salinan akta itu. So, dia pasti akan datang mengambilnya. Walaupun belum tahu kapan. Tentu saja, cash and carry. Bayar dulu baru bisa ambil. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Well, Sabar itu subur. Sabar itu berarti ORDER. Semoga saya selalu diberi kesabaran dalam menghadapi karakter klien yang aneh-aneh. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-2676836610092839231?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/2676836610092839231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=2676836610092839231&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2676836610092839231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/2676836610092839231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/sabar-itu-order.html' title='SABAR ITU ORDER'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7362162539439811992</id><published>2009-08-02T18:32:00.002+07:00</published><updated>2009-08-02T18:51:14.548+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN SOMBONG</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Beberapa waktu lalu, ada seorang Klien yang datang ke kantor dan minta dibuatkan akta Keterangan Waris. Ibunya sudah meninggal dunia dan ia meminta agar dibuatkan akte tersebut. Saya pun memberitahukan surat-surat apa saja yang harus ia bawa bila ingin membuat akte tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga memberitahukan syarat-syaratnya seperti : harus ada 2 orang saksi dari keluarga almarhumah yang sebaya usianya misalnya : kakak (kalau masih hidup), adik atau sahabatnya. Karena untuk buat akte ini memang gak cukup hanya dengan 2 orang saksi dari kantor notaris yang notabene adalah pegawai saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi harus ada saksi lain yang menyatakan bahwa apa yang diterangkan oleh para ahli waris almarhum adalah benar. Karena akte keterangan waris adalah akta yang dibuat atas permintaan para ahli waris dari almarhum, yang berisi : siapa-siapa saja ahli waris almarhum. Tentu saja untuk membuktikan bahwa ahli waris almarhum adalah si A, si B dan si C perlu surat-surat antara lain :akte lahir, akte kawin almarhum, Ganti nama dan WNI (buat yang warga keturunan), ktp, akte kematian almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tentu saja Notaris tidak bisa percaya dengan surat-surat itu saja (walaupun asli surat-surat tersebut diperlihatkan kepada Notaris). Untuk itu butuh 2 orang saksi yang cukup kenal dengan almarhum. Hal ini untuk menguatkan akte yg dibuat sehingga jika di kemudian hari ada yang menggugat isi akta tersebut, Notaris bisa menunjukkan bahwa : selain sudah melihat surat-surat asli, ada 2 orang saksi yang membenarkan keterangan dari para ahli waris (yang menghadap notaris) yang menerangkan bahwa mereka memang ahli waris dari almarhum adalah benar. Kan bisa aja ahli waris berbohong dengan memalsukan surat-surat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dengan adanya 2 orang saksi lagi, maka kalau terbukti keterangan dari para ahli waris tidak benar,maka 2 orang saksi itu ikut bertanggung jawab karena mereka berani menyatakan bahwa APA YANG DITERANGKAN AHLI WARIS KEPADA NOTARIS BENAR ADANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika saya minta agar pada saat teken akta nanti 2 orang saksi itu harus hadir, si klien minta agar surat-surat 2 orang saksi itu cukup KTP aja. Gak usah minta ganti nama dan surat WNI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya tetap minta surat ganti nama dan surat WNI. Lalu apa jawabnya? &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Percaya deh, bu....2 orang saksi itu saudara kandung mama saya. Dan mereka orang-orang terhormat jadi gak mungkin nipu ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamaak! Iya saya tahu, mereka orang terhormat bahkan saksi-saksi itu banyak yang stay di luar negeri. Tapi...masalahnya bukan terhormat apa enggak. Tajir atau enggak. Masalahnya, saya kan harus punya bukti cukup kuat mengenai identitas mereka. &lt;br /&gt;KTP saja tidaklah cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, memangnya kalo orang-orang terhormat dan kaya raya gak bisa menipu? Gak bisa berbuat jahat? Sombong sekali nih klien. Mentang-mentang tajir dan punya jabatan Direktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, karena klien adalah Raja, saya pun menjelaskan dengan baik-baik bahwa syarat identitas saksi harus lengkap. Untunglah sang Klien akhirnya mau mengerti dan berjanji akan melengkapi surat-surat dari 2 orang saksi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....memang tidak mudah melayani Klien. Lebih mudah menyerap ilmu hukum daripada menghadapi karakter klien yang aneka ragam. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7362162539439811992?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7362162539439811992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7362162539439811992&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7362162539439811992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7362162539439811992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/08/klien-sombong.html' title='KLIEN SOMBONG'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5976903610416011204</id><published>2009-07-28T12:56:00.003+07:00</published><updated>2009-07-28T13:07:00.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN DI KADALIN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Hari ini Klienku si Bapak J yang ingin membuat TDP datang lagi. Dia membawa data yang kurang. Lalu, dia cerita tentang staf kelurahan yang sudah membantunya membuat domisili dan SIUP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata untuk buat domisili dan SIUP dia diminta biaya 3 juta rupiah. Lalu, untuk akte pendirian Cv diminta 1,5 juta. Padahal, aku cuma minta Rp.750.000,-. Berarti staf kelurahan itu telah menipu dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantesan, staf Kelurahan itu datang ke kantorku, minta tolong dengan sangat agar mau membuatkan akte pendirian CV Bapak J. Katanya, dia cuma nolongin. Tapi gak ambil untung. Lalu fee aktaku ditawar sampai 400 ribu. Jelas, aku tolak. Aku bilang, feenya gak bisa dikurangi sejauh itu. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akhirnya, dia setuju dengan harga 750 ribu. Lalu aku minta agar pemilik CV datang untuk ttd akta di depanku. Maka si Bapak J yang ternyata pemilik CV itu datang untuk teken di kantorku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya...setelah akta selesai, yang ambil salinan akta bukan Bapak J. Tapi staf kelurahan itu. Yang bayar fee akta juga dia. Katanya, Bapak J udah nitip duit ke dia. Rupanya, dia gak mau Bapak J tahu kalau dia sudah ambil untung gede. Bayangin, aku cuma minta 750 ribu, dia minta ke Bapak J 1,5 juta. Bener-bener keterlaluan tuh staf Kelurahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung aja deh berapa keuntungan yang ia dapat. Domisili, Siup dan akta CV masing2 diminta 1,5 juta. Total 4,5 juta. Padahal, mestinya gak semahal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak J bilang, kapok minta tolong orang kelurahan lagi. Mending juga langsung ke kantor Notaris aja. Ya iyalah, secara Notaris kan ada sumpah jabatan dan ada peraturannya. Kalo ada Notaris nipu Klien kan bisa kena sanksi. Lagian, bisa merusak nama baik si Notaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran buat teman-teman, kalau mau ngurus ijin-ijin sebaiknya minta bantuan jasa Notaris atau..kalau mau mengurus sendiri yah..harus cerdik, jangan sampai di KADALIN oleh oknum-oknum gak ber TGJWB.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5976903610416011204?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5976903610416011204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5976903610416011204&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5976903610416011204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5976903610416011204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klien-di-kadalin.html' title='KLIEN DI KADALIN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3438142021644527486</id><published>2009-07-24T18:20:00.001+07:00</published><updated>2009-07-24T18:26:10.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN DUDUZ</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Kenapa ya beberapa hari ini saya ketemu Klien neko-neko mulu? Mungkin kesabaran saya lagi diuji. Kemarin malam, klien yang lagi ada masalah karena kerjasamanya di bidang distributor air galon sedang dalam konflik. Dia meminjamkan uang sebesar 20 juta kepada rekan bisnisnya. Tanpa kuitansi pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lucu, dia mengkaitkan persoalan utang piutangnya itu dengan perjanjian kerjasama yang saya buat. Padahal dalam perjanjian tak disebutkan kalau dia meminjamkan sejumlah uang kepada rekan bisnisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dia sama sekali gak punya bukti kalau rekannya itu berhutang pada dia. Yah, susah dong! Anehnya lagi, dia malah nanya ke saya, yang buat perjanjian kerjasama ini siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jawab aja : "Ya, sayalah. Kan saya Notarisnya. Tapi...saya buat akta ini bukan asal ngarang. Saya buat berdasarkan kemauan yang disampaikan para pihak. Waktu saya bacakan akta ini dan jelaskan pada ibu, kan ibu bilang sudah mengerti. Bahkan, saya sudah tanya, apakah benar maunya sepert ini? Ibu jawab iya."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sang klien menjawab : "Iya, tapi...waktu itu saya gak ngerti masalah bisnis air galon." &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;"Kalo gak ngerti, kenapa ibu iya-iya aja waktu saya tanya? Kenapa ibu gak ngomong? Kalo ibu sudah tanda tangan berarti ibu sudah setuju dengan isi perjanjian ini." Saya mencoba menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, dia dan rekan bisnisnya itu mau ketemu jam 12 siang di kantor saya untuk membicarakan perjanjian mereka. Mungkin mau dibatalkan. Tetapi, ketika jam 12 tiba mereka tidak datang. Saya pun istirahat makan siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang makan, tiba-tiba dia telpon. Staf saya bilang, kalau saya sedang istirahat makan. Eh, masih ngeyel. Dia cerita kepada stafnya kalau adiknya sedang ribut dengan rekan bisnisnya. Sampai pak RT manggil polisi. Terus, dia nanya apakah saya ada rencana keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebel banget kan! Urusan adiknya ribut kok mesti cari saya. Pasti mereka lagi meributkan utang 20 juta yang belum dibayar rekan bisnisnya. Lha, soal itu kan gak dicantumkan dalam perjanjian. Kenapa saya harus dibawa-bawa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi..sampai sore hari, dia nggak telpon saya lagi. Teman saya mengusulkan untuk tidak meladenin klien seperti ini. Saya tidak bisa dipanggil sebagai saksi kalau tidak ada surat panggilan dari polisi. Apalagi, saya sama sekali tidak tahu menahu masalah hutang 20 juta itu. Itu urusan pribadi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, saya tahu dia panik dan ingin uangnya kembali. Tetapi jangan seenak udelnya dong. Saya bukan pengacara. Untuk menangani kasusnya, dia harus cari pengacara. Karena bukan wewenang saya untuk ikut campur urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuh,padahal kemarin saya sudah jelaskan agar dia menempuh cara damai. Pakai pengacara kan mahal. Utang 20 juta belum tentu kembali. Sementara, biaya pengacara mungkin lebih dari itu. Belum lagi kalau berurusan dengan police. Tau sendirilah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huuuh, cape banget deh ngadepin Klien dududz kuardat kayak gini. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3438142021644527486?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3438142021644527486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3438142021644527486&amp;isPopup=true' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3438142021644527486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3438142021644527486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klien-duduz.html' title='KLIEN DUDUZ'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4669299690441492866</id><published>2009-07-24T11:14:00.004+07:00</published><updated>2009-07-24T11:23:16.913+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIEN RESEH</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Pagi-pagi udah ditelponin klien. Katanya,dia minta revisi akta yang kemarin udah jadi salinannya dan sudah dikirim ke kantornya. Duuuh, mau maraaaah deeeh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu dibacakan, enggak protes. Semua oke. Giliran udah jadi, minta revisi. Kan aku mesti ngeprint ulang dan minta paraf dia lagi. Emang segampang itu apa revisi akta yang udah jadi.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kejadian seperti ini bukan sekali dua kali aku alami. Mau ngomel juga enggak bisa. Karena Klien itu kan raja. So....aku harus tetap bisa senyum aja meladenin klien reseh macam begini. Duuh, sabarrrr..sabarrr....&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4669299690441492866?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4669299690441492866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4669299690441492866&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4669299690441492866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4669299690441492866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klien-reseh.html' title='KLIEN RESEH'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-4396938187705780570</id><published>2009-07-23T17:30:00.002+07:00</published><updated>2009-07-23T18:03:01.179+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIENKU MALANG</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Seorang Klien yang bikin bete (karena janji mau datang jam 11 tapi ditunda mulu)  akhirnya nongol jam 4 sore ketika saya sedang mandi. Secara saya udah kepanasan jadi mandinya cepat. Pake keramas pulak. Terpaksa deh, dia nungguin saya selesai mandi. He he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyisir kilat dan dengan rambut yang masih basah, saya menemui dia. Ternyata dia (sebut saja namanya ibu A) sedang mengalami masalah dengan rekan bisnisnya, (sebut saja Bapak S). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak S ini juga klien saya. Bapak S, ibu A dan Bapak C (suami ibu A) pernah tanda tangan akta Perjanjian Penunjukan Distributor beberapa waktu yang lalu di kantor saya. Bapak S selaku Direktur dan pemilik merek sebuah produk air minuman kemasan (merek X) telah menunjuk Ibu A dan Bapak C sebagai distributor untuk produk minumannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kerjasama mereka tidak bisa dilanjutkan lagi karena produk air minum Bapak S mutunya tidak bagus. Sering kotor sehingga customer ibu A dan Bapak C berhenti berlangganan air minum. Tentu saja ibu A dan Bapak C rugi dan tidak bisa memasok sejumlah galon air lagi. Padahal, mereka janji pada Bapak S akan memasok sekian ratus galon setiap bulannya.  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Kondisi ini membuat Bapak S ingin memutuskan kerjasama mereka secara sepihak. Ibu A dan Bapak C protes tetapi Bapak S tetap ngotot ingin mengakhiri kerjasama. Padahal ibu A dan Bapak C sudah berbaik hati meminjamkan sejumlah uang dan kendaraan kepada Bapak S. Mereka memang teman baik dari Bapak S. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa jawab Bapak S ketika ibu A minta kebijakan Bapak S agar mau membayar uang 20 juta rupiah sebagai ganti rugi karena ibu A ingin menyerahkan para pelanggannya kepada Bapak S, 'SAYA GAK MAU TAHU. SAYA GAK MAU BAYAR. POKOKNYA PERJANJIAN KITA HARUS DIAKHIRI. SAYA MAU JALANIN USAHA INI SENDIRI.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, kasihan banget tuh ibu A. Tetapi, kalau Bapak S tidak mau nerusin lagi ya susah. Saya hanya bisa mengusulkan mereka untuk menempuh jalan damai. Sebab kalau ibu A ngotot menuntut Bapak S, posisinya juga lemah. Wong, dia cuma distributor. Sedangkan Bapak S adalah pemilik merek air minum itu. Dia berhak menunjuk distributor lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah, kalau sampai dibawa ke Pengadilan, ibu A harus bayar sejumlah uang untuk jasa pengacara. Wah, bisa lebih dari 20 juta tuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, saya hanya bisa menyarankan agar ibu A coba bicara baik-baik dengan bapak S untuk mencari win win solution. Katanya sih, bapak S akan menemui saya besok untuk membicarakan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuh, saya kasihan melihat ibu A dan Bapak C. Apalagi, menurut ibu A, sepertinya Bapak S enggak  mau memahami kesulitan mereka. Padahal, ketika Bapak S sakit dan hendak pinjam uang, mereka langsung transfer sejumlah uang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah kalau terlalu percaya sama orang. Padahal sebelum melakukan kerjasama ini, mereka sudah diperingati oleh teman-teman mereka bahwa Bapak S licik dan kejam. Tetapi mereka tetap tak peduli. Tetap saja bekerja sama dengan Bapak S. Mana bapak C sekarang sedang stroke dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, ibu A sebagai isterinya yang maju menghadapi Bapak S.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, ketika mendengar cerita klien yang sedang menghadapi masalah, saya hanya bisa geleng kepala. Dan..ketika saya tak bisa membantunya lebih banyak, saya hanya bisa menyebut nama mereka dalam doa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, hanya dengan doa saja, bapak S bisa terketuk hatinya untuk meringankan beban ibu A. Soalnya, bapak S keliatannya memang punya banyak masalah keuangan dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pernah datang dengan saudara-saudaranya untuk tanda tangan jual beli saham tetapi batal karena ternyata dia punya hutang kepada saudaranya. Dan hutang tersebut belum lunas. So, saudaranya tidak mau menjual sahamnya kecuali hutangnya sudah lunas dan uang pembelian saham sudah ditransfer ke rekeningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, saya lihat sendiri betapa kerasnya Bapak S. Dia marah-marah dan  membentak saudaranya. Saudaranya, seorang wanita gendut dan galak juga marah-marah.&lt;br /&gt;Saya pun hanya bisa menengahi dan meminta mereka untuk menyelesaikan dulu masalah hutang piutang itu. Setelah beres, boleh datang lagi untuk tanda tangan akta jual beli saham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hingga hari ini, mereka enggak datang. Padahal, waktu itu saya sudah membuat draft akta jual beli sahamnya. So, kerugian saya nambah deh. Sudah cape-cape bikinin aktanya, eh..enggak jadi teken. Waktu dan tenaga terbuang percuma. Ditambah dengerin mereka ribut-ribut di kantor saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga besok Bapak S tidak datang untuk bikin keributan lagi. Dan...saya berharap bisa mengetuk hati bapak S untuk bersikap adil terhadap ibu A dan Bapak C. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-4396938187705780570?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/4396938187705780570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=4396938187705780570&amp;isPopup=true' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4396938187705780570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/4396938187705780570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klienku-malang.html' title='KLIENKU MALANG'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-7375099759838510378</id><published>2009-07-23T11:57:00.002+07:00</published><updated>2009-07-23T12:07:52.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KLIEN'/><title type='text'>KLIENKU BINGUNG</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Baru saja kedatangan klien yang lagi bingung. Beberapa waktu lalu dia minta dibuatkan akte CV. Sedangkan untuk pengurusan SIUP, domisili, NPWP, dia minta bantuan seorang staf kelurahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua surat-surat ijin tersebut memang sudah selesai tetapi...hari ini dia datang dengan muka kusut karena dari pihak Bank minta TDP (Tanda Daftar Perusahaan). Kalau enggak ada TDP, dia tidak bisa buka rekening atas nama CV nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kutanyakan, kenapa tidak minta tolong sama orang Kelurahan yang ia kenal. Ternyata, dia bingung karena orang Kelurahan itu sepertinya enggak bisa bantu buat TDP. Aneh banget! &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Biasanya, kalau ada SIUP pasti ditanyakan oleh Instansi yang mengeluarkan SIUP tersebut, apakah mau dibuatkan TDP sekalian? Tapi dalam kasus klienku ini, sudah ada SIUP tetapi TDP tidak dibuat sekalian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa gerangan? Apakah SIUP nya 'nembak'? Karena ketika ditanya lagi, saat proses pembuatan SIUP, tidak ada survei ke lokasi kantor CV nya. Setahu saya, kalau mau buat SIUP dan TDP, pasti ada survei lokasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sekarang lebih ketat prosedurnya. Enggak bisa sembarangan kayak dulu. Harus survei dll. Saya pun hanya bisa menduga, jangan-jangan ini SIUP nembak. Lha, kalau SIUP nembak apakah bisa dibuatkan TDP nya? Saya harus tanyakan dulu pada instansi yang mengeluarkan TDP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan Klien saya. Dia bingung karena pihak Bank mendesak agar TDP segera jadi. Kalau enggak, dia gak bisa melakukan transaksi karena harus ada rekening atas nama CV di Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya bisa menasihatkan agar berhati-hati bila mengurus surat-surat ijin. Lebih baik tanya pada yang mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja saya bisa membantu klien ini. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-7375099759838510378?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/7375099759838510378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=7375099759838510378&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7375099759838510378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/7375099759838510378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/klienku-bingung.html' title='KLIENKU BINGUNG'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-403402301424849637</id><published>2009-07-22T16:37:00.004+07:00</published><updated>2009-07-22T17:03:50.422+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>TERLALU IDEALISKAH SAYA?</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Bagi teman-teman yang stay di Jakarta dan pernah ke daerah Kelapa Gading, coba deh perhatikan...ada berapa banyak plang Notaris di sepanjang jalan Boulevard Raya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...sudah kayak resto KFC aja. Dimana-mana ada. Enggak heran, kalau Notaris jaman sekarang enggak semakmur Notaris jaman dulu. Secara kompetitornya lebih buanyaaak. Saking buanyaknya - selain banting harga - banyak Notaris yang tidak lagi mengindahkan norma-norma dan UU Jabatan yang berlaku. Termasuk tidak peduli dengan Kode Etik. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Enggak heran pula, kalau kami Notaris muda seringkali dituduh telah menjatuhkan harga/fee akta dan banyak Notaris muda yang kena kasus pelanggaran (ringan maupun berat). Padahal, enggak semua Notaris muda seperti itu. Contohnya, saya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau saya mau melanggar sedikit aja, mungkin saya sudah beli ruko mewah untuk kantor saya.Suatu impian yang entah kapan akan tercapai. Tapi karena saya lebih memilih apa kata hati nurani, maka saya harus bertahan dengan berkantor di atas loteng rumah ortu saya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara beberapa kawan saya sudah menjadi Notaris muda yang tajir secara mereka berani mengambil order-order nyerempet, dan dengan fee yang murah meriah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setiap orang punya prinsip berbeda. Bagi saya, lebih baik selamat dunia akhirat ketimbang kaya raya di dunia tetapi meninggalkan banyak dosa ketika sudah almarhumah nanti.  Saya juga enggak mau hidup tak tentram, tidur tak nyenyak, makan tak enak gara-gara BERANI MELANGGAR ATURAN dan Kode Etik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm....jangan-jangan mereka yang BERANI itu memang bisa cuek bebek kwek-kwek meskipun sudah melanggar kiri kanan. Entahlah! Atau...hati nurani saya yang terlalu keras bersuara sehingga saya TAK PERNAH punya nyali untuk menyimpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, saya sering menolak order dan seorang teman sampai bilang : ELO GAK DOYAN DUIT SIH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabodo teuing akh! Saya lebih memilih hidup sederhana ketimbang kena masalah di kemudian hari. Kan enggak lucu, kalau saya sudah pensiun kelak tiba-tiba ada klien yang menggugat saya. Hiii....masa nenek-nenek digugat? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, mungkin saya memang terlalu idealis. Enggak realistis,dll. But, I don't care! &lt;br /&gt;Bagi saya ENOUGH IS ENOUGH. Yang penting, saya masih bisa bayar gaji pegawai dan biaya operasional kantor and....bayar inet buat ngeblog. He he he...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-403402301424849637?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/403402301424849637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=403402301424849637&amp;isPopup=true' title='13 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/403402301424849637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/403402301424849637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/terlalu-idealiskah-saya.html' title='TERLALU IDEALISKAH SAYA?'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-8952350641807529868</id><published>2009-07-19T19:16:00.002+07:00</published><updated>2009-07-19T19:34:37.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK ? (Bagian III)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Selain masalah tanggung jawab, sebagai Notaris saya juga diikat oleh KODE ETIK dan UU JABATAN NOTARIS. Salah satu kode etik yang cukup membuat saya pusing adalah masalah FEE AKTA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali Klien saya bertanya, "Kok biaya akta di kantor ibu lebih mahal ketimbang biaya akta di kantor notaris C?" &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya tanyakan berapa biaya akta di kantor Notaris C, sang klien menjawab sekian ratus rupiah, saya pun sadar bahwa Notaris C tersebut sudah banting harga. Dan..yang namanya banting harga itu sebenarnya sudah melanggar Kode Etik Notaris. Karena para notaris sebenarnya dilarang untuk menetapkan harga terlalu murah/jauh dibawah standard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, mengingat persaingan begitu berat (karena kantor notaris sudah semakin menjamur), banyak rekan Notaris yang tidak peduli dengan Kode Etik. PERANG HARGA terjadi dimana-mana. Biasanya, hal ini dilakukan oleh Notaris baru yang ingin cepat dapat klien sehingga dia memasang tarif semurah-murahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya masih tergolong Notaris baru tetapi saya tidak suka dengan sistem banting harga. Karena saya berpikir jauh ke depan. Kalau fee akta terlalu murah, sementara tanggung jawabnya begitu besar, rasanya kok ya...gak seimbang. Iya, kalau klien yang menjadi para pihak dalam akta tidak ada sengketa di kemudian hari. Kalau ada dan saya dipanggil sebagai saksi. Wah, berat di ongkos dong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That's why, saya ogah banting harga. Kalau memberi diskon sih masih oke, asal masih dalam batas kewajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..saya paling sebel kalau ada klien yang suka membanding-bandingkan fee akta saya dengan Notaris yang banting harga. Susah menjelaskannya karena saya sudah memberi fee yang wajar (sesuai standard fee yang berlaku) tetapi...kalau ada Notaris lain yang berani menurunkan harga sedemikian rendahnya, saya bisa bilang apa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya biarkan saja Klien itu memilih. Sebab, saya tidak mungkin menurunkan fee saya sedemikian rendahnya. So,siapa bilang jadi notaris itu enak?&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-8952350641807529868?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/8952350641807529868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=8952350641807529868&amp;isPopup=true' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8952350641807529868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/8952350641807529868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/siapa-bilang-jadi-notaris-itu-enak_19.html' title='SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK ? (Bagian III)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-3658136880826515753</id><published>2009-07-18T12:25:00.002+07:00</published><updated>2009-07-18T12:50:33.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK? (Bagian II)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Sesuai janji saya di &lt;a href="http://notary-job.blogspot.com/2009/07/siapa-bilang-jadi-notaris-itu-enak.html" target="_blank"&gt;postingan kemarin&lt;/a&gt; maka saya akan beberkan BAGIAN MANA YANG GAK ENAK sebagai seorang Notaris. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;- TANGGUNG JAWAB SEUMUR HIDUP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benar kata Buwel dan Joe, semua pekerjaan ada resikonya tetapi bila pekerjaanmu harus kamu tanggung resikonya selama kamu bernafas, apa enggak SENTRESS? Catat! SENTRESS,bukan STRESS. Sentress tuh lebih gawat ketimbang Stress. Kata siapa? Yah, kata Fanny dong! Istilah dari mana tuh? Suka-suka saya aja. He he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Walaupun seorang Notaris sudah pensiun tetap aja masih bisa diminta &lt;/span&gt;pertanggungjawabannya kalau akta yang dibuatnya bermasalah atau para pihak dalam akta itu bermasalah. Harus dibedakan antara akta yang memang bermasalah dengan para pihak yang bermasalah. Nanti saya jelaskan ya. Sabar...Orang sabar dikasihi Tuhan dan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, gak peduli tuh mantan NOtaris udah tua renta, jalan udah bungkuk, kuping udah budi, gigi tinggal satu, tangan gemeteran, otak udah pikun tetep aja masih bisa dituntut oleh pihak yang merasa dirugikan, dan masih bisa dipanggil sebagai saksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja...kalo udah pikun, gimana dia ngasih kesaksian? Apa dia masih ingat? Itu aja sih yang masih jadi tanda tanya secara setahu saya belum ada mantan notaris pikun yang dipanggil sebagai saksi. He he he...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...berdasarkan hukum yang berlaku, selama dia masih hidup, dia tetap harus dan bisa diminta untuk bertanggung jawab. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;- DIPANGGIL SEBAGAI SAKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal para klien terlibat sengketa (berantem istilah kerennya) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembuat akta dan pihak yang menyaksikan para klien tanda tangan di hadapannya, tentu saja apabila suatu hari para klien terlibat sengketa maka Notaris bisa dipanggil sebagai saksi, baik oleh pihak kepolisian maupun pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba, apa gak cape kalo harus bolak-balik ke kantor polisi dan ke pengadilan? Hanya untuk menjadi saksi. Fee akta yang mahal jadi gak seberapa jika dibandingkan resiko yang satu ini. Ada waktu dan energi yang terbuang. Belum lagi, yang namanya sidang pengadilan itu kan suka molor. Kadang sudah nongol sesuai waktu yang dijadwalkan, tahu-tahu dibatalkan sidangnya. Entah hakimnya mendadak sakit atau hal-hal lain yang tak dapat diduga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, para penegak hukum di negara ini suka ajaib. Semula jadi saksi, tapi entah bagaimana caranya bisa jadi tertuduh. Gaswat! Gak heran, banyak Notaris sentress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalam hal akta yang dibuat salah/ngawur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih celaka lagi kalau akta yang dibuatnya salah/tidak sesuai peraturan yang berlaku/melanggar peraturan. Lalu, para klien jadi merasa dirugikan dan buntutnya menuntut sang Notaris. Weleh..weleh...siap-siap aja pailit. Apalagi kalo klien yang dirugikan itu sampai minta ganti rugi milyaran rupiah. Ke laut aje deh!&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-3658136880826515753?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/3658136880826515753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=3658136880826515753&amp;isPopup=true' title='16 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3658136880826515753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/3658136880826515753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/siapa-bilang-jadi-notaris-itu-enak_18.html' title='SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK? (Bagian II)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-5205390959779955893</id><published>2009-07-17T13:27:00.003+07:00</published><updated>2009-07-17T13:38:36.118+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CURHAT'/><title type='text'>SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK? (Bagian I)</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Paling sebel kalo ada orang bilang begini : "Wah, enak ya..jadi Notaris. Tinggal cap dan teken dapat duit segambreng!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuh, orang yang ngomong begitu pasti cuma liat luarnya aja. Gak ngerti sama jeroannya seorang Notaris. Dia pikir, tanda tangan para notaris itu gak ada resiko? Gak ada tanggung jawab? Cap Notaris juga bukan sekedar cap yang bisa dibuat di toko stempel di pinggir jalan. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Seandainya dia tahu ada tanggung jawab seumur hidup atas semua akta yang dibuat dan ditandatangani oleh seorang Notaris. Seandainya dia mengerti, untuk mendapatkan kewenangan menggunakan cap Notaris perlu sekolah (yang berarti perlu duit dan otak), ijin dari Pemerintah dan harus lulus test Kode Etik plus memenuhi persyaratan lainnya. Seandainya...yah...semuanya hanya SEANDAINYA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...baiklah..saya akan jelaskan satu demi satu. Saya akan paparkan sikon yang sebenarnya bahwa MENJADI NOTARIS ITU TAK SELALU ENAK. WHY??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca aja postingan selanjutnya ya. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-5205390959779955893?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/5205390959779955893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=5205390959779955893&amp;isPopup=true' title='15 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5205390959779955893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/5205390959779955893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/siapa-bilang-jadi-notaris-itu-enak.html' title='SIAPA BILANG JADI NOTARIS ITU ENAK? (Bagian I)'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5101799012227058402.post-151552975707531264</id><published>2009-07-16T13:28:00.002+07:00</published><updated>2009-07-16T14:15:53.730+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LAUNCHING'/><title type='text'>KATA SAMBUTAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Haloooo! Ketemu lagi dengan saya di blog yang ke....8! OMG! Si Fanny ini maniak blogging ya? He he he....Saya bikin blog baru lagi karena saya tertarik dengan template keren yang saya temukan beberapa hari yang lalu. Tetapi template keren ini nggak bisa saya pajangin di blog lain karena template blog lainnya baru saja diganti. Masa ganti lagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat juga berniat mengganti template blog Sang Cerpenis dengan template blog ini, tapi...sayang akh! Soalnya, template blog Sang Cerpenis udah keren. Yasuds, saya buat aja blog baru. Kebetulan, saya juga mau cerita banyak tentang dunia hukum yang saya geluti. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="justify"&gt;Hitung-hitung, bagi pengalaman dan ilmu hukum. Secara di blog ini, saya akan menulis tentang lika-liku pekerjaan saya sebagai Notaris. Semoga teman-teman menyukainya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5101799012227058402-151552975707531264?l=notary-job.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://notary-job.blogspot.com/feeds/151552975707531264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5101799012227058402&amp;postID=151552975707531264&amp;isPopup=true' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/151552975707531264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5101799012227058402/posts/default/151552975707531264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://notary-job.blogspot.com/2009/07/kata-sambutan.html' title='KATA SAMBUTAN'/><author><name>Sang Cerpenis bercerita</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://1.bp.blogspot.com/-VbMmJswM2H0/Tv3ENj6jmXI/AAAAAAAAD8s/TnTFOoLeYf4/s220/melancong%2Bke%2Bbelitung%2B172.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry></feed>
